
*©®*
Joon membalikkan badannya dan berjalan lesu menuju parkiran tempat Sang Woo dan Seung Chan yang sudah
menunggunya. Ia merasakan perasaan kecewa yang amat sangat karena untuk yang kesekian kali Anna menolaknya lagi. Padahal ia sudah menghilangkan seluruh gengsinya untuk mengungkapkan perasaannya pada Anna.
“Hyung, Anna sudah berangkat?”
Joon mengangguk dan duduk disebelah Sang Woo. Sang Woo yang paham memilih untuk diam dan melanjutkan perjalanan ke Asrama. Sang Woo tau Joon butuh waktu sendiri dan tak ingin diganggu, oleh karenanya Sang Woo sibuk menyetir dan tak bertanya lebih lanjut lagi.
“Joon oppa, aku lupa memberikan ini pada Anna tadi.”
Joon menoleh ke bangku belakang dan melihat Seung Chan memberikan sesuatu padanya. Sebuah gelang berbentuk raket dan shuttlecock berwarna kuning keemasan. Sebegitu cintanyakah dia dengan badminton hingga pernak perniknya pun tak jauh dari badminton?. Tanpa sadar Joon tersenyum memikirkannya.
Ah Caltha-si, kenapa kau egois sekali? Setelah membuatku tergila gila kau menolak dan menyuruhku menyerah, kau fikir aku akan menyerah? Tentu saja tidak! maaf karena ini adalah pertama kalinya aku merasakan apa itu cinta dan aku tak akan menyerah sebelum berhasil mendapatkanmu. Bathin Joon.
Joon tersenyum sambil terus memandangi gelang milik Anna. Lelaki itu masih tersenyum seraya terus berfikir bagaimana cara ia merealisasikan niatnya. Sesuai keinginannya ia akan memperjuangkan wanita itu! tak peduli apapun dia akan memperjuangkan Anna.
“Hyung gwenchana?”
Sang Woo menatap khawatir pada Joon yang terus saja tersenyum sepanjang perjalanan mereka kembali keasrama. Padahal tadi dibandara lelaki itu mengemudi dengan wajah tertekan dan juga setelah mengantar Anna wajahnya sangat murung seperti patah hati.
“Gwenchana.”
Joon menatap Sang Woo dengan senyum penuh rahasianya. Meskipun bingung Sang Woo tak berniat untuk bertanya lebih lanjut. Ia melirik Seung Chan melalui kaca mobil seolah bertanya apa yang terjadi? Dan Seung Chan hanya menggeleng tak tau. Sama seperti Sang Woo, gadis itu juga bingung dengan perubahan ekspresi yang cepat dari seorang Min Joon.
*©®*
Anna sampai di Indonesia tepat pukul 22.00 WIB. Dia merenggangkan kedua tangannya, badannya sangat pegal setelah terbang sekitar 7 jam dari Korea tadi. Anna memutuskan untuk duduk disalah satu bangku yang ada dibandara, menunggu Myara yang berjanji akan menjemputnya.
“Anna!”
Anna menoleh dan melihat seorang wanita cantik dengan rambut sebahu berwarna coklat yang tergerai indah berlari kearahnya. Anna tersenyum dan melambaikan tangannya pada wanita itu. Ia agak sedikit kerepotan dengan banyaknya barang bawaannya saat mengejar Myara.
“Myara... uh kenapa kau lama sekali.”
Wanita yang dipanggil Myara itu tersenyum manis dan kemudai mencubit pelan pipi putih Anna.
“Kau fikir aku naik pesawat jet kesini? Dan apa kau lupa kalau kita tinggal didaerah yang macet ha?”
Anna menggeleng, mematahkan perkataan Myara.
“Macet? Mana mungkin, sudah jam 10 ini.”
“Hehe... susah sekali membohongimu An.”
“Ayo jujur kau habis darimana?”
“Nanti saja kita cerita, apa kau lapar?”
Anna mengangguk, saat Myara mengatakan lapar itu berarti Myara benar benar berada dalam satu kesulitan atau kegalauan. Dan Anna rasa saat ini perannya sebagai sahabat dibutuhkan Myara. Meskipun lelah, teman tetap menjadi prioritas utama Anna.
Mereka berjalan memasuki restoran favorit yang sering mereka kunjungi. Myara menyebutkan pesanan mereka. Kemudian wanita itu menumpukan kedua telapak tangannya, ia menatap wajah Anna dan menunjukkan wajah sendunya yang seolah mengatakan betapa galaunya ia saat ini.
“Kau galau kan? Ayolah cerita ada masalah apa.”
“Huftt...” Myara menghela nafasnya pelan.
“Putus? Alhamdulillah... selamat Myara.”
