
“ Tante tahu, kamu dengan Ali itu saling menyukai. Tante sepertinya sangat setuju kalau kamu mau jadi pacarnya Ali. Kata Ali kamu itu perempuan rajin, mandiri, baik dan pintar masak lagi. Tidak seperti Giska yang pemalas itu. “ kata ibunya Ali saat mengobrol dengan Maya. Maya pun tersenyum sedikit dan meminum tehnya dengan perlahan.
“ Tidak tante. Aku mau sekolah dulu sampai lulus. Mau kuliah dan menjadi seorang wanita karir seperti tante Shely ini. Menjadi wanita karir tapi tetap bertanggungjawab terhadap keluarga. “ kata Maya. Ibunya Ali tersenyum sambil mangut-mangut. “ Tante memang tidak akan salah pilih menantu kalau memilihmu. Pasti Alipun akan bahagia denganmu. “ kata ibunya Ali.
“ ngomong-ngomong cara memasak Gurita itu bagaimana ? “ kata Giska pada Ali.” Besok akan aku ajarkan padamu. Jangan bertanya sekarang. Sampai kapanpun kau tidak akan tahu bagaimana caranya kalau hanya di jelaskan saja. “ kata Ali. Giska mangut-mangut.
Tiba-tiba Maya duduk di samping Giska. “ kau ? “ kata Giska pada Maya. “ Ya apa aku boleh bergabung dengan kalian. ? “ kata Maya. Mendengar ada suara Maya, Ali langsung meronjat melihat ke samping Giska “ hey May ? sudah bicara dengan ibuku ? apakah dia merestui kita ? “ kata Ali sepeti memanas-manasi Giska. “ Apanya yang merestui ? itu tidak akan terjadi “ kata Giska so tahu dan ikut campur. “ Kau ini. Ikut campur saja. Sudah pergi tidur sana ! “ kata Ali.” Aku ? kenapa kau tidak menyuruh Maya saja yang tidur ? aku masih ingin di sini bersamamu “ kata Giska. “ Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya. Tapi saat ini aku ingin berdua dulu dengannya. “ kata Ali.
Terpaksa Giska pun pergi. Tapi, tiba-tiba saja ada Ayah Ali yang datang dan duduk tepat di tengah-tengah Ali dan Maya. Melihat itu Giska tersenyum “ Paman keren juga “ kata Giska saat masih di tangga. Setelah Giska berada di kamar, paman Ridwan atau ayahya Ali ini mengirim sms pada Giska. Isinya : “ Paman tahu apa yang kamu pikirkan. Tenang saja, paman ada di pihakmu .” kata Giska sambil membaca sms itu. “ Ya ampun paman ini benar-benar luar biasa. Akhirnya ada yang mendukungku juga untuk bisa meraih Ali. “ kata Giska lagi yang kemudian Langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
10 menit kemudian , Maya masuk dan terbaring di samping Giska. Tanpa permisi dan sombong sekali. “ apa kau dan Ali berpacaran ? “ kata Giska. “bukan urusanmu “ kata Maya. Giska tersenyum kesal. “ Sombong sekali ya kamu. Mentang-mentang segalanya bisa. Kau fikir aku tidak tahu apa kebusukanmu hah ? “ kata Giska. “ apa maksudmu ? “ kata Maya. “ Maksudku adalah kau pengacau. Kau ini so cari perhatian dan menyebalkan “ kata Giska. Maya tersenyum sedikit. “ bukankah yang begitu itu kamu bukan aku ? “ kata Maya sinis. Mendengar itu Giska merasa marah. Sudah berapa kali ia ada di hidup Giska dan selalu menjadi seseorang yang menyebalkan. “ terserah kau saja. Yang jelas aku menyukai Ali “ kata Giska. Maya terdiam sepertinya dia sudah tidur. “ menyebalkan sekali tidur dengan orang sepertimu. Dasar wanita jelek ! “ kata Giska yang kemudian keluar kamar.
