Our Destiny

Our Destiny
Chef



Malam yang sunyi, membuat Giska terbawa suasana. Dia melamun jadinya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.


“ya sebentar “ katanya sambil berjalan menuju pintu kamarnya.


Setelah di buka, Giska mendapati ayahnya tengah tersenyum.


“Kenapa ?” kata Giska


“Ada tamu untukmu, sekarang kamu buatkan kopi ya untuknya “ kata ayah Giska


“ Kopi ? aduh…. Ayah ini apa sudah lupa aku tidak bisa membuat kopi ?” Kata Giska Dengan wajah cemasnya.


“ Sudahlah, sekalian belajar saja “ kata ayahnya Giska


Dengan terpaksa Giska berjalan ke dapur dan membuat kopi sementara ayah Giska menuju ruang tamu untuk menemani tamunya itu. Setelah membuat kopi, Giska membawa kopi buatannya dengan penuh cemas ke ruang tamu. Tapi ternyata tamu yang di maksud ayahnya itu adalah pria misterius yang tadi pagi mengamankan kunci motornya,pria yang bersama Maya di taman, pria itu benar-benar ada di rumahnya. Astaga kebetulan sekali.


Dengan perlahan Giska menghampirinya dan menyimpan kopi itu di depannya. Lalu Giska duduk di samping ayahnya. Terlihat ada rasa malas di wajahnya saat melihat Giska. Tapi Giska yang menyadari itu mencoba tegar.


“ Silahkan di minum kopinya. “ kata ayahnya Giska


“Ya paman. Terima kasih “ kata pria itu yang kemudian meminum seleguk saja dari kopi itu.


Sejenak pria itu terdiam dan seperti merasakan sesuatu.


“ Bagaimana rasanya ? Kopi buatan anak paman enak bukan ?” kata ayah Giska


“hm…(sambil tersenyum) enak sekali paman. Pas sekali takarannya. “ Kata Pria itu


Pria itu menatap pada Giska. Jantung Giska berpacu jadinya. Karena tak kuat menahan rasa malu-malu, ia pun menundukan kepalanya.


“ Giska, lelaki ini adalah anak dari sahabat ayah. Dia tinggal 6 km dari rumah kita ini. Dia adalah seorang chef juga seperti ayah. Dulu, waktu dia masih berumur 10 tahun, dia mengikuti ajang pencarian chef junior dan dia menjadi juara pertama. Maka dari itu, ia datang kemari atas permintaan ayah untuk mengajari mu memasak. “ kata ayah Giska


“ Apa ? “ Kata Giska Sentak sambil berdiri.


Sementara Pria itu pun merasa kaget tapi ia menyembunyikannya.


“Paman, maksud paman apa ? “ Kata pria itu


“ Ya ayah. Mengapa ayah melakukan ini tanpa memberitahuku dulu ?” kata Giska sambil duduk kembali


“ Paman bermaksud untuk meminta mu untuk menolong anak paman ini. Sudah lama paman tidak pernah mengajar dia. Paman sangat sibuk dengan pekerjaan paman. Sejak Ibunya meninggal, banyak hal yang terjadi pada Giska. Ia jadi tidak dewasa. Terutama ia tidak bisa memasak “ Kata ayahnya Giska.


“ Baiklah paman, aku sangat setuju kalau begitu. Wanita memang tidak baik kalau tidak bisa memasak. “ Kata pria itu


“ Tapi ayah apa itu tidak berlebihan ? Bukankah aku ini sudah bisa memasak ? Aku bisa memasak kok ! “ Kata Giska


“ Ah.. sudahlah tidak apa-apa. Ayah tinggal dulu ke belakang ya ? “ Kata ayahnya Giska


Kemudian ayahnya Giska pergi ke belakang, sementara Giska di biarkan berdua dengan pria itu. Keduanya kini saling diam. Giska pun diam-diam melirik pria itu, pria yang begitu tenang dan tampan.


“ Kau tidak suka padaku, ya ? “ Kata giska dengan ragunya


Pria itu hanya terdiam, dia mengacuhkan pertanyaan Giska.


“ Kalau sekiranya kamu tidak mau dengan tawaran yang ayahku berikan juga tidak apa-apa. Aku juga bisa memasak kok ! buktinya kopi buatanku juga enakkan ? “ kata Giska


Mendengar itu pria itu terlihat kesal.


“ Ya, sepertinya kau benar. Kopimu enak sekali. Kau coba saja “ kata pria itu


“Ah tidak mau. Itu melanggar aturan. Mana mungkin aku meminum kopi special yang sudah aku buat untukmu “ kata Giska dengan percaya dirinya dan dengan ekspresi semanis mungkinnya


Pria itu tersenyum kesal


“ Kopi special ? benarkah ? pantas rasanya luar biasa sekali. Kau belajar dari mana membuat kopi ?” kata pria itu


“ Aku belajar sendiri “ kata Giska


“ Hebat sekali. Belajar sendiri membuat kopi ternyata kopinya sangat enak sekali ya ? “ kata pria itu


“ Ya “ Kata Giska sambil senyum-senyum.


