Our Destiny

Our Destiny
Pesan Anna



*©®*


Anna tersenyum miris setelah memutuskan sambungan telfon dengan Min Joon. Yah, harus ia akui bahwa ia sangat mengkhawatirkan lelaki itu. saat tadi ia menerima kabar bahwa Min Joon dan Park Sang Woo walkover ia bergegas mencari tau penyebabnya. Dan setelah itu dengan segera menghubungi Min Joon untuk tau keadaannya.


Ah, berdosakah ia karena merasakan perasaan terlarang ini? bolehkah ia mencintai Joon  meski dalam diam? Ia


berjanji tak kan memberitahu siapapun. Ia hanya akan menyimpan perasaan itu untuk dirinya sendiri. Namun akal sehatnya menolak, ia tetap tidak boleh mencintai lelaki itu apapun yang terjadi.


“Ya Allah adakah keajaiban yang mungkin bisa mempersatukanku dan Joon ?”


Anna tersenyum miris hingga satu kesimpulan masuk di benaknya. Tentu saja tidak mungkin! Hanya ada satu keajaiban yang bisa membuat ia dan Joon  bersatu. Yah, salah satu dari mereka harus mengalah dan mengikuti agama pasangannya. Anna menggeleng, sudah pasti itu bukan dirinya.


Bagaimana dengan Min Joon? Lelaki itu juga tidak mungkin berpindah dari agamanya. Anna yakin itu, bahkan lelaki itu pernah menawarkan untuk hidup bersama dengan keyakinan masing-masing. Bukankah itu tandanya ia takkan mengalah? Anna mencoba tersenyum manis, berusaha melupakan kegalauan dan kegundahan yang menyerang hatinya.


Min Joon bogoshippeo.


Annna memeluk ponsel sembari menghapus sebulir air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Tanpa ia sadari ibunya melirik dari luar dan mendengar sedikit percakapannya dengan Joon. Ibunya memang sudah tau jika ada yang salah dari awal. Untuk itu ia masuk dan mendapati Anna masih berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir di pipinya.


"Anna kenapa?" Ibunya masuk dan membelai lembut rambutnya


"Anna gak kenapa napa bu, Anna cuma lagi rindu Myara."


"Jangan bohong... Ayo cerita," Ibu tersenyum dan Anna merasa bisa percaya untuk bercerita pada ibunya.


"Ibu jangan beritahu Ayah dan Bang Danu yah?" Ibu Anna mengangguk dan kemudian Anna mulai bercerita bahwa ia mulai menyukai Joon. Namun ia sadar perasaan itu tidak akan mungkin ia kembangkan dan hanya akan menjadi perasaan yang harus ia enyahkan.


"Anna, menyukai lawan jenis merupakan satu hal yang wajar dan diperbolehkan asal sesuai kadarnya.. Menyukai lawan jenis itu pertanda kau normal.. Tapi Anna harus tau sayang, agama kita tidak memperbolehkan kita menikah dengan yang berbeda agamanya... Tidak ada pilihan lain selain merelakannya ya nak," Ibu Anna tersenyum dan menghapus bulir air mata yang jatuh tanpa diminta oleh Anna.


"Anna tau bu, Anna akan menghapus rasa itu." Anna tersenyum miris.


"Untuk sekarang menangislah, emosi tidak boleh ditahan karena sewaktu waktu ia akan menguap kepermukaan dan menagihmu untuk mengeluarkannya."


Anna menangis, menangis sejadi-jadinya sembari memohon ampun pada Allah dan ibunya karena sudah merasa berdosa merasakan perasaan pada orang yang tak seharusnya. Setelah sedikit lega, ibu Anna melepas pelukannya dan menatap Anna dengan ultimatum.


"Berhenti bekerja atau berhenti hubungi laki-laki itu?"


Anna tau kalimat ini akan keluar dari mulut ibunya, Anna yakin dan sudah tau apa yang harus dilakukannya. "Anna akan berhenti menghubunginya dan berinteraksi sewajarnya layak fotografer dan atlit saja bu, Anna janji... Jangan minta Anna berhenti."


Ibu Anna melihat Anna merengek. Ia tau putrinya amat mencintai pekerjaan ini. Ia yakin iman Anna jauh lebih kuat dan tak mungkin meninggalkan agamanya. "Baiklah, janji sama ibu baik-baik disana dan jaga hati?"


