Our Destiny

Our Destiny
Benalu



Jika sudah salah ya sudah, siapapun yang bersalah harus menerima hukumannya. Kini, Giska berdiri di lapangan upacara dan harus menghormat pada bendera merah putih sampai waktu shalat dzuhur sebagai hukuman karena ia sudah datang terlambat e sekolah. Giska menjadi bahan tertawaan hari itu, siapapun yang lewat, pasti tertawa melihat Giska yang sedang di hokum itu. “ Ya ampun..” Benak Giska berkata begitu terus. Saat satu persatu dari mereka tertawa melihat Giska, bahkan tepat di depan Giska sendiri…” Ap tertawa …??” kata Giska saat ia sudah mulai merasa kesal pada teman-temannya yang tertawa di depannya.


Apalagi saat Deden datang. Dengan jelas dan terang-terangan ia tertawa terbahabahak di depan Giska. Ia sampai memukul-mukul tiang bendera. Melihat itu, Giska meras semakin kesal dan marah. “Deden…!!!!!!!” TERIAK Giska pada Deden.


Mendengar itu, Deden mencoba mereda dan mendekati Giska.. kemudian Deden mengelus-eus kepala Giska sambil berkata “ Yang sabar ya sayang.”. Giska benar-benar semakin merasa kesal. “ Lepaskan ! aku tidak sudi di panggil sayang oleh dirimu. Memangnya kau ini siapa hah ?” kata Giska. Deden kembali tertawa dan pergi begitu saja.


“ Dasar menyebalkan !” kata Giska sambil menurunkan tangannya. Tiba-tiba…


“ Hukumanmu belum selesai!” kata Ali yang ternyata sedari tadi ada di belakang Giska. Karena terkejut, Giska mengangkat kembali tangannya seperti semula yaitu posisi hormat. Ali pun berjalan ke depan Giska. “ Ali ?” kata Gika setelah tahu baha orang yang icara tadi dalh Ali. “ Ya. Kau di hukum ya ?” kata Ali. Giska tertunduk malu.


“ Hormat pada bendera itu tidak boleh menunuk. Kepalamu harus tegak. Kau mau di penjara hah ? karena sudah menyalahgunakan peraturn Negara kita ini di sekolah. Setidaknya ini adalah hukuman juga bagimu karena sudah lancang mencuri kesucian bibirku. Kau menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan dari diriku sendiri. lain kali, kalau kamu ingin melakukannya kau harus bilang dulu padaku agar aku bisa bersiap-siap” kata Ali. Giska tersenyum


“ Jadi, sebenarnya kau mau berciuman denganku ?” kata Giska dengan malu-malunya. Ali tersenyum kesal. “ Bukan. Aku akan bersiap untuk berlari meninggalkanmu.” Kata Ali yang kemudian pergi. “ Uu….bilang saja itu tidak boleh di lakukan” kata Giska pelan karena takut terdengr oleh Ali.


“ Sedang apa kau ? sedang di hukum ya ? kasihan sekali. Hm… dasar perempuan tidak tahu malu. Beraninya kau mengambil jalanku tadi dan berlari begitu saja. Sekarang rasakan sendiri akibat tingkahmu itu. Selamat menikmati hukumanmu yang menyebalkan ini. Aku sangat kasihan padamu. Semoga saja hukumanmu di tambah ya !” kata Wanita itu.


“Amin…deh. Terima kasih ya sudah mendoakanku. Sekarang giliranku untuk mendoakanmu, Ya Allah semoga engkau segera menyadarkan dia supaya dia cepat sehat dari sakit jiwanya. Saya merasa dia sangat berbahaya. Aku berdoa padamu ya Allah kalau penyakit dia semakin parah semoga ia segera di bawa ke Rumah Sakit. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah temanku yang paling malang.” Kata Giska


“Bukankah kau yang sekarang itu sangat malang ?” kata Wanita itu. Giska tersenyum. “ Kalau ya kanapa ? masalah buat kamu. Kau pikir kau juga tidak malang ? kau bahkan lebih malang dariku. Bayangkan saja siapa orang yang sedang mengejek orang lain, bukankah orang yang mengejek biasanya punya lebih banyak kesalahan di banding orang yang di ejek. Aku kasihan padamu. Apakah tidak ada penyelesaian lain selain mengejekku di sini untuk menyelesaikan masalahmu itu, penjilat. Atau kau sekarang sedang menjadi benalu di sekolah ini ?” kata Giska.


“Diamlah ! kau yang benalu. Kau sekolah di sini hanya untuk di hukum. Hanya numpang dan hanya merugikan. “ kata wanita itu. “Kau sendiri ? apakah kau baru di sini? Kalau begitu kau benalu juga. Baru masuk sekolah saja kau sudah terlambat, apalagi hari kedua lalu hari ketiga dan seterusnya. Mungkin kau akan membolos dan merepotkan orang tua mu serta guru yang ada di sini. “ kata Giska.


“ Sudah ku bilang aku bukan benalu!” kata wanita itu. “ Oh ya? Tapi kau memenuhi syarat. Kau datang ke sekolah juga terlambat lalu tidak sopan terhadap sesama, so cantik, so seksi, so baik. Percuma cantik tapi hatinya busuk !” kata Giska. “Jaga ya ucapanmu !”? kata wanita itu. “Tidak perlu menyuruhku untuk menjaga ucapanku. Sebelum itu seharusnya kau itu intropeksi diri dulu. Apa sudah benar itu ucapanmu hah ? Aku sudah tahu kalau kamu itu pasti anak manja. Dasar benalu ! biasanya anak manja akan mengadu pada orang tuanya. Sudah sana mengadu pada orang tuamu dan merengek-rengek minta di tambahin uang jajan” kata Giska. Wanita itu terlihat semakin marahdan langsung pergi begitu saja.


Giska tersenyum kesal. Dia hampir saja menjamabak rambut wanita itu. Kalau posisinya sedang tidak di hukum pasti Giska sudah menjambak rambut wanita itu. “Uuuhh……wanita menyebalkan. Kau pikir hanya kau saja yang bisa beradu kata. Aku juga bisa. Ali yang mengajarkannya. Eu…dasar wanita aneh! Baru kenal sudah cari masalah. Siapa sih dia ? tadi katanya dia murid baru. Jadi, selama ini siapa yang menyimpan surat itu di meja Ali ? Hm….. mencurigakan. Pasti ada orang dalam yang melakukannya. Tapi siapa ? “ kata Giska yang kemudian kembali memposisikan tangannya menjadi hormat lagi pada bendera.