Our Destiny

Our Destiny
Keputusan Terbesar Joon



“Eomma kumohon.” Joon bahkan sudah berlutut memohon pada sang ibunda berharap setelahnya sang ibu mau berubah fikiran dan melunakkan hatinya.


“Joon-ya, haruskah kau melawanku hingga akhir?”


Joon menghela nafasnya berat. “Eomma, aku melakukannya karena keinginanku sendiri eomma, tidak ada paksaan dari siapapun. Kumohon ikhlaskan aku eomma.”


“Joon-ya, kenapa kau melakukan ini pada eomma? Apa kau sengaja ingin menyiksa eomma hingga akhir? Apa kau...”


Eomma Joon tak sanggup lagi melanjutkan kata katanya. Ia menelan ludahnya kemudian melanjutkan.


“Apa kau melakukannya karena jatuh cinta?”


Dan pertanyaan itu sukses membuat Joon meneteskan air matanya. Kenapa dia harus menangis? Bukankah seharusnya dia tau bahwa inilah salah satu resiko yang akan diterimanya jika ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya?


“Eomma, kumohon.”


“Kalau kau masih tetap memilih jalan itu pilihlah. Tapi jangan pernah mendekati wanita yang membuatmu jatuh cinta dan berpaling dariku!”


“Eom... eomma.”


Joon menatap tak percaya pada apa yang eommanya katakan. Bukankah ia melakukannya karena wanita itu? memang saat ini ia sudah nyaman dengan apa yang dilakukannya. Tapi? Tidak bisakah ia...


“Eomma... wae gerae?” 


“Lupakan wanita itu atau kau tak akan kuizinkan sama sekali Min Joon!”


Joon menatap sang eomma tak habis fikir. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan apa yang diinginkan eommanya itu jika tujuan awalnya berpindah adalah agar bisa mendekati wanitanya.


Namun ia tidak punya pilihan lain. dia sudah terlanjur jatuh cinta dan nyaman dengan kepercayaan barunya. Maka dengan dada yang sesak ia menguatkan hatinya. Ia memandang eomma dengan mata berkaca kaca.


“Geure, kalau itu akan membuatmu mengizinkanku, aku akan melakukannya eomma, aku akan menjauhinya.”


“Joon-ya...”


Suara eomma Joon berubah menjadi lirih. Perlahan bulir bulir air matanya jatuh membasahi pipi tuanya. Ia menatap Joon tak percaya. Tapi kali ini ia tidak bisa memaksa Joon mengikuti keinginannya lagi. ia akan membiarkan Joon menentukan sendiri pilihannya kali ini.


Dan Joon mengerti arti tatapan sang eomma.


“Saranghae kerigu, mianhae eomma.”


Joon tersenyum tipis. Ia memeluk eommanya erat dan terus mengucapkan kata kata mianhae dan saranghae secara bergantian.


Joon tersenyum miris. Ia merasa melakukan sesuatu yang jahat pada eommanya jika ia mengingat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu dimana ia mengatakan tetap pada keputusannya hingga membuat sang eomma menangis.


Sungguh ia sudah memperkirakan ini akan terjadi. Tapi ia tidak pernah memperkirakan bahwa eommanya meminta dirinya untuk menjauhi orang yang membuatnya merubah keyakinanya.


Bukankah itu permintaan yang sangat sulit? Lalu jika ia tidak diperbolehkan untuk bersama wanita itu kenapa ia harus tetap berada dizona baru yang dipilihnya? Kenapa ia tidak kembali?


Jawabannya karena ia sudah sangat nyaman dengan sesuatu yang baru diputuskannya. Ia sudah memilihnya sebagai tuntunannya hidup hingga akhir hayatnya. Bahkan ia tidak terlalu merisaukan bagaimana hancurnya hatinya kedepan tanpa seorang Anna.


Apa dia masih mencintai Anna? Jangan tanyakan hal itu, sudah pasti ia mencintai wanita itu, sangat mencintainya. Bahkan saat ini ia masih berusaha semaksimal mungkin untuk bahagia meski tak bersama Anna. Terkadang terselip secuil harapan untuk berjodoh dengan Anna.


Tapi harapan tetaplah harapan!


Yah, Joon terus berharap demikian. Namun jika harapannya tak terkabul ia hanya bisa pasrah mungkin Anna bukanlah jodohnya. Walaupun begitu ia tetap bersyukur karena Anna adalah perantara takdir yang membuatnya sampai ke zona ternyaman yang pernah dirasakannya.


Anna-ya, mianhae... jeongmal mianhae...


*©®*


Joon melemparkan tasnya sembarangan. Ia kemudian memutuskan untuk langsung masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan dirinya sehabis pertandingan tadi. Ia menghela nafas kali dilihatnya Anna mengejarnya dan ia justru harus mengeluarkan kalimat yang menyakiti Anna setelah meminta wanita itu menunggunya.


Yah, ia mengatakan bahwa tak punya urusan apa-apa lagi dengan Anna padahal wanita itu sudah menunggunya dan mengejarnya. Ia yakin dan tau pasti Anna menagih kepastian darinya. Namun yang bisa ia lakukan hanya berpura-pura tidak peduli dan meninggalkan Anna begitu saja.


Apa dia sakit? tentu saja.. Joon merasakan sakit amat sangat setelah melihat Anna yang hampir meneteskan air matanya. Namun ia salut, Anna masih sanggup menahan agar air mata itu tidak jatuh dan Joon bangga padanya. Anna tidak mudah menjatuhkan air matanya apalgi untuk lelakibrengsek sepertinya.


"Hyung, jangan lama-lama dikamar mandi" sahutan Sang Woo menyadarkan Joon dan membuatnya segera menyelesaikan kegiatan mandinya. Ia tanpa sadar termenung dan sudah menghabiskan waktu setengah jam dikamar mandi.


Setelah menyelesaikan mandinya ia kemudian menunaikan ibadah sholat maghrib karena memang sudah waktunya. Ia berdoa pada Allah agar jalannya bersama Anna dimudahkan dan jika memang Anna bukan jodohnya hatinya diikhlaskan dan Allah beri Anna jodoh yang terbaik.


Setelahnya ia kemudian duduk dan berbincang dengan Sang Woo.


"Menurutmu apa aku benar-benar tidak punya kesempatan dengan Anna?"


Sang Woo tersenyum miris ia tidak tahu harus menjawab apa, semua menjadi serba salah. Ia tau Joon melakukan ini semua bukan semata-mata karena Anna, ia sudah mulai nyaman namun eommanya belum memahaminya. Namun Sang Woo benar-benar tidak bisa menyalahkan eomma Joon karena ia tau keputusan Joon berat bagi ibunya.


"Entahlah hyung. Bagiku yang terbaik saat ini adalah mengikuti kemauan ibumu. Urusan jodohmu dengan Anna kurasa kau serahkan saja pada Tuhanmu.. Aku yakin joodh tak akan tertukar."


Joon tersenyum miris untuk kemudian mengangguk.


"Aku hanya merasa bersalah pada Anna, aku menyuruhnya menungguku untuk kemudian pura-pura lupa bahwa aku memintanya."


"Itu suatu hal yang tidak gentle hyung menurutku kau benar-benar harus melepaskan Anna dengan mengatakan bahwa dia tak perlu menunggumu."


Joon menghela nafas dan mengernyitkan wajahnya. "Bagaimana jika ia langsung menerima lamaran orang lain setelah aku mengatakan itu?"


Sang Woo menepuk pundak Joon dan mengatakan "Sederhana, dia bukan jodohmu,"


Joon meringis dan kemudian menggeleng, sungguh ia tak ingin itu terjadi.


"Aku tidak mau Sang Woo."


"Kau tidak bisa memilih hyung, Sekarang kau bisa memutuskan, kasian Anna harus menunggu ketidak pastian dari mu."


Joon akhirnya berani mengambil ponselnya untuk kemudian mencari kontak Anna, sesaat sebelum ia menekan untuk menelfon ia mengurungkan niatnya. Ia benar-benar tidak sanggup mendengar suara Anna apalagi setelah ia meninggalkan Anna dalam hujan sore tadi.


Ia benar-benar merasa menjadi orang paling jahat didunia.


Ia mengurungkan niatnya menghubungi Anna dan memilih untuk mengambil biografinya yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. ia tidak memiliki foto dengan Anna selain dalam biografi ini. Karenanyalah ia lebih suka memandang biografi saat ia merindukan Anna.


Anna aku merindukanmu... 


Dan Sang Woo hanya menatap miris pada kisah cinta Joon yang tragis