Our Destiny

Our Destiny
Menikah Juga



Malam yang indah. Hadirnya bulan dan bintang yang menghiasi langit malam membuat banyak orang merasa terpesona dengan melihatnya saja. Erik dan Vira berdiri di depan jendela. Mereka berdua adalah salah satu keluarga yang terpesona oleh kecantikan langit malam. Erik memeluk Vira dari belakang dan mereka hanyut dalam indahnya apa yang mereka pandang itu. “Sayang, kapan sahabatmu itu akan menyusul kita? Aku dengar ia ingin segera menyusulmu” kata Vira. Erik tersenyum. “Itu tidakla penting saat ini sayang. Dia memang sahabatku. Tapi, masalah itu hanya dia yang bisa mengurusnya sendiri. dia sudah dewasa. Yang terpenting sekarang adalah jaga kandunganmu ya. Dan lahirkanlah dengan selamat anak kita nanti. Kita harus menjadi keluarga yang utuh”kata Erik.


“Malam yang indah bukan ?”kata Ridwan. Shely dan erik tersenyum lagi.


1 minggu kemudian….


Ridwan sudah kembali ke Indonesia. Ia keluar dari pesawat bersama Shely. Shely berlari menghampiri keluarganya dan saling berpelukan “Hai mom”kata Shely sambil memeluk ibunya. Ridwan hanya terdiam melihat itu. Ia sedikit berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menyapa keluarga Shely. Perlahan ia berjalan menghampiri keluarga Shely dan perlahan juga ia tersenyum saat ibunya Shely melihatnya.


“Ridwan ?”kata ibunya Shely. Ridwan tersenyum. Shely dan Ridwan saling memandang dan seperti memberi kode pada keluarganya kalau mereka ingin segera menikah. Melihat itu, keluarga Shely bersorak. “Baiklah, baiklah. Sekarang siapa yang sedang berbahagia ?Ayah rasa kalian memang berjodoh. Hahaha…”kata ayahnya Shely.


Ibu vira yang kini tengah mencuci pakaian di kamar mandi, ia terlihat merenung. Entah apa yang ia pikirkan. Mungkin ia merasa kesepian. “Anakku. Semoga kamu bahagia nak disana. Ibu sangat menyayangimu. Kau adalah kebahagiaan ibu yang tidak akan tergantikan.” Kata ibunya Vira yang kemudian menangis. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ia menjadi seperti itu entah sejak kapan.


Saat mlsm harinya, terlihat dari luar rumah Shely rumahnya sedang ada tamu. Seorang Ridwan tengah melamar Shely. Mereka terlihat bahagia. Beberapa kali mereka tertawa sambil bersorak. Ada tetangga yang melihat hal itu “hey lihatlah keluarga kaya dan terhormat itu. Mereka begitu bahagia dan mungkin anak perempuan cantik itu akan segera menikah”kata ibu tetangga itu pada anaknya yang perempuan dan seumuran dengan Shely. “Baiklah, besok aku akan menyuruh kekasihku segera melamarku. Ibu jangan coba-coba ikut campur”kata anaknya tetangga itu.


“Ayah sangat senang karenapada akhirnya kamu bisa lepas juga dari kesediahnmu selama berbulan-bulan. Apapun yangakan terjdi setelah ini, berbahagialah.” Kata ayahnya Shely.


Keesokan paginya, pukul 07.00 WIB Vira terbangun dan melihat Erik di sampingnya masih tertidur lelap. Vira tersenyum. Iapun secara diam-diam dan perlahan menyentuhbulu matanya. “Hey, apa yang kau lakukan ? aku merasakannya. Pagi-pagi sudah bikin masalah ya kamu ini sayang”kata Erik. Vira tersenyum dan menutup wajahnya memakai selimut saat Erik membuka mata dan melihatnya.


“Kau baru bangun juga?”kata Erik. Vira membuka selimutnya. “Aku juga tidak tahu kenapa aku terlambat bangun. Tapi, hari ini kau libur bukan ?”kata Vira. “Kesepakatannya begitu. Memangnya kau mau apa?”kata Erik. Vira tersenyum. “Mencurigakan sekali. Kau pasti ada maunya” kata Erik. Keduanya tertawa.