Giska berjalan perlahan menuju ruang dimana tadi ia menonton tv dengan Ali. Sudah sepi tak ada yang menonton. Mungkin semuanya sudah tertidur. Kini, ia merasakan kembali rasanya kesepian setelah lama ia merasakannya saat kehilangan sang ibu tercinta. Ia duduk perlahan di sofa dan matanya tiba-tiba kosong. Tidak tahu apa yang ia fikirkan. Mungkin ibunya atau dirinya sendiri. wajahnya mendadak sedih, kemudian ia mulai merangkul tubuhnya sendiri karena kedinginan. Perlahan ia menyanyi “ Mungkin ini sudah jalan takdirku. Mengagumi tanpa di cintai. Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia dalam hidupmu, dalam hidupmu. Telah lama ku pendam perasaan itu. Menunggu hatimu menyambut diriku. Tak mengapa bagiku mencintaimu adalah bahagia untukku,bahagia untukku. Ku ingin kau tahu. Diriku di sini menanti dirimu. Meski ku tunggu hingga ujung waktuku dan berharap rasa ini abadi untuk selamanya. “.
Mata Giska mulai mengantuk, tapi ia mulai merasa kedinginan. Dengan perlahan ia pun menangis, ia terisak-isak. Nemun, ia mencoba untuk tak mengeluarkan suaranya. Akhirnya ia membaringkan tubuhnya di sofa sambil merangkul tubuhnya sendiri. ia tertidur. Tepat pukul 11 malam, Ali terbangun karena ia merasa haus dan ingin mengambil segelas air minum. Saat ditangga, ia terkejut melihat ada seseorang yang tidur di sofa. Seorang wanita. Ia pun berpikiran bahwa itu adalah Maya, karena ia tahu bahwa Giska tidak mau tidur sekamar dengan Maya. Kemudian Ali kembali ke kamarnya dan mengambil selimut. Begitu selimut iu akan di pakaikan pada Maya, ternyata bukan Maya. Ali terkejut melihat yang tidur itu ternyata Giska Saputri.
“ Ya ampun bocah ini. Kenapa tidur di sini? Nekat sekali ! “ kata Ali yang kemudian melihat wajah Giska dengan teliti. Wajahnya memerah, bibirnya seperti membengkak, kantung matanya juga. Selain itu tubuhnya juga sedikit menggigil. Tak tega rasanya Ali membiarkan Giska tidur di sofa dan kedinginan seperti itu. “ Apa jangan-jangan mereka bertengkar ya ? kenapa Giska menangis kalau tanpa alas an “ kata Ali lagi.
Begitu sampai di kamar Ali. Ketika sudah semakin dekat dan semakin dekat dengan tempat tidur, tiba-tiba kaki Ali seperti tersangkut sesuatu mungkin kakinya sendiri karena merasa hampir kewalahan menahan beratnya tubuh Giska. Ia terjatuh bersama Giska ke tempat tidur dan tanpa sengaja ia berciuman dengan Giska saat itu tepat sekali Giska terbangun dan membuka mata. DAG DIG DUG rasanya saat terjadi adegan itu.
Ali dengan segera ia tersadar, Giska pun begitu. Keduanya pura-pura membereskan bajunya masing-masing. “ Tidurlah di sini. Tidur di luar itu dingin. Selimut ada di lemari itu. Kau ambil saja sendiri.”kata Ali yang kemudian keluar dari kamarnya. Sedangkan Giska masih berdiri tegak dan matanya memerah juga berkaca-kaca. “ Apa yang sudah terjadi barusan? Apa aku hanya bermimpi ?”kata hatinya
Giska pun tersenyum riang. Ia lalu melompat-lompat di tempat tidur Ali dan tertawa bahagia meskipun tertawa dengan suara yang ia kecilkan. Sedangkan Ali yang sedari tadi sudah keluar dari kamarnya sendiri, kini ia sudah duduk di sofa sambil membawa segelas air putih. Ketika ia akan minum, tiba-tiba ia berhenti dan lalu menyentuh bibirnya. Dengan perlahan tapi pasti ia menelan ludahnya sendiri lalu ia segera berlari ke dapur dan masuk ke kamar kecil. Ia segera mengusap-usap bibirnya dengan tangannya yang sudah ia basahi. Dia baru sadar bahwa tadi itu bukan mimpi dan bukan main, ia baru saja tanpa sengaja berciuman dengan Giska si pemalas dan penguntit itu. “ Ya ampun. Apa yang sudah ku lakukan ? ceroboh sekali. Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu padaku ? “ kata Ali pada dirinya sendiri di depan cermin.
