
Keesokannya, Giska sepintas melihat Maya yang sedang di kejar-kejar oleh chefnya. Karena penasaran Giska pun mengikuti kemana chef mengejar Maya.
“ May, dengarkan aku dulu. “ kata pria itu sambil terus mengejar Maya yang sudah hampir menangis karena tidak mau di kejar oleh pria ini.
Giska yang dari tadi menguntit benar-benar merasa semakin penasaran.
Akhirnya Maya berhasil di tahan oleh pria itu saat di belakang sekolah. Meskipun dengan rasa tak rela, Giska tetap bertahan dan nguping pembicaraan mereka di samping perpustakaan.
“ May, kamu harus tenang dulu. Dengarkan aku baik-baik, kita ini teman. Okey teman. Kalau kamu mau aku seperti itu okey. Jangan seperti ini tapi. Aku khawatir. “ kata pria itu.
“ apa ? khawatir ? jangan-jangan chef …………(berfikir sejenak) ah…….tidak mungkin.” Kata Giska pelan.
Maya terlihat menangis
“hm…..wanita itu benar-benar…….” Kata Giska lagi dengan perasaan kesalnya.
Tiba-tiba saja pria itu memeluk Maya
Giska tercengang melihat itu. Ia buka matanya lebar dan jantungnya berpacu. Rasanya ia ingin berteriak sekeras mungkin. Tapi takut ketahuan akhirnya ia malah membekam mulutnya sendiri dengan tangannya. Dalam keadaan seperti itu malah handphonenya berbunyi. “ aduh……….siapa sih….!” Kata Giska pelan dan langsung melarikan diri takut ketahuan oleh Maya dan chef.
Begitu ia pikir keadaan sudah aman untuk mengangkat telpon, tiba-tiba…
“ Giska, ternyata handphone kamu yang bunyi..” kata Maya yang tiba-tiba saja muncul dengan chef.
Giska melihat ke arah chef dan terlihat chef menatapnya dengan tajam. Tentu saja itu membuat perasaan Giska tidak karuan. Dia pasti ketahuan ngintip oleh chef.
“ Aduh…..bagaimana ini..?” kata Giska dalam hatinya yang bimbang
“ Kau tidak perlu berkata bagaimana ini di dalam hatimu. Aku tahu kau mengintip kami dari tadi bukan ? “ kata chef
“ Bagaimana ia bisa tahu ??” Kata Giska masih dalam hatinya
“ Tentu saja aku tahu. Aku juga menebaknya. Dasar penguntit ! “ kata chef
Giska tertunduk karena malu pada Maya
Di kelas, Giska melamun meskipun tengah ada Pak Mamat sedang mengajarkan tentang agama. Giska masih terbayang saat Maya di peluk oleh chef . Pak Mamat yang menyadari hal itu sedari tadi, langsung saja menghampiri Giskadan bertanya
“ Giska, Rukun nikah itu apa saja coba jelaskan ! “ kata Pak Mamat
Giska masih terdiam melamun
Karena marah, Pak Mamat langsung memukul meja Giska dan akhirnya Giska pun tersadar. Pak Mamat menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Giska hanya tertunduk karena tidak tahu harus menjawab apa.
Pulang dari sekolah, Giska di hampiri oleh Rahmat. Giska terkejut saat melihat wajah Rahmat yang memucat. Bahkan tubuhnya terlihat lemas.
“ Rahmat ? kamu sakit ? tadi pagi kamu baik-baik saja. “ kata Giska saat menyambut Rahmat di kelasnya.
Rahmat menyandarkan kepalanya pada pundak Giska
“ Ya ampun…” kata Giska
Karena khawatir akan terjadi sesuatu pada Rahmat, akhirnya Giska mengantarkan Rahmat pulang dan mampir ke rumah Rahmat juga melupakan jadwal memasaknya dengan chef.
Pertama Giska menidurkan Rahmat di tempat tidurnya, lalu mengopresnya dengan air hangat dan lalu membuatkan bubur seadanya. Bahkan saat Rahmat memakan nya, ia langsung muntah-muntah. Kalau saja orang tua Rahmat ada bersama Rahmat, mungkin Giska tidak perlu repot-repot mengurus Rahmat. Rahmat yang terbaring sakit, masih sempat memikirkan bagaimana perasaannya terhadap Giska. Meskipun rasa bubur itu tidak enak, tapi ia sangat senang ada Giska di sampingnya saat ini.
Sementara chef, ia sudah menunggu Giska di teras depan rumah Giska. Hujan turun begitu lebat. Ingin pulang tapi tidak memungkinkan. Ingin masuk tapi pintunya di kunci. Mana mungkin ia masuk ke rumah orang tanpa permisi. Giska entah di mana dan ayah Giska belum pulang dari resturantnya. Akhirnya ia duduk di teras dan perlahan ia tertidur. Meskipun kedinginan tapi mau bagaimana lagi. Sepertinya ia sangat lelah.
Hujanpun reda sekitar pada pukul 17.30 WIB. Tiba-tiba Giska datang dan melihat chef tengah tertidur di teras.
Dengan hati-hati, Giska membangunkan chef yang sedang tertidur lelap.
“ chef..(sambil menggoyang-goyangkan pundak chef dengan jari telunjuknya). Chef….bangunlah..” kata Giska dengan suara pelan dan lembut
Akhirnya chef pun terbangun. Ia langsung menatap tajam Giska setelah ia melihat ke sekelilingnya sudah sangat sore.