Kini, pernikahan Ridwan dan Shely sudah semakin dekat hanya tinggal menghitung hari saja. Sekarang keduanya tengah memilih-milih gaun yang cocok untuk sang pengantin pria dan pengantin wanita. Saat sedang mencoba-coba gaun yang ini, yang itu. Ternyata masih belum juga ada yang cocok. Ridwan masih terus menggeleng saat Shely keluar dari tempat ganti gaun. “Jangan-jangan aku terlalu kegendutan Ya? Sampai semua gaun yang aku kenakan tidak pernah cocok”kata Shely. Ridwan tersenyum. “Bukan begitu. Hanya saja kurang cocok pada warnanya. Aku ingin kau terlihat memukau dengan gaun yang warnanya sangat cocok dengan warna kulitmu”kata Ridwan.


“Bilang saja kalau aku ini memang mulai gendut.”kata Shely.


Resepsi pernikahan Ridwan dan Shely akan di laksanakan sebentar lagi, tapi ternyata Erik dan Vira berencana untuk pergi ke luar Negeri. Ceritanya mungkin bulan madu tapi sedikit terlambat. “Sayang, aku tidak sabar ingin merasakan dinginnya salju di korea nanti”kata Vira. “Ya, bersabarlah. Sesampainya di sana kita akan jalan-jalan sepuasnya”kata Erik. Landaslah pesawat yang di tumpangi oleh mereka.


Kini, Ridwan sedikit termenung di kamarnya “Erik, kamu tega sekali. Giliran aku menikah kamu malah pergi. Bagaimana sih !”kata Ridwan.


4 hari kemudian………………


Resepsi pernikahan Ridwan dan Shely di laksanakan. Pernikahan itu berjalan dengan hikmat. Kedua mempelai begitu tampan dan cantik. wajah berseri-seri dan bahagia terlihat dari rautnya. Pesta pernikahannya pun begitu ramai dan menyenangkan. Keduanya sangat bahagia, meskipun ada dua orang yang tidak hadir yaitu Erik dan Vira dan meskipun Shely tidak tahu menahu tentang persahabatan Ridwan dengan Erik.


“Shely, maukah kamu bulan madu di jepang saja denganku?”kata Ridwan. Shely tertawa. “Kau lucu sekali. Aku tentu mau. Kau mau mengajakku ke Amerika juga boleh. Yang penting itu ada bulan madu”kata Shely. Keduanya tertawa. Sedangkan Erik dan Vira kini sedang berjalan di atas salju yang putih dan dingin itu. “Vira, aku merasa sangat bahagia”kata Erik. “Aku pun”kata Vira.


Malam yang indah, Ridwan dan Shely saling malu-malu. Mereka duduk sambil membelakangi. “Akhirnya menikah juga kita”kata Ridwan. Keduanya tertawa saling memandang dan hanyut dalam indahnya cinta. Jodoh memang takkan kemana.


Saat itu, Vira tengah memasak di dapur dan Erik sedang masih di kamar mandi. Ia tengah memakai sampo sambil bernyanyi “Dia hanya dia di duniaku”. Tiba-tiba saja Vira berteriak. Mendengar itu, Erik jadi panic. Ia langsung memakai handuknya dan berlari menghampiri Vira. “Vira!!!!!!!!!!!!!”kata Erik saat melihat Vira sudah terkapar di lantai dan keluar ada darah berceceran di sana.


“Apa yang terjadi vir? Ya ampun berdarah.”kata Erik Vira terus menangis “Sakit Erik. Euh….sakit. perut aku sakit.”kata Vira. “Sebentar. Kamu tunggu dulu di sini aku mau pakai baju dulu. Bertahanlah!” kata Erik.


2 jam kemudian Vira sudah tersadar di sebuah ruangan rumah Sakit. Ia tersadar dan melihat di sekelilingnya, Erik tengah tertunduk menangis di depan jendela. Vira pun perlahan ikut menangis. Mendengar Vira menangis, Erikberbalik badan. “Kau sudah sadarsayang ? bagaimana keadaan mu sekarang? Kau merasa sakit?” kata Erik.