Pagi datang kembali menyapa. Lantunan suara adzan indah begitu menyentuh hati membangunkan Giska dari tidurnya yang pulas itu. Terbangunnya Giska masih belum menyadari bahwa kini ia berada di kamar Ali. Setelah ia melihat-lihat kesekelilingnya, barulah ia tersadar “ hah ! dimana ini ? “ katanya saat melihat semua aksesoris, dinding dan sebagainya yang asing. Sejenak Giska terdiam dan…”aku ingat ! semalam….ah…..!!” katanya lagi setelah tahu bahwa ia sedang ada di kamar Ali dan adegan semalam adalah nyata bukan mimpi.
Kemudian Giska keluar dari kamar Ali dan menghampiri Ali yang sedang tertidur di sofa ruang tv. Giska tersenyum saat melihat bagaimana Ali tidur. “ Hah………tampan sekali. Meskipun lagi tertidur, tapi aura manis itu masih dapat aku lihat. Kau benar-benar tampan. Tidak salah kalau kau akan menjadi suamiku. Cantik dan tampan pasti anaknya cantik dan tampan pula. “ kata Giska pelan.
Melihat Ali yang masih terlelap tidur itu, tasanya Giska ingin menyentuh bibir Ali sekali lagi, tapi takut ketahuan. Akhirnya Giska mengurungkan niatnya itu dan mencoba untuk membangunkan Ali secara perlahan dan semanis mungkin, seromantis mungkin. “ Ali… Ali…bangun Ali….” Kata Giska dengan lembutnya. Perlahan Ali terbangun. “ kau ? ya ampun ini jam berapa ? kenapa kau menggangguku ? “ kata Ali mencoba menutupi wajahnya dari Giska. Mungkin karena malu takut ketahuan kalau abis bangun tidur suka terlihat jelek. Giska tersenyum. “ Shalat subuh berjamaah yuk ! sudah terdengar suara adzan tadi. Kau tidak mendengarnya ? “ kata Giska. Ali menatap Giska tajam sedangkan Giska hanya tersenyum.
Setelah shalat selesai di tunaikan, Keduanya berdoa. “ YA ALLAH…Semoga pria yang ada di depanku ini adalah calon imamku. Amin…” kata hati Giska. Kedunya kemudian terlihat khusyuk berdoa. Setelah selesai, Ali pun memulai pembicaraan dengan Giska. “ Giska, nanti pukul 6 pagi kau harus segera berangkat ke pasar. Cari bahan yang sudah aku tulis untukmu semalam. Ingat pesanku, jangan sampai kurang dan jangan sampai telat. “ kata Ali yang kemudian pergi ke luar. Giska tertunduk lagi. “ andai aku bisa meminta dia untuk menemaniku membeli bahan-bahan untuk memasaknya. “ kata Giska.
Keluar dari kamar Ali bukannya sudah rapi, ini malah masih sangat berantakan. Saat keluar tenyata berbarengan dengan Maya. Maya yang menyadari Giska keluar dari kamar Ali langsung mendatangi Giska dengan sombongnya. “ Hey ! kau. Kenapa keluar dari kamar Ali ? “ kata Maya. Mendengar itu, Giska menatap Mya tajam mengikuti gaya Ali saat menatapnya sendiri dengan tajam “ bukan urusanmu ! “ kata Giska yang kemudian masuk ke kamar tamu yang semalam di tiduri Maya.