“ Dari mana kamu seharian ini baru datang ? apa kau tahu ? aku dari sepulang sekolah menunggumu di sini. Hingga hujan turun, kedinginan, kelaparan dan menunggumu sampai sesore ini. Kau baru datang. Apa yang sudah kau lakukan ? apa kau sudah bisa memasak dengan benar ?. Kau menghindar dariku agar kau tidak bisa belajar memasak, begitu ?” kata chef dengan emosinya yang langsung pergi tanpa mau mendengar penjelasan Giska terlebih dahulu.
Namun belum sampai 4 meter dari rumah Giska, hujan turun kembali. Apalagi ayah Giska tiba-tiba datang. Mau tidak mau chef harus berteduh dulu dan menunggu hujan reda. Ayah Giska yang melihat chef dan Giska di depan rumah segera menghampiri keduanya. Betapa semakin kesalnya perasaan chef saat itu.
Begitu sampai di teras di depan, Giska masih tegak berdiri dan matanya yang berkaca-kaca.
“ Ayo Giska masuk. Ajak Ali juga . “ kata Ayah Giska.
Mendengar itu, Giska terkejut. Mendengar ayahnya mengatakannya tadi rasanya ia ingin mendengarnya ulang. Chef segera masuk sementara Giska masih terpaku. Matanya semakin memerah dan berkaca-kaca. Ia akhirnya tahu nama chef. Nama itu rasanya pernah menjadi bagian dari hidupnya. Tapi ia mencoba tegar. Giska segera masuk dan mengambilkan handuk untuk chef yang tidak lain adalah ALI. Sementara ayah Giska tangah membuat kopi untuk Ali.
“ Ali…(dengan ragu)eu.. aku minta maaf. ( duduk di depan Ali) Teman ku sakit. Aku merawatnya sebentar tadi. Orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Saat aku mau memberitahumu ternyata handphoneku low battery. Jadi,aku pikir mungkin kamu akan kembali jika aku tidak segera datang. Ternyata tidak. Aku benar-benar minta maaf ! “ kata Giska sedikit terbata-bata.
Ayah Giska pun menghampiri sambil membawa kopi hangat untuk Ali.
“ Paman mau mandi dulu ya ! kamu di temani dulu oleh Giska. “ kata Ayah Giska yang kemudian pergi mandi
Selama kurang lebih 6 menit mereka saling diam. Ali masih terus mencoba meredamkan kekesalannya sementara Giska tertunduk ragu tak tahu harus berkata apalagi.
Akhirnya Ali pun memulai bicara
“Baiklah. Aku paham sekarang. Untuk hari ini aku memaafkanmu. Lain kali aku tidak akan mau menunggumu sampai sesore ini. Kalau setengah jam saja kau terlambat, aku akan segera pergi. Mungkin itu lebih baik. Daripada seperti ini. “ kata Ali yang kemudian berdiri dan melihat ke luar jendela. Hujan masih terus turun dengan derasnya.
Ali kemudian meminum kopi buatan ayah Giska sambil melihat hujan turun. Ia merasa hangat sekarang setelah ia dari siang kedinginan. Giska mencoba memberanikan diri untuk mendekati Ali dan berdiri tepat di sampingnya. Melihat lebih dekat wajah Ali yang selama ini ingin ia lakukan adalah seperti sebuah tantangan baginya.
“ Kenapa ? kau sekarang sudah tahu siapa namaku ? aku sudah tahu tadi kau memanggilku Ali. Karena kau sudah tahu maka akan aku beritahukan panjangannya. “ kata Ali sambil menatap Giska.
Dengan senyum semanis mungkin ia berkata
“ AFANDI ALI “
Mendengar itu, hati Giska tertegun. Nama yang begitu mengesankan. Tak di sangka akhirnya ia tahu juga nama pria misterius ini. Nama yang pendek tapi jelas. Nama yang mudah di ingat meskipun terdengar asing.
“ Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu ? “ kata Giska
“ Apa ? asalkan itu bukan tentang Maya saja. Kalau kau memang ingin tahu siapa Maya, dia adalah wanitaku. “ kata Ali.
“ Apa ? maksudmu pacar ? “ kata Giska penasaran meskipun hatinya sudah mulai merasa sesak.
“ Sebentar lagi. Sekarang ini ia masih sebagai teman di duniaku. Tapi di mimpiku dia adalah wanitaku” kata Ali.
Sejenak Giska terdiam. Jantungnya berpacu lagi. Pikirnya mungkin.
“ Kenapa sulit sekali ingin menjadi bagian dari hidupnya. Mendapatkan namanya saja sulit, apalagi cintanya. Mungkin akan lebih sulit lagi. Aku harus bagaimana? “
Ali masih terdiam melihat hujan yang sedikit demi sedikit semakin berhenti. Wajahnya terlihat bersinar dengan sedikit senyuman dari bibirnya. Meskipun Giska tahu bahwa senyuman itu menandakan bahwa Ali sedang memikirkan Maya. Tapi ia suka senyuman itu. Senyuman tulus yang membuatnya merasakan kembali rasa nyaman itu. Dunia Giska mendadak seperti slow motion. seperti hanya ada mereka berdua di dunia ini.
Diam-diam Giska tersenyum melihat Ali yang masih terdiam melihat hujan. Akhirnya hujan pun reda.
“ Aku pulang ya. Ayahmu pasti sedang beristirahat. Tolong katakan padanya terimakasih atas kopinya yang enak ini. Rasanya luar biasa sekali. “ kata Ali
Giska hanya tersenyum dan mengangguk lalu mengantar Ali sampai teras depan rumah saja. Saat Ali sedang berjalan meninggalkan Giska, Giska berdoa “ Tuhan aku mencintainya. Semoga kau meridhai rasa ini dan ijinkanlah aku terhubung dengannya. Amin “.