Our Destiny

Our Destiny
Selamat Tinggal



Dalam perjalanannya menuju bandara, keduanya saling diam. Ali focus mengemudikan mobilnya, sementara Maya focus melihat pemandangan di sampingnya. Terlihat ada kegelisahan di mata Maya. Entah apa. Dari mata Alipun terlihat canggung-canggung. Saat larut-larutnya dalam pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba Giska menelpon. Melihat handphone yang ternyata ada telpon dari Giska, Ali langsung membuang handphonenya itu ke luar mobil. “ apa yang kau lakukan ? “ kata Maya. “ bukan urusanmu. Aku memang muak dengan orang ini “ kata Ali. “ Giska ya ? “ kata Maya.


Maya dan Ali terdiam lagi. Sedangkan Giska “ Aduh…kok jadi begini sih ? kenapa tiba-tiba handphonenya sedang di luar jangkauan ? “ katanya kebingungan. Masih dalam perjalanan, kini Ali memulai bicara. “ apa yang kau pikirkan ? “ kata Ali.


“ Entahlah…” kata Maya. “ kau memikirkanku ? “ kata Ali. Maya langsung melihat Ali dan Ali tersenyum. “ Apa jika aku pergi kau akan mencintai orang lain dan melupakan aku ? “ kata Maya. “ Percayalah… bagaimanapun juga aku benar-benar menyukaimu “ kata Ali. Keduanya terdiam lagi.


Sampailah mereka di bandara. Perlahan mereka berjalan. Di sana sudah ada keluarga Maya yang menunggu. Sebelum Maya pergi, Ali berbicara pada Maya


“ Maya. Jangan lupakan aku. Aku ingin mengakui di dalam hatiku yang tersembunyi, aku mencintaimu. Kau adalah cintaku. Aku akan selalu mencintaimu sampai aku bisa mempertaruhkan segalanya. Aku berjanji bahwa aku akan selalu peduli untukmu. Percayalah…kau adalah satu-satunya. Sekarang, sebelum kau pergi, izinkan aku mendengar kau mengatakan aku mencintaimu “ kata Ali dengan penuh perasaan.


Maya terdiam sambil menunduk


“ Aku mohon katakan sesuatu “ kata Ali. “ berjanjilah padaku kau akan menungguku “ kata Maya yang kemudian memeluk Ali dan berbisik “ aku mencintaimu “.


Begitulah perpisahan mereka. Dua insane yang saling mencintai harus terpisah oleh jarak. Mereka berpelukan begitu lama karena setelah itu mereka harus berjuang untuk melawan rindu. Maya tak dapat membendung air matanya yang terus mengalir. Ia menangis tersedu-sedu. “ Good bye “ kata keduanya. Akhirnya, berpiasahlah mereka. Maya kini sudah ada di pesawat yang sudah landas. Kini, Ali harus kembali ke mobilnya. Lalu ia sejenak melepas ketegangannya. Lalu pergi menuju rumah sepupunya ke luar kota lagi. Tanpa ia ketahui, bahwa kini ia sangat di butuhkan di tempat tinggalnya.


Kini, Rahmat benar-benar terbaring lemah dan tak berdaya di tempat tidurnya. Dengan sejuta harapan Giska berdoa setelah shalat tahajjudnya.


“ Ya Allah… berilah kemudahan pada kami untuk mendapatkan pendonor bagi Rahmat. Semoga Engkau memberikan kekuatan kepada Rahmat untuk ia dapat bertahan sampai Ali kembali bila tak ada yang cocok dengan darah Rahmat. Amin…..”


Beberapa saat kemudian sekitar setelah 2 jam, ayah Giska menelpon lagi “ hallo Ayah” kata Giska yang masih merem karena sedang tidur tiba-tiba Ayahnya menelpon. Giska lebih terkejut lagi saat mendengar pernyataan dari ayahnya, ia sampai terperanjat bangun “ apa ? Rahmat koma !!!!” kata Giska lagi.


Setelah di matikan telponnya, wajah Giska langsung memerah tak kuat menahan tangis “ Ya ampun….Rahmat…mengapa nasib kamu semalang ini…” kata Giska yang kemudian menangis tersedu-sedu.


Besoknya, sewaktu Giska di sekolah. Dia terus mondar-mandir mencari bantuan dengan cara terus bertanya kepada setiap siswa apakah mereka bergolongan darah A. Bila ya, Giska memohon padanya untuk bersedia mendonorkan darahnya. Tapi, semua kerja kerasnya tak ada hasil. Banyak sekali alasan yang mereka pakai untuk menolak.


“Astaga…enggak punya hati apa mereka ? masa, Cuma nolongin donor darah sedikit saja tidak mau. Mereka ‘kan banyak. Satu orang sedikit juga tidak apa-apa. Dasar pelit !” cerucus Giska yang sebenarnya sudah mulai putus asa karena merasa sudah kecapean mencari bantuan sementara sampai sekarang tidak ada hasilnya.


2 Hari kemudian…


Kondisi Rahmat masih KOMA. Semua orang yang menunggu Rahmat masih berduka cita. Terutama keluarga Rahmat. Ibunya Rahmat terlihat beberapa kali pinksan karena menahan tangisnya yang sedang berusaha tersenyum setelah Rahmat sebelum koma, Rahmat meminta ibunya untuk selalu tersenyum. Sebelum malam datang, Giska datang menjenguk Rahmat dan duduk di samping Rahmat.


“ Aku di sini untukmu. Tapi, aku tidak bisa menolongmu. Aku sudah berusaha untuk mencari pendonor untukmu tapi belum berhasil. Aku mohon bertahanlah “ kata Giska. Rahmat masih terpejam koma. Giska tertunduk dan menangis.


Tanpa kata-kata terakhir, Rahmat menghembuskan napas terakhirnya tepat pada pukul 11 malam setelah ia antar selama kurang lebih 2 jam dengan tersiksa oleh rasa sakit di perutnya dan rasa lemas di tubuhnya karena kekurangan darah. Tak percaya dia pergi untuk selamanya. Pergi tanpa pamit dan tanpa pesan apapun. Sungguh menyakitkan kenyataan ini. Semua menangis, semua berduka cita. Terutama sang ibu yang tak kuat lagi menahan air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya.