Our Destiny

Our Destiny
Bertahanlah



Malam sudah semakin larut sedangkan Giska masih sedang mengoprasikan komputernya untuk mengerjakan tugas biologi tentang perkecambahan. Bahkan ia tidak menyadari bahwa waktu sudah menunjukan pukul 11.28 WIB. Di hidungnya tertempel koyok dan ia memakai kacamata.


Sedang enak-enaknya bekerja, tiba-tiba Rahmat menelponnya.


“Hallo “ kata Giska setelah mengangkat telponnya


Rahmat hanya tediam tak menjawab, ternyata ia tengah merasakan sakit. Matanya memerah dan berkaca-kaca karena kesakitan.


“ Rahmat jawab aku ! hallo.. kamu kenapa ?” kata Giska semakin khawatir


Karena Rahmat masih terdiam tak menjawab, Giska pun segera beranjak untuk mengambil jaket dan membangunkan ayahnya.


“ Ayah ! bangun…………Rahmat menelpon tapi dia diam terus, aku sangat khawatir. Coba ayah yang bicara padanya. “ kata Giska.


Ayah Giska terbangun sentak mendengar perkataan Giska


“ Memangnya ada apa dengannya ? “ Kata ayah Giska sambil mencoba membuka matanya lebar-lebar


“ Tadi siang dia sakit” kata Giska


Rahmat pun bicara


“Giska” katanya


Ayah Giska langsung mengambil handphone Giska


“ Rahmat apa yang terjadi ? apakah kamu baik-baik saja ? “ Kata ayah Giska


“ Tidak paman, aku benar-benar sakit. Apakah paman mau datang ke sini aku sudah tidak tahan.” Kata Rahmat dengan suara sedikit tersendak-sendak.


Tanpa berpikir panjang kedua orang ini langsung bergegas pergi


Keadaan Rahmat semakin memburuk. Dia benar-benar kesakitan. Sementara dia di rumah hanya sendirian tidak tahu minta tolong pada siapa kalau bukan pada Giska dan ayahnya.


Benar saja, keadaan Rahmat di rumahnya sudah semakin memburuk. Berulang-ulang ia muntah. Di samping tempat tidurnya ada gelas pecah dan ada genangan air. Yang paling parah adalah ada genangan darah juga di lantai. Baju yang ia kenakan masih baju sekolah serta sudah ternoda oleh darah dari mulutnya saat muntah. Giska dan ayahnya terkejut melihat keadaan Rahmat yang begitu parah. Keduanya langsung menghampiri dan juga langsung menyentuh tubuh Rahmat. Panas. Keadaannya sangat mengkhawatirkan.


“ Ayah sebaiknya ia segera di bawa ke Rumah Sakit. Dia sudah kepayahan “ kata Giska


“ Ya Gis. Ya sudah ayah akan minta bantuan pada pak Mamat. Kamu jaga Rahmat dulu. Ganti bajunya dan Rawat dia sebentar” kata Ayah Giska


Ekspresi Giska menjadi semakin khawatir. Pertama-tama ia harus mengganti bajunya Rahmat.


“ Rahmat kamu harus ganti baju dulu ya ! “ kata Giska ragu-ragu


Dengan ragu-ragu pula ia mengganti baju Rahmat. Setelah itu, ia membereskan kamar Rahmat yang berantakan itu. Rahmat yang sudah kepayahan, untuk sementara masih bisa tersenyum dan menghiraukan rasa sakitnya karena ia sedang berusaha memandang Giska. Tubuh Rahmat semakin lama semakin lemas. Wajahnya semakin memucat dan tatapannya semakin layu. Memperhatikan Giska semakin keruh dan keruh. Tak lama kemudian ia hilang kesadaran.


Awalnya Giska hanya mengira bahwa Rahmat hanya tertidur biasa, tapi ketika Giska bertanya “ di bagian mana kau merasa sakit ?” . Rahmat sama sekali tidak menjawab bahkan sudah 10 menit berlalu. Perlahan Giska mendekati Rahmat dan menyentuh pipi Rahmat dengan lembut. Pipinya panas. Karena meras takut Giska pun menangis.


“ Rahmat….kau jangan seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa..” kata Giska


Giska menangis perlahan


Rahmat pun setengah tersadar dan lalu mencoba menyentuh pipi Giska untuk menghapus air mata Giska. Dengan lembut Giska menyentuh tangan Rahmat yang ingin meraih pipinya.


“ Aku mencintaimu, Giska. Maaf hari ini aku tidak bisa menjadi pria yang berguna untukmu. Aku malah merepotkanmu. Jangan menangis ya ? aku hanya sedang mencoba bertahan “ kata Rahmat sambil menghapus air mata Giska


Giska mengangguk sambil tersenyum


Perlahan Rahmat kembali kehilangan kesadarannya. Dia melepaskan tangannya dari pipi Giska. Dan Giska..


“ bertahanlah Rahmat. Aku mohon !” kata Giska.