
*©®*
Sementara itu dipesawat yang berbeda, Hyun Ki dan Beom Soo juga bersiap siap untuk mendarat di Jakarta. Yah, mereka akan melakukan konser dan fan meeting disana. Raut wajah bahagia tercetak jelas diwajah Hyun Ki. Ia tau pagelaran Indonesia open akan diadakan dan sudah pasti Anna ada disana.
Ia bahkan sudah tak sabar untuk mengunjungi Anna disana dan memberikan Anna albumnya yang sudah ditanda tanganinya. Bahkan lelaki itu mendadak ingin mengungkapkan perasaannya dan melamar Anna untuk jadi istrinya setelah menghadiri pengajian pra nikah bersama Tae Muminggu lalu.
flashback on
“Jadi kau akan melangkahiku Tae?”
Senyum yang terkembang diwajah Tae surut, kali ini pria itu berbicara setengah merengek pada Hyun Ki.
“Kalau begitu halalkanlah Anna. Kau menyukainya kan?”
Hyun Ki mendadak gugup dan Tae Mumenyadarinya.
“Halalkan atau kau akan menyesal hyung, bahkan Joon sudah mulai bertanya tanya tentang islam padaku. tidak tertutup kemungkinan dia akan menjadi muallaf dan melamar Anna bukan?”
Hyun Ki terdiam. Perkataan Tae Mu memang masuk akal, namun dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan kegugupannya.
“Jodoh tidak akan pernah tertukar Tae.”
“Tapi akan diambil orang jika kau tak bergerak cepat.”
*flashback off
Yah, meski awalnya Hyun Ki tak ingin mengungkapkan perasaannya pada Anna karena percaya bahwa jodoh takkan pernah tertukar dan juga ia berfikir ia sudah cukup berusaha dengan mendekati Anna selama ia menjadi fotografer Hyun Ki akhirnya merubah fikirannya.
Ia akan mengungkapkannya pada Anna. Bukankah gadis itu hanya ingin lelaki yang serius padanya? Bukankah saat ini ia termasuk kedalam lelaki yang serius itu? ia 'bahkan sudah bisa melafalkan Al-qur’an dengan fasih berkat bantuan Tae Mu. Jadi dia sudah masuk kriteria imam yang baik bukan?
Hyun Ki tersenyum dengan pemikirannya sendiri. Ah, benarkah pilihannya ini? apakah Anna akan menerimanya? Apa Anna akan menerima cincin yang sudah disiapkannya ini? yah, Hyun Ki bahkan langsung menyiapkan cincin untuk melamar Anna menjadi istrinya.
Sungguh ia telah menyiapkan semuanya!
Hyun Ki terus saja tersenyum sembari berlatih tentang apa yang akan diucapkannya pada Anna saat mereka bertemu nanti. Bagaimana ia akan melamar Anna dan kapan pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah Anna menerimanya nanti, dan juga dimana akan dilaksanakannya pernikahan itu.
Di Koreakah? Atau di Indonesia? ah pemikiran itu semakin membuatnya tersenyum bahagia. Bahkan tanpa ia sadari ia sudah terkekeh pelan di bangkunya. Membuat Beom Soo yang duduk disebelahnya terbangun dan kaget.
“Hyung kau kenapa?”
Hyun Ki menoleh dan tetap tersenyum menatap Beom Soo.
“Beom Soo-ah, ucapkanlah padaku Hyun Ki fighting.!”
Beom Soo menatap Hyun Ki bingung. Apa Hyun Ki mabuk udara dan menjadi gila?
“Hyung gwenchana?”
“Ucapkanlah Beom Soo-ah.”
Kali ini rengekan keluar dimulut Hyun Ki. Ah entah kenapa semua orang sangat suka merengek akhir akhir ini.
“Geure... Hyun Ki hyung fighting!”
Dan senyum semakin terkembang diwajah tampan Hyun Ki.
*©®*
Joon bangun lebih pagi dan sudah siap dengan pakaian latihannya. Yah, ia akan melakukan latihan dan mencoba lapangan sebelum mulai berkompetisi besok. Ia duduk disofa hotel dan menunggu Sang Woo yang masih bersiap siap.
Lelaki itu membuka ponselnya dan menerima pesan masuk dari Tae Mu. Tae Mumengiriminya beberapa link video dan artikel tentang islam karena Joon memintanya kemarin. Yah, lelaki itu memutuskan untuk mencoba mempelajari sedikit tentang agama yang dianut Anna.