“Maksud kamu aku keguguran ?”kata Vira. “Ya” kata Erik. Mendengar itu, Vira menangis histeris. Ia menangis sejadi-jadinya. “Tidak…!! Itu idak mungkin ! ya Allah….anakku…..”kata Vira saat ia tak kuat menahan kesedihannya sambil menangis. Vira seperti kehilangan kendali. Karena merasa khawatir, Erik langsung memeluk Erat Vira dan terus berusaha menenangkan Vira dengan mengatakan “Istighfar Vira, istighfar. Kamu harus ikhlas. tidak apa-apa. Percayalah. Semuanya akan menjadi lebih baik saat semua sudah berlalu. Tenanglah, tenanglah sayang.”.


Perlahan Vira bersikap tenang kembali. Ia mencoba tegar dan terus mengucapkan istighfar beberapa kali. Tak lama kemudian ia tertidur. “Aku mencintaimu Vira. Keguncangan cinta ini aku tidak memperdulikannya. Aku yakin di balik ini semua, Allah sudah merencanakan sesuatu yang elbih indah. Aku yakin itu. Kamulah kebahagiaanku” kata Erik yang kemudian mencium kening Vira.


1 Bulan kemudian……………….


Shely berlari menghampiri Ridwan yang baru saja pulang dari tempat kerjanya. Keduanya berpelukan “Aku hamil” kata Shely. “Apa ? kamu hamil? Oh………….Syukurlah…………!!!!!!!!!” kata Ridwan yang kemudian tertawa bahagia. Setelah berpelukan, “Kapan kamu memeriksanya dan berapa usianya?”kata Ridwan. “2 Hari yang lalu dan usianya baru 2 bulan” kata Shely. Ridwan kembali memeluk Shely dan kemudian mencium kening Shely. “Kenapa kau tidak mengajakku untuk memeriksanya ?”kata Ridwan. “Kau sangat sibuk” kata Shely. Keduanya tersenyum bahagia.


Usia kandungan Shely kini sudah 5 bulan sementara usia kandungan Vira baru 3 bulan. 2 bulan setelah kehamilan Shely, Vira juga hamil lagi. Saat itu, Erik baru datang dari restaurantnya dan melihat Vira tengah mengupas buah mangga muda. Erik tersenyum dan tahu pasti wanitanya ini sudah hamil lagi. “Sayang, aku sepertinya tidak kau beritahu sesuatu” kata Erik. Vira tersenyum. “Ya. Kalau sudah tahu boleh aku memintamu sesuatu. Aku ingin malam ini kau tidak tidur terlalu malam lagi. Aku butuh pelukanmu” kata Vira. “Baiklah” kata Erik yang kemudian masuk ke kamarnya.


Dan sekarang semuanya sudah berjalan dengan normal lagi. Vira sudah mulai berhati-hati menjaga kandungannya. Keluarga Vira dan keluarga Erikpun tengah berkumpul bersilaurahmi. Mereka mebicarakan tentang kehamilan Vira.“sungguh kebahagiaan yang tiada terkira. Anak-anak kita sekarang sedang dalam masa yang bahagia. Dulu,kita pun pernah merasakannya. Merasa di repotkan oleh istri-istri kita karena sedang ngidam sesuatu” kata ayahnya Erik. Semuanya tertawa. “walaupun begitu, suami-suami kita seharusnya berterima kasih karena kalau bukan kita yang mengandung anaknya, siapa lagi. Kita ini istri mereka. Tega sekali kalau mereka berkata seperti itu” kata Ibunya Erik. Semuanya tertawa lagi.


“Kebahagiaan kita sekarang akan semakin lengkap karena kamu sedang mengandung. Kamu tidak pernah lupa cek kandungan kamu bukan ?” kata Erik. Vira tersenyum. “Aku tidak akan lupa karena itu kewajibanku. Kalau bukan aku yang melakukannya siapa lagi. Kau tidak mungkin bukan ?” kata Vira. Keduanya tertawa bahagia.


