
“Oppa, aku...”
“Kumohon Anna, izinkan aku menentukan apa yang harus kulakukan kedepannya. Izinkan aku mempelajari dulu sebelum aku memutuskan apa yang harus aku lakukan kedepannya, aku hanya tak ingin menyesal dikemudian hari Anna.”
Anna tertegun mendengar pernyataan Joon. Apa yang harus ia lakukan? Ingin sekali rasanya Anna menjawab ‘iya’ atas permintaan Joon padanya. Siapa pula yang tidak ingin jika orang yang dicintainya ingin memperjuangkan sesuatu demi bersamanya.
Tapi...
“Anna-ya, kumohon beri aku waktu. Aku berjanji akan secepatnya kembali dan meruntuhkan batasan yang membuat kita sulit bersama.”
Anna tertegun dan merasakan keraguan. Namun ia melihat raut wajah Joon yang menunjukkan kesungguhan. Ia pun tertegun dan hatinya melemah, ia menghela nafasnya meskipun hatinya melemah, ia tetap harus memegang teguh bentengnya.
“Lakukan semua seperti yang kau inginkan oppa. Aku hanya tidak ingin kau melakukannya karenaku. Karena aku yakin itu tidak akan bertahan lama, semua akan hancur ditengah jalan jika kau melakukannya tidak sesuai dengan keinginan dan kata hatimu yang sebenarnya.”
Joon tersenyum. “Awalnya aku memang melakukannya karena dirimu Anna. Namun, semakin aku mempelajarinya semakin aku tertarik.”
Joon memberi jeda disetiap perkataan yang akan dikatakannya pada Anna.
“Jadi, kumohon tunggu aku, sedikit lagi aku ingin menuntaskan rasa penasaranku. Memastikan kalau itu memang keinginan hatiku, bukan hanya ketertarikan semata.”
Anna tersenyum haru, air mata mengenang dimatanya. Namun ia tahan, tidak. Ia tidak boleh mengeluarkan air matanya apapun yang terjadi. Bukankah seharusnya ia bahagia?
“I’ll be waiting for you oppa.”
Satu kalimat yang terlontar dari mulut Anna dan itu sukses membuat senyum kembali terkembang diwajah Joon. Manis, sungguh manis. Senyum itu mampu membuat Anna terdiam sejenak karena terpesona. Namun secepat kilat ia menggelengkan kepalanya.
Astagfirullah, sadar Anna!
“Oppa, kau kembalilah. Mungkin Sang Woo dan pelatihmu sudah mencari.”
“Bukankah kau yang menahanku disini sejak tadi?”
Anna menaikkan sebelah alisnya bingung. Dia menahan Joon? Jelas jelas lelaki itu yang menghampirinya tadi.
“Kapan aku memanggilmu oppa?”
“Kau masih tidak sadar dan tidak mau mengakui?” Joon menatapnya dalam dengan ekspresi tercueknya.
“Tidak, untuk apa aku mengakuinya? Toh aku benar benar tidak menyuruhmu menghampiriku.” Anna menjawabnya tak kalah jutek.
“Siapa bilang kau tak memanggilku?”
“Aku.”
Joon mendecih sebentar. “Tapi wajahmu memanggil manggilku sejak tadi! Bahkan saat aku bertanding difinal wajahmu mengalihkan perhatianku seperti ingin dibawa kembali ke Korea.”
Deg!
Kata kata Joon yang biasa disebut gombalan itu berhasil membuat kegugupan didiri Anna menguak keluar. Walau Joon mengucapkannya dengan nada datar dan terkesan terpaksa, namun itu sudah cukup membuat seorang Anna terdiam saking gugupnya.
“Min Joon oppa, neo!”
“Apa? Kau malu mendengar perkataanku? Kau fikir aku menggombal? Cih! Kau pede sekali.” Joon menyilangkan kedua tangan didadanya.
“Ya!!! Kembalilah sana, kau mengganggu pekerjaanku saja!”
“Pekerjaan apa? Sudah jelas partai final terakhir itu aku, dan aku sudah selesai. Jelas sekali kau gugup Ny. Min.”
Joon semakin menggoda Anna yang sudah memerah wajahnya. Lelaki itu tak peduli dengan raut wajah Anna yang sudah merona malu. Ia hanya ingin menggoda Anna lebih lama lagi.
“Hajima!” Joon mendramatisir keadaan dengan merengek kuat pada Anna.
