Our Destiny

Our Destiny
teman



Pertemuan dua insane kecil yang masih polos ini, menjadi sorotan keluarga Giska dan juga keluarga Rahmat. Rahmat terlihat malu-malu saat Giska mendekat. “Kau suka makan ?” kata Giska. Rahmat tersenyum dan lalu menggeleng. “Aku sangat suka makan lobak putih dan ayahku selalu mengajarkan aku cara memasaknya. Apa kau juga mau lobak putih buatan ayahku? Enak sekali, aku jamin deh…!”kata Giska. “ Aku hanya ingin makan buatanmu saja. Bukankah tadi kau bilang ayahmu sering mengajarkanmu cara memasaknya ?” kata Rahmat. Semua keluarga tertawa.


Giska kemudian menghampiri ayahnya kembali dan lalu berkata pada ayahnya “Ayah aku ingin belajar lebih giat lagi untuk memasak lobak putih. Nanti kalau aku sudah bisa, masakanku akan aku berikan pertama kali padanya” kata Giska sambil menunjuk pada Rahmat. Semuanya tertawa lagi. “Apakah kita sudah berteman ? kalau belum maukah kamu menjadi temanku ?” kata Rahmat sambil menguluran tangannya mengajak bersalaman. “ Aku mau menjadi temanmu.” Kata Giska sambil bersalaman dengan Rahmat. “Wah…kalian sudah berteman rupanya. Kalau begitu pergilah main di halaman sana !” kata ibunya Rahmat.


Tanpa berpikir panjang, Giska dan Ramat langsung berlari kehalaman depan rumah Rahmat. Mereka berlari riang dan bangga karena merasa punya teman yang baru. “Hm…senangnya melihat mereka begitu bahagia. Aku ingin sekali tawa dan senyuman itu menjadikan mereka anak-anak yang kuat dan hebat” kata ibunya Rahmat. “Ya, semoga begitu.”kata ibunya Giska.


“kalau boleh tahu,kalian ini pasangan baru ya ? terlihat kalian masih sangat muda. Kalau kami, sudah lama sekali menikah. Sudah punya anak 4 dan Rahmat ini adalah anak bungsu kami” kata ibunya Rahmat. “Oh, begitu. Saya lihat Rahmat ini anaknya pemalu ya ?” kata Ayahnya Giska. “Bukan begitu. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan wanita. Sebelumnya dia hanya bermain dengan temannya yang laki-laki semua. Itu sebabnya saat bertemu dengan Giska, Rahmat jadi pemalu seperti itu.” Kata ayahnya Rahmat.


Sementara Giska dan Rahmat yang saat ini sedang bermain bersama di taman halaman rumah Rahmat, mereka sedang berlari saling mengejar. Tak lama kemudian mereka terlihat lelah dan lalu tiduran di taman itu sambil membentangkan tangan. “Ah…lelah sekali…”kata Giska. Rahmat melihat Giska sambil tersenyum. Giska pun tersenyum balik. Keduanya perlahan tertawa.


Mereka tertawa bahagia di taan itu, semakin lama dan lama. Tanpa terasa waktu terus berjalan hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Ternyata 3 tahun sudah berlalu dan mereka masih saja bermain di taman itu. Mereka tamak sudah semakin besar dan umur mereka sudah menginjak 9 tahun. “Kita akan menjadi teman yang sangat dekat nanti. Apa kau keberatan ?” kata Rahmat. Giska menggeleng. “Kalau perlu kita menikah” kata Giska. Keduanya saling tersenyum. Tiba-tiba, ibunya Giska memanggil Giska “Giska……” kata ibunya. Giska tersenyum pada Rahmat dan lalu menghampiri ibunya dan melambaikan tangannya pada Rahmat.


Sore hari yang indah, Ibunya Giska tengah memasak. Erik sedang ada di sampingnya saat itu. Sedangkan Giska baru saja mengintip ayah dan ibunya ini saat sedang bermesraan sambil memasak. Giska tersenyum jahil dan kemudian berlari ke ruang tamu. Tak lama kemudian saat ibu dan ayahnya tengah tertawa senang, tiba-tiba saja Giska berteriak “Ayah……..!!!!!!!!!!!!”. Mendengar itu, Vira dan Erik segera menghampiri Giska yang ternyata ia sedang berdiri tegak sambil makan ice cream. “Hey sayang, kamu kenapa berteriak seperti tadi ? kamu tidak apa-apa bukan ?” kata ayahnya Giska. Giska tersenyum. “Aku ingin ikutan sama ayah dan ibu memasak. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya supaya aku bisa ikutan. Aku ingin memasak Lobak Putih yang kemarin ayah buat. Aku ingin menjadi chef seperti ayah.” Kata Giska. Erik tertawa, begitupun Vira.


Malam harinya, Giska di temani oleh ibunya sebelum tidur. Ibunya menceritakan sebuah dongeng untuk Giska sebelum dia tidur. Sementara Rahmat, yaitu teman baru Giska. Kini tengah menggambar seseorang di buku gambarnya. Dia terlihat sesekali tersenyum. “Giska, semoga kita cepat bertemu kembali. Aku sangat suka senyumanmu yang manis itu. Apalagi sekarang kita sudah menjadi teman. Aku sudah tidak sabar untuk menemui pagi kembali agar aku bisa segera bertemu denganmu. Teman baruku yang paling cantik seperti Barbie fairytopia” kata Rahmat.


Akhirnya malam sudah berlalu dan pagi datang kembali menyapa dengan kehangatan sang mentari. Giska terbangun dari tidurnya karena ia harus segera mandi dan berangkat sekolah. Ibunya masuk saat Giska sedang memakai seragamnya sambil berbicara “Sepulang sekolah nanti, kamu tunggu sampai ayahmu yang menjemput ya ? soalnya ibu ada urusan hari ini dan ibu sudah minta izin ayahmu.”


Mendengar itu, Giska terlihat cemberut. “Kamu kenapa sayang ?” kata Ibunya Giska sambil membantu Giska memasang kancing di bajunya. “Kalau ayah yang jemput pasti selalu terlambat. Soalnya ayah selalu sibuk. Dulu juga suka begitu. Sudah janji tapi jarang sekali di tepati.” Kata Giska. “Kamu tenang saja. Ayahmu kali ini tidak akan begitu.” Kata ibunya. “Ayolah bu…kenapa harus ayah yang nanti menjemput Giska. Giska maunya sama ibu. Kalau sama ibu kan Giska bisa langsung pulang meski itu harus jalan kaki. Lagian itu juga tidak setiap hari.” Kata Giska


“Ssuuuttt…..jangan keras-keras suaranya nanti ayahmu mendengarnya. Kalau dia mendengarnya, nanti dia bisa marah. Kamu tenang saja nanti ibu akan suruh ayahmu untuk menitipkan kamu sama teman baru kamu, Rahmat. Sepulang sekolah nanti, kamu bisa meminta Rahmat untuk menemani kamu manunggu ayah.” Kata ibunya. Giska mengangguk. “Ya deh…” kata Giska. Ibunya Giska menggeleng.


“Aku sekarang tinggal berangkat ke sekolah. Semoga aku bisa bertemu dengan Giska. Teman, aku akan segera bertemu denganmu lagi.” Kata Rahmat.


~ Bersambung ~