Hari-hari terus berlalu dan silih berganti. Usia kandungan Vira semakin bertambah. Perutnya mulai membuncit lebih besar lagi. Meskipun tubuh Vira semakin lama semakin membengkak, namun Erik selalu menganggap bahwa Vira adalah wanita paling cantik kedua setelah ibunya. “Kau sangat cantik sekali Vira. Kau tahu, kau adalah wanita tercantik kedua setelah ibuku.” Kata Erik. Vira sedikit cemberut. “Tapi Erik, bagaimana jika setelah melahirkan tubuhku tidak kembali normal. Maksudku kalau berat badanku terus naik dan aku menjadi wanita yang gendut. Apa…..mmmm”kata Vira. Erik tersenyum. “meskipun tubuhmu nanti membengkak dan gendut seperti drum, aku masih tetap mau bercinta denganmu” kata Erik. Keduanya tertawa.


Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu sudah tiba pada keluarga Ridwan. Di usia kandungan yang ke 9 bulan, Shely melahirkan. Ia melahirkan bayi mungil yang sangat tampan. Ya, anaknya laki-laki. Saat itu usia kandungan Vira baru 7 bulan dan sedang mengadakan acara tujuh bulanan.


Kebahagiaan pun mengiringi keluarga Erik. Setelah dua bulan berlalu, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Vira melahirkan. Ia melahirkan bayi mungil yang sangat cantik. anak Vira dan Erik ternyata perempuan. “Subhanallah cantik sekali” kata Erik. Vira tersenyum bahagia sampai menangis.


“Siapa nama anak kita Erik ?” kata Vira saat setelah berada di rumah. Vira masih hanya bisa duduk di tempat tidurnya sedangkan Erk sedang menggendong bayinya. Sejenak Erik berpikir “Eu….bagaimana kalau Cia Amelia Agustin ? Atau Fatmawati sri kusuma ?” kata Erik. Vira menggeleng. “Baiklah kalau begitu namanya Giska, Eu….(berpikir lagi sejenak) Giska Saputri” kata Erik. Vira tersenyum. “Nama yang sangat bagus. Aku suka nama itu.” Kata Vira.


3 tahun kemudian…………


Giska masih duduk di roda bayinya yang lucu sambil memakan bubur yang Vira buat untuknya. Ia sangat lucu dan menggemaskan. Binar suci dari matanya masih sangat terlihat jelas. Karena ia masih sangat kecil untuk mengerti bagaimana cara makan yang baik, pada akhirnya ia makan masih sangat berantakan.Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu…. “Assalamualaikum..Viraaa” kata seseoang dari depan pintu rumahnya. Mendengr itu, Vira berjalan menuju pintu. Tapi, sebelum itu ia menghampiri Giska kecil karena makanannya sangat berantakan. Dan saat hendak mengambil mainan Giska yang sudah kotor oleh makanan, tanpa sengaja Giska melempar makanannya pada baju Vira. “Oh ya ampun..”kata Vira sambil tersenyum.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung berjalan menuju pintu dan membukanya. “Hey sayang kau sudah pulag ?” kata Vira. Ternyata yang datang itu adalah Erik. “ Ya. Kau tahu, aku sangat merindukan anak kita. Giska, kau sedang makan sayang.” Kata Erik sambil berjalan dan menghampiri Giska.


Melihat baju Vira yang kotor, Erik langsung menggendong Gisa dan berkata “ Kau mulai nakal ya hah? Kau mulai mengotori baju ibumu. Dia sangat cantik memakai baju itu karena ayah yang membelinya. Kau ini “ kata Erik yang kemudian berlari kesana-kemari untuk bercanda dengan Giska.


3 Tahun kemudian…………………..


Giska sudah berumur 6 tahun. Saat itu, ia sedang berada di perjalanan bersama ayah dan ibunya. Ia memegang boneka lucu kesayangannya. Tak lama kemudian ia sampai di sebuah rumah yang asing dan masuk ke dalamnya. “Giska ini paman Panji dan Bibi Wati” kata Erik. Giska tersenyum. “Hallo paman. Apa kabar?” kata Giska dengan suara yang lembut sekali. Semuanya tertawa. Tiba-tiba ada satu anak kecil yang muncul dari belakang Bibi Wati. Ia seorang laki-laki kecil yang sangat tampan dan pemalu. Terlihat ia masih seumuran dengan Giska.


Giska tersenyum pada anak kecil itu dan menghampiri anak kecil itu. Keduanya bersalaman. “Aku Giska Saputri” kata Giska. “ Aku Rahmat Ramdan” kata pria kecil itu yang ternyata namanya adalah Rahmat.


~ Bersambung ~