Our Destiny

Our Destiny
Saingan baru



Suara adzan akhirnya terkumandangkan. Berhenti sudah hukum Giska . kini, ia bebas dari hukuman pak satpam. Giska pun duduk di kelas sendirian dan kemudian menidurkan kepalanya di meja. Sementara murid yang lain tengah manuju mushola.


Setelah shalat dzuhur selesai, Giska pun curhat pada Dela dan Windi mengenai semalam.


“ Ya Gis, sebaiknya kamu berhati-heti aja. Lagian juga Ali itu baru kenal dengan wanita itu. Tidak mungkin langsung jadi begitu saja. Denganmu saja sampai saat ini belum ada perkembangan sama sekali. Apalagi kalau sama wanita itu yang baru saja ia kenal “ kata Windi.


“ Apa tadi kau bilang ? belum ada perkembangan sama sekali. Enak saja. Aku dengannya sudah 2 kali berciuman” kata Giska dengan bangganya. “Haaah….apa…???” kata Windi dan Dela. “ Itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa ? bisakah kau ceritakan pada kami ?” kata Dela. Giska menggeleng. “Berhati-hati tadi katamu ? aku rasa memang seharusnya aku begitu, tapi, berhati-hati juga tidak akan menjamin bukan ?” kata Giska.


Dela dan Windi saling bertatapan. “ Tapi, kira-kira apa hubungan Ali dengan wanita itu ?” kata Windi. “Pacaran kali” kata Dela. Giska berteriak dan langsung mencubit tangan Dela “ Jaga itu ucapan. Ucapan itu doa tahu. Ali itu calon suamiku. Enak saja. Sampai kapanpun aku tidak akan merelakan dia berpacaran dengan wanita itu. Kalau itu sampai terjadi maka lebih baik aku akan…..(berpikir sejenak)Tidak akan melepaskan Ali sampai kapanpun” kata Giska. Dela dan Windi tertawa.


Sejenak Windi berpikir sambil tertunduk. Lau tak lama kemudian… “ Jangan0jangan wanita itu akan menjadi saingan barumu . maksudku jadi murid Ali. Belajar memasak. Aku rasa itu satu-satu alas an yang masuk akal daripada tadi kata Dela, kalau Ali dan wanita itu pacaran. Sampai kapanpun itu takkan mungkin.” Kata Windi.


“ Kau benar Windi. Kalau begitu persaingan memasak ini akan sangat ketat” kata Giska. Dela tertawa. “ Persaingan memasak atau persaingan mendapatkan hati Ali ? Aku rasa kau bersaing untuk mendapatkan hati Ali. Smoga berhasil” kata Dela. Ketganya tertawa.


Pulang dari sekolah. Giska mempersiapkan diri untuk belajar memasak dengan Ali. Dia mandi, pakai pakain mini, terus rambutnya di ikat, merias wajah, pakai wangi-wangian terus satu lagi yaitu pakai sepetu high hill. Dasar Giska, seperti mau kencan saja. Tinggal menunggu Ali datang, Giska malah jadi seperti perempuan di pinggir jalan. Mondar-mandir kesana-kemari.


Tiba saatnya Ali datang. Giska langsung menyambut Ali di depan rumah. Dengan anggun, dengan senyuman yang ceria dan tentunya dengan cinta. Namun, anehnya saat Ali keluar dari mobilnya kemudian ia melanjutkan ke sebelahnya untuk di bukakan pintu. Dan…wanita itu. Wanita yang semalam bertemu dengan Ali dan yang tadi pagi mengolok-olok Giska ternyata datang dengan Ali. Ia bahkan di perlakukan oleh Ali seperti seorang putrid. Tentu saja hal itu menyebabkan api cemburu Giska membakar hatinya.


Wanita itu segera mengahmpiri Giska dan mngulurkan tangannya dengan maksud untuk menolong Gisla. “Kau tidak apa-apa ? biar aku bantu” kata wanita itu. “ Tidak mau ! aku mau Ali yang menolongku” kata Giska sambil membuang mukanya dari wanita itu. Ali tersenyum.” Ada angin apa kau mau menolongku? Bukankah tadi pagi kamu mengolok-olok aku. Hm…dasar bermuka dua !” kata Giska lagi.


Wanita itu tersenyum dan mendekati Ali lagi kemudian ia memperkenalkan diri pada Giska.


“ Aku Hyuna. Aku keturunan korea dan aku adalah murid Ali dalam memasak. Jadi, senang ya bisa bertemu denganmu. Dengan murid yang lama dari Ali. Senang juga bisa bersaing denganmu” kata wanita itu yang ternyata namanya adalah Hyuna. Giska tersenyum kesal. “hm…baiklah. Aku juga merasa senang sekali bisa bertemu denganmu. Tapi, aku tidak senang bisa bersaing denganmu” kata Giska. “ Kenapa ? Kau takut ?” kata Hyuna.


Giska terdiam. “Sudahlah. Sekarang kalian berdua sama saja. Murid memasak. Jika status kalian seperti itu, maka kalian sama saja tidak bisa memasak bukan ? jadi salah kalau kalian bertengkar. Kalian berdua punya kelmahan masing-masing. Hyuna membuat kue rasanya pahit dan Giska membuat kopi rasanya Asin. Yang jelas di mataku sekarang kalin berdua adalah muridku yang masih payah. Sama saja.” Kata Ali.


Giska dan Hyuna terdiam. Mereka saling memandang tapi dengan tatapan penuh kesal. “ Kau Giska. Kau adalah muridku yang lebih payah dari Hyuna. Bayangkan saja olehmu. Hyuna masih bisa memasak dengan menggunakan akal sehatnya. Setidaknya ia tahu bahan untuk membuat kue itu adalah gula, sekalipun gulanya terlalu banyak. Tapi kamu, di mana akal sehatmu ? Bagimana bisa kopi rasanya menjadi asin. Apa kau masih sehat sampai sekarang?” kata Ali.


Mendengar itu, Hyuna tertawa sementara Giska tertunduk malu Karena merasa sedih ingin menangis. “Kau menangis ya ?” kata Ali. “Kasihan sekali. Mengapa di dunia ini masih ada wanita cengeng seperti dirimu ini Giska. Aku baru mengenalmu tapi rasanya aku sudah tahu semua kekuranganmu. Banyak sekali ya ? kalau begitu kelebihanmu itu sedikit sekali.” Kata Hyuna.


Mendengar itu, Giska sejenak terdiam. “ Kau salah. Kau tidak tahu siapa aku. Aku yang selama bertahun-tahun terus merasakan guncangan. Namun, sampai sekarang aku masih tetap tersenyum dan menyembunyikan rasa sedihku ini. Aku tertawa di depan semua orang. Padahal dalam hatiku ini sudah penuh dengan ketulusan sabar, tegar, tabah, tawakal, ikhlas dan ridho meskipun ada malas dan tidak peduli. Tapi, aku bukanlah wanita cengeng. Aku adalah Giska.”kata hati Giska.