“ Kalau begitu, apa kamu pernah meminum kopi buatanmu sendiri ? “ kata pria itu


“ Belum sih “ Kata Giska


“ Ya sudah. Coba saja dulu. Enak kok. Tidak apa-apa dari pada kamu penasaran “ kata pria itu


Begitu kopi itu masuk ke mulutnya Giska, tiba-tiba Giska mengeluarkannya kembali dan..


“ Asin………!!! “ kata Giska sambil menyimpan kembali gelas kopi yang sudah ia pegang itu.


Pria itu pun tersenyum kesal.


“ Beginikah caramu menyambut tamu ? Bagaimana tamunya kalau bukan aku. Mungkin mereka akan jujur pada ayahmu. “ kata pria itu


“Maaf. Aku benar-benar tidak tahu kalau rasanya asin. Aku salah memasukan gulanya ya ? “ kata Giska


“ Jelas itu salah . apa kau ingin meracuniku ? “ kata Pria itu


“ Bukan begitu. “ Kata Giska


“ kamu bisa bayangkan aku menelan seteguk kopi mu. Bagaimana dengan dirimu ? Kau membuangnya, bukan? “ kata pria itu


Tiba-tiba ayah Giska kembali lagi dan duduk di samping pria itu.


“ Bagaimana ? apakah kamu sanggup ? “ kata ayahnya Giska


“ Tentu saja paman. Setelah kami berbincang tadi, memang Giska ini mengakuinya. Tidak ada salahnya kalau saya mencobanya dulu. “ kata pria itu.


“ Baiklah kalau begitu. Paman mengucapkan terima kasih kepadamu. Sebagai tandanya, bagaimana kalau kamu menghabiskan kopi buatan anak paman ini ? “ kata ayahnya Giska.


Giska dan pria itu sama-sama terkejut. Mereka seperti kebingungan harus berkata dan berbuat apa. Sementara ayah Giska sudah menunggu pria itu untuk meminum kopinya.


“ Kenapa ? ayo di minum ! “ kata ayahnya Giska.


“ Eu… ya paman. “ kata pria itu.


Kemudian pria itu langsung meminum kopi itu tanpa ragu-ragu . Bahkan benar-benar sampai habis. Setelah habis, lelaki itu menahan mualnya dengan mengatakan “ Ah…enak sekali. Terima kasih paman. “ kata pria itu.


Giska hanya tertunduk


“ Awas kau ! “ kata hati pria itu sambil menatap Giska tajam.


Keesokannya, Giska berniat untuk bertanya nama lelaki itu. Ketika itu, pria itu tengah sendirian di depan kelasnya sambil menonton pasukan paskibra yang sedang berlatih. Ini merupakan kesempatan yang bagus untuk bertanya namanya. Begitu Giska duduk di samping pria itu, hati Giska berdebar dan jantungnya berpacu lagi.


“ Apa kau ingin tahu namaku ? “ kata pria itu.


“Bagaimana kau bisa tahu ? “ kata Giska


Pria itu tiba-tiba berdiri dan berjalan meninggalkan Giska


“ Hey ! Tunggu dulu….! “kata Giska sambil mengejar pria itu.


“ Apalagi ?” kata pria itu sambil berjalan


“ Siapa namamu ? kamu pasti punya nama. Apalagi kamu akan menjadi guruku memasak. Aku harus panggil apa ? “ kata Giska yang terus saja menguntit pria misterius itu.


“ Terserah kau saja.chef juga boleh ?” kata pria itu.


Giska pun berhenti mengikuti pria itu.


“ Baiklah kalau begitu. “ kata Giska yang kemudian kebali lagi.


Ketika Giska berbalik badan dan ingin berjalan kembali ke kelasnya, tiba-tiba saja pria itu memegang tangan Giska.


“ Sebelum kita latihan memasak, aku minta waktumu sebentar untuk membuat peraturan. Aku yang membuat peraturan dan kau harus menyetujuinya dan patuh terhadapnya. “ kata pria itu.


“ Hey ! aku yang rugi donk.” Kata Giska


Lalu keduanya sama-sama berbalik badan dan berjalan kea rah yang berlawanan. Saat berjalan, Giska bicara kesal “ Peraturan ? memangnya sekolah apa, harus ada peraturan segala.”


Tiba-tiba Rahmat menggandeng Giska.


“ Peraturan apa sih ? penasaran nih.. peraturan buat hubungan kita ya ?” kata Rahmat


Giska pun segera melepaskan gandengan Rahmat


“ Enak saja ! geer banget sih jadi orang. “ kata Giska


“ Biarin. Geer sedikit enggak apa-apa ‘kan ? “ kata Rahmat


Chef panggilannya. Tapi siapa nama aslinya. Pria ini benar-benar misterius. Mengapa ia hadir dalam kehidupan Giska ?