Anna tersenyum senang seraya mengulurkan tangannya kepada Myara. Myara melihat uluran tangan itu dan senyum Anna yang membuatnya ingin menangis saja. Bagaimana mungkin kata kata pertama yang keluar dari mulut seseorang yang mendengar sahabatnya putus adalah selamat? Huh yang benar saja!
“Anna!” rengek Myara frustasi.
“Hehe... aku senang sekali kau putus. Pacaran itu tidak baik Myara, merusak hatimu, membuang buang tenaga dan juga membuang buang uangmu hanya demi menghabiskan waktu bersama orang yang belum tentu menjadi suamimu kedepannya.”
“Anna... ish kau mulai ceramah lagi!”
Myara menatap Anna kesal dan bertepatan dengan datangnya pesanan mereka. Ia langsung mengambil minuman yang dipesannya dan meminumnya cepat. Tak memperdulikan minuman yang dipesannya masih panas. Alhasil lidahnya terbakar panasnya minuman itu.
“Aahh... Anna tolong aku!”
“Hahahaha... Myara, ada apa denganmu? Sudah tau itu panas.”
“Anna! Kau tega sekali, tadi kau tertawa saat aku bilang aku baru putus. Dan sekarang kau tertawa karena aku kepanasan, menyebalkan!”
Anna menghentikan tawanya karena kasian melihat wajah sahabatnya yang sudah memerah menahan kesal.
“Bukankah itu yang dinamakan teman?”
Myara memajukan bibirnya kesal. Skak mat! Iya kena dan tidak bisa mengatakan apa apa lagi. bukankah dulu ia yang mengatakn kata kata itu pada Anna? Ia ingat saat itu Anna bercerita padanya tentang Reina yang memperalatnya tanpa ia sadari, Reina mengajaknya kesana kemari tanpa berterimakasih sedikitpun!
Dan dengan tawa yang elegan Myara menanggapi curhatan Anna, saat Anna protes ia menjawab Bukankah itu yang dinamakan teman?. Tapi setelah itu ia memeluk Anna dan mengatakan Aku hanya bercanda, aku tertawa agar kau ikut tertawa bersamaku dan melupakan masalahmu.
Kemudian dilihatnya Anna menggenggam tangannya dan mengatakan “Aku bercanda Myara, aku melakukannya agar kau tertawa bersamaku dan melupakan masalahmu.”
Berhasil! Myara tersenyum setelahnya. Mereka memang sangat berbeda, Anna dengan jilbab yang tak pernah dilepasnya dan Myara dengan gaya dan warna rambut yang selalu diubahnya. Anna dengan gaya yang biasa saja dan Myara dengan gaya yang fashionable dan make up yang tak pernah lepas dari wajahnya. Anna yang hanya seorang fotografer dan Myara yang berprofesi sebagai model.
Namun itu tak jadi penghalang, perbedaan itu malah semakin membuat mereka lebih dekat dan nyaman satu sama lain. Bahkan orang yang melihat mereka saja heran. Tapi untuk apa difikirkan? Yang penting mereka nyaman berteman satu sama lain.
“Tapi aku serius Myara, berhentilah pacaran, aku tak ingin temanku terus patah hati. Kau itu cantik, dan tak seharusnya patah hati.”
Myara menatap Anna dengan senyum manis terkembang diwajahnya. Ia tau bahwa temannya ini sangat tulus padanya dan dia juga tau apa yang dibilang Anna itu sepenuhnya benar. Tapi sungguh, dia belum bisa meninggalkan aktivitas pacaran itu. ia tidak bisa sendiri tanpa seorang kekasih.
Bingung ingin menanggapi pernyataan Anna, Myara sedikit menggodanya dan itu berhasil.
“Baiklah baiklah, oh ya bagaimana pekerjaanmu diKorea? Apa kau bertemu oppa tampan disana?”
Uhuuk!!
Anna tersedak bakso bulat yang baru saja dimasukkannya kedalam mulutnya. Matanya memerah dan setetes air mata mengalir dipipinya. Sungguh ini sakit sekali, bagaimana tidak? sebuah bakso bulat berhasil tertelan tanpa dikunyah dengan sempurna oleh Anna.
“Hei pelan pelanlah.” Myara menyerahkan segelas air putih kepada Anna dan dengan cepat Anna menenggaknya.
“Habis pertanyaanmu menyebalkan sekali.”
“Aku kan hanya bertanya, ya siapa tau seorang Anna jatuh cinta. Itu kan sebuah kejaiban.”
“Makanlah dulu... aku tak ingin tersedak lagi.”
“Baiklah baiklah.”
Myara mengangguk dan mereka melanjutkan makan mereka dalam tenang. Yah, beginilah ketika Myara dan Anna bertemu, mereka hanya butuh sharing dan didengarkan. Masalah ada solusi atau tidak itu belakangan, karena yang terpenting bagi mereka adalah didengarkan, itu sudah cukup.