Anna menutupi sebagian wajahnya dengan jilbab dan berjalan meninggalkan Joon. Bahkan ia membentuk isyarat ‘Sungguh aku tak kenal dia’. Dan Joon terkekeh pelan melihatnya.
Joon tersenyum manis menatap kepergian Anna. Sungguh ia merasa beruntung dipertemukan dengan Anna. Siapa yang menyangka ia akan jatuh cinta pada wanita pertama yang mengatakan permainannya rendah dulu? Wanita yang bersikeras tidak akan membutuhkannya.
Wanita yang dengan senang hati dan tanpa gengsi yang tinggi menarik kembali perkataannya dan meminta bekerja sama dengannya. Wanita dengan senyum manisnya yang selalu terkembang bahkan saat ia berusaha memancing keributaan.
Wanita yang sederhana penampilannya. Tidak belebihan dan juga wanita yang dianggapnya memiliki banyak sekali aturan yang tak dimengertinya. Wanita dengan arti nama yang indah.
Wanita itu, Anna! Caltha Ghaisanna Aryani.
Apapun yang terjadi kumohon tunggu aku Caltha-ya.
*©®*
"Sampai kapan kau akan berusaha menentangku hingga akhir Joon?" suara lemah terdengar dari suara sang ibu yang menunjukkan kesedihan karena kali ini Joon memiliki keinginan yang sangat jauh berbeda darinya dan bahkan hal ini membuatnya sedih.
"eomma, aku tahu ini berat.. Aku juga tidak bisa menentukan keinginanku... Keinginan itu terlalu kuat untuk aku abaikan.. Aku sudah mempelajarinya dan hatiku menganggap bahwa aku nyaman dengan semua ini." Joon memegang kedua tangan eommanya dan berusaha menjelaskan dengan menatap matanya.
"Aku tidak ikhlas Joon, aku tau semua agama mengajarkan kebenaran, tapi apakah tidak boleh aku berharap kau dan aku seiman hingga akhir?"
"Eomma, kumohon."
"Joon, kumohon." eomma mengikuti kalimat Joon dan mengucapkan hal yang sama.
"Aku akan lakukan apapun asal eomma mengizinkanku mempelajari dan menetap di agama ini eomma." Joon menatap wajah eommanya sendu.
"Apa ini karena wanita aneh itu?" ucapan eomma Joon tepat sasaran dan membuat lelaki itu tertegun.
"Kau diam dan berarti ya kan? apa yang sudah dilakukannya padamu? apa yang sudah diberikan padamu sehingga kau mengikutinya!"
"Eomma!" Joon memprotes dengan nada lemahnya.
"Benar bukan? karena wanita aneh itu?"
Joon menghela nafas dan memegang kembali kedua tangan eommanya. Membawanya duduk dan menjelaskan sesuatu dengan lembut. "Aku tidak berpindah karenanya eomma. Aku memang menyukainya, namun aku menemukan kedamaian dalam agama ini.. Aku belum berpindah memang, aku hanya ingin mencari tahu lebih dalam dan memastikan keinginan dan keputusan yang akan aku ambil kedepannya tidak salah."
Eomma Joon menatapnya sedih. Ia sedikit terkaget dengan cara Joon menjawab pertanyaannya. Biasanya anaknya itu akan memarahinya dan menentangnya dengan nada tinggi dan dingin. Namun kali ini Joon mengajaknya untuk duduk dan menjelaskannya dengan lembut.
Itu membuat hatinya sedikit melunak...
"Jadi kau benar benar bertekad untuk menentangku dalam segala hal?"
"Eomma kau tau bukan itu maksudku." Joon menatap wajah eomma dengan sendu. jujur ia tau ini menyakiti ibunya, namun mau bagaimana keingintahuannya menimbulkan minatnya untuk mempelajari lebih jauh tentang agama yang dianut oleh Anna.
Ia merasakan kedamaian dan semacam candu untuk terus mempelajarinya.
"Baiklah jika kau tetap memaksa, aku mengizinkanmu dengan satu syarat" Eomma Joon menatapnya dengan air mata berlinang namun tekad yang kuat.
"Syarat apa eomma?"
"Jika kau benar-benar merasa nyaman, jangan pernah kau berani mendekati dan mengunjungi wanita itu lagi!"
dan Joon tertegun sembari menatap eommanya.
"Eomma..."