Ia akan mengikuti saran Sang Woo. Ia akan mempelajari dan mencoba mencari tau dulu. Jika semua sesuai dengan akal sehat dan logikanya ia akan mengikuti Anna. Jika tidak ia akan berusaha melupakan Anna walau itu akan sulit nantinya.
Dan masalah orangtuanya? Joon akan menjelaskan nanti. Ia yakin orang tuanya akan mengerti karena memilih agama adalah hak masing masing individu bukan? Dan juga ia yakin orangtuanya mengerti karena ia berpindah keyakinan karena keinginan hati dan kesesuaian fikirannya meskipun diawali dengan keinginannya untuk memiliki Anna bukan?
Ia mulai membuka dan membaca artikel disana. Tae Mumengiriminya banyak sekali artikel yang menjelaskan tentang bagaimana islam memandang wanita, islam mengatur kehidupan sehari hari dan bagaimana islam bersosialisasi dengan sesama umat beragama.
Dan satu artikel menarik perhatiannya. Artikel itu memuat salah satu ayat suci Al-Qur’an yang mengatakan bahwa “...Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (Qs. Al-Kafirun ayat 6)
Didalam sana menjelaskan bahwa memang ada toleransi umat islam sesama umat beragama. Baik itu dalam bertetangga, berteman bahkan memiliki keluarga yang berbeda keyakinan sekalipun tapi tetap dengan batas kewajaran yang tidak mengganggu keimanan kita.
Dan Joon mengerti kenapa Anna menolak mentah mentah sarannya untuk hidup bersama dengan kepercayaan
masing-masing. Itu karena dengan jelas kitab suci Anna sudah melarangnya. Dan Joon benar benar menelan mentah mentah kalimat tentang islam yang dibacanya dulu tanpa mempelajarinya.
Kemudian ia membaca lagi artikel yang dikirim Tae Mu, kali ini tentang memilih calon suami. “...jika seorang lelaki datang untuk meminang anak perempuan kamu dan kamu berpuas hati dengan agama serta akhlaknya, maka nikahkanlah ia dengan anak perempuanmu. Jika tidak maka akan terjadi fitnah dimuka bumi.” (HR Abu Hurairah Ra)
Joon semakin tertarik membacanya. Apakah ini salah satu kriteria Caltha dalam memilih suami? Lelaki sholeh yang bisa membimbingnya dan akhlaknya diridhoi ayahnya?
Joon terlihat berfikir dalam. Meski baru membaca beberapa artikel dan menonton beberapa video, Joon terlihat sedikit mantap dan tercerahkan. Dan satu rencana sudah terfikirkan dibenaknya.
Sang Woo datang sesudahnya, lelaki itu menatap Joon bingung, pasalnya saat ini lelaki itu tengah tersenyum manis padanya. Padahal dari dua hari yang lalu hingga ia bangun pagi tadi lelaki itu masih terlihat galau.
“Hyung, kau masih baik baik saja?”
“Tentu saja, ayo kita latihan Sang Woo-ah.”
Sang Woo mengangguk dan mengikuti Joon menuju istora senayan. Meski bingung, lelaki itu tak ingin bertanya lebih lanjut. Kalau Joon mau lelaki itu pasti akan bercerita padanya.
Mereka sampai di Istora Senayan. Sang Woo dan Joon memulai latihan mereka. Seperti biasa Joon dengan coach Min dan Sang Woo dengan coach Kim. Mereka melakukan latihan mulai dari latihan menerima serve mengembalikan netting tipis, smash tajam bahkan berlatih cara jatuh yang benar agar mereka tidak cedera.
Jadwal berlatih Sang Woo dan Joon hanya berlangsung sela 2 jam. Setelah itu mereka diperkenankan untuk istirahat sebelum malamnya menghadiri makan malam penyambutan dan pembukaan turnamen Indonesia Open.
“Joon , your skill is very good.”
Joon tersenyum dan menjawab Misaki ramah. “You too, and you’re beautiful.”
Mendengar perkataan Joon sontak membuat pipi putih Misaki memerah, wanita itu tersenyum malu, ia mengucapkan terimakasih dan berlalu meninggalkan Joon.
Joon terkekeh pelan melihat ekspresi dan rona malu diwajah Misaki. “Apa aku sebegitu tampannya hingga
membuatnya merona?”
“Tentu saja tidak.”
Sebuah suara mengagetkan Joon. Ia memandang orang yang menyambung ucapannya tadi.
“Caltha-si! Sejak kapan kau disini?”
Anna memandang Joon sebal “Sejak pagi! Bukankah tugasku memang memotret? Tentu saja aku sudah stay dari pagi.”