Anna mengangguk dan sekali lagi memeluk ibunya.


*©®*


Manis, manis sekali. Sudah dibilang bukan bahwa adalah akan terlihat sangat manis jika seorang Min Joon memutuskan untuk tersenyum.


Min Joon, lahir di Daegu 9 Maret 1993. Anak satu satunya dari keluarga Min. Yah, banyak yang tidak tau bahwa bakat yang mengalir dari diri pria pucat namun menggoda itu berasal dari sang ayah yang juga merupakan legenda pemain badminton Korea, Min Jae Joo.


Meski terlihat garang dilapangan namun Joon  memiliki sifat yang baik jika kalian mencoba mengenalnya lebih jauh. Meski terlihat dingin namun Joon  memiliki cara sendiri dalam bersosialisasi dengan orang orang disekitarnya. Ia hangat dengan caranya sendiri.


Ingin mengenalnya lebih jauh...?


Joon  tersenyum membaca kata demi kata yang ditulis Anna didalam biografinya. Sungguh Anna pandai merangkai kata hingga membuatnya tersenyum sendiri meski sakitnya belum sepenuhnya sembuh.


Joon  kemudian membalik lembar demi lembar biografi itu, matanya terus menatap kagum atas tulisan demi tulisan yang dibuat Anna. Cara ia menjelaskan dan mendeskripsikan Joon , keluarga, teman dan profesinya membuat Joon  terkagum kagum.


“Caltha, bisa buatkan aku 2 atau 3 biografi lagi? Haha...”


Joon  terkekeh dengan perkataannya sendiri. Saking kagumnya ia dengan foto dan tulisan Anna membuatnya bermonolog dengan dirinya sendiri. Tak lupa senyum manis semakin terkembang diwajah pucatnya.


Joon  melanjutkan membaca halaman selanjutnya dengan senyum yang semakin mengembang. Manis, sungguh manis sekali. Bahkan mata sipitnya yang hilang akibat tersenyum semakin menambah kemanisannya.


Ini aku, seorang fotografer yang baru memulai menulis biografi dan langsung dipercaya menulis biografi seorang


pebulutangkis dengan bakat yang sangat hebat. Ah beruntungnya. Tapi jangan fikir bahwa jalanku untuk menulis biografinya mudah lo, aku membutuhkan perjuangan ekstra keras untuk menyelesaikannya.


Min Joon, lelaki tampan dengan kelebihannya yang bermain cepat didepan net, pukulan tipuan dan ajaibnya didepan net serta kelihaiannya mengontrol permainan sebenarnya adalah orang yang sangat dingin namun ambisius. Tapi aku menyukainya, aku menyukai ambisinya untuk terus meraih kemenangan disetiap pertandingan yang ia jalani.


Perlu kalian semua tau bahwa dulunya Min Joon tak begitu menyukai profesi ini lo. Aku saja baru mengetahuinya setelah biografi ini 50% selesai. Takjub dong? Tidak suka saja bisa jadi juara diberbagai turnamen, kebayang gak sih kalau dia mencintai profesi ini?


Nah, walaupun dingin Joon  ini perhatian lo, dia dengan baik hatinya mencarikanku apartemen untuk disewa. Mencarikanku restoran halal dan mentraktirku makan disana, bahkan dia juga mencarikanku tempat untuk sholat. Hehe...


Hey Min Joon, teruslah tatap masa depanmu. Jangan paksakan sesuatu jika memang itu bukan takdirmu. Dan teruslah belaajar memaafkan. Aku sangat senang pernah bekerja sama denganmu. Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu.


Min Joon oppa, bolehkah aku berteman denganmu?


Joon  menyentuh lembaran biografi itu, ia mengelus fotonya dan foto Anna. Yah, mereka akhirnya berfoto bersama sesuai permintaan Joon. Foto itu diambil oleh Hyun Ki. Posenya adalah mereka duduk berseberangan disebuah meja. Postur tubuhnya menghadap kesamping kamera, mereka tersenyum bahagia disana.


“Sudah kukatakan aku hanya ingin kau menjadi milikku. Pertemanan denganmu tak berlaku untukku Caltha-ya.”


*©®*