“Hahaha... apa kau cemburu?” goda Joon yang melihat wajah cemberut Anna.
“Cemburu? Tentu saja tidak Min Joon oppa, aku bahkan bersyukur kalau kau membuka hatimu pada wanita lain.”
Kali ini senyum terkembang diwajah Anna. Meski pedih, namun senyum itu terlihat tulus dan ikhlas.
“Oh ya, apa kau membawa coklat lagi?” Joon mengalihkan pembicaraan.
“Tentu saja, ini untukmu.”
Anna menyerahkan paper bag yang berisi 1 paket coklat kepada Joon dan Joon menerimanya dengan senang hati.
“Dari sekian banyak barang dan makanan kenapa kau memilih memberiku coklat?” tanya Joon menatap Anna.
“Karena coklat itu sama sepertimu oppa. Coklat itu terlihat pahit, tapi jika kau tau bagaimana cara menikmatinya
akan terasa manis bahkan menghangatkan. Contohnya coklat hangat... seperti itulah dirimu, terlihat sangat tidak sombong diluar, tapi jika dikenal lebih dekat kau akan manis dan hangat dengan sendirinya.”
Anna tertawa dan itu menyebabkan dirinya terlihat semakin cantik. Untuk kesekian kalinya Joon terdiam dan
terpesona wajah indah Anna.
“Tunggulah aku Caltha... aku akan mematahkan batasan itu demi bersamamu.”
Pelan, Joon mengucapkannya sangat pelan seolah tak ingin Anna mendengarnya.
“Ne? Kau bilang apa oppa?”
“Anyyieo, sampai jumpa besok Caltha.” Joon tersenyum manis dan berjalan meninggalkan Anna setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih atas coklat yang diberi Anna padanya.
*©®*
Anna masih tertegun bahkan gugup mendengar perkataan Joon yang lebih cocok disebut sebagai bisikan.
Lelaki itu mengatakan untuk menunggunya karena dia akan mematahkan batasan untuk bersama Anna. Apa maksudnya? Apakah lelaki itu akan?
Anna menggelengkan kepalanya. Itu adalah kemungkinan paling tidak mungkin yang pernah dibayangkannya. Bagaimana mungkin Joon akan mematahkan batasan itu dengan berpindah keyakinan? Anna tidak seistimewa itu hingga Joon ingin berpindah agama bukan?
Anna menghela nafasnya berat, ah seandainya saja itu benar. Ia terus saja mengatakan seandainya, seandainya dan seandainya. Kata kata itu membuatnya senang karena harapan yang ia buat. Namun disisi lain ia juga tau bahwa harapan itu akan menjatuhkannya kelubang kesakitan yang amat dalam.
“Sudah lama menunggu Anna?”
Anna mendongakkan kepalanya dan mendapati Hyun Ki sudah duduk didepannya. Lelaki itu masih sama tampannya seperti saat mereka bertemu pertama kali.
“Hyun Ki oppa. Kenapa kau terlihat sangat tampan hari ini?”
Hyun Ki terkekeh pelan. Sungguh dia merindukan wajah Anna dan merindukan saat dimana Anna menyapanya.
“Benarkah? Kalau begitu siapa yang lebih tampan? aku atau Yoo Seop?”
Anna tertawa pelan menanggapi pertanyaan Hyun Ki. Ia memegang dagunya dan tersenyum seolah berfikir.
“Karena kau seorang artis, penyanyi dan sekarang berpenampilan sesuai profesimu tentu saja tetap Yoo Seop yang tampan.”
“Ya!! Dari perkataanmu tadi seharusnya kau memujiku Anna.”
Hyun Ki memprotes sambil memasang ekspresi sebalnya yang seperti ibu ibu kehilangan jemuran. Namun tak sedikitpun mengurangi kadar ketampanannya.
“Aku bercanda oppa, kau tetaplah yang tertampan. Apalagi saat kau memakai baju Koko dan peci.”
Hyun Ki tersenyum senang. Hatinya berbunga bunga mendengar pujian Anna. Seketika ia merogoh sakunya dan mencari sesuatu yang akan diberinya pada Anna. Saat ia akan menaruhnya diatas meja ucapan Anna membuatnya mengurungkan niatnya.
“Oppa, apa aku boleh minta pendapat?”
“Ne? Ah, tentu saja.”
Hyun Ki tersenyum dan memandang Anna yang akan mulai bercerita padanya.
“Oppa, apa menurutmu suatu kesalahan jika kita menyukai seseorang yang berbeda keyakinan dengan kita?”
*©®*