
*©®*
Hyun Ki mengakhiri konsernya dengan penampilan solo. Ia membawakan lagu baru yang diciptakan Beom Soo untuknya. Entahlah, ia hanya merasa lagu itu cocok dengan suasana hatinya saat ini hingga tanpa sadar ia mengeluarkan seluruh emosinya di lagu itu.
Yah, bahkan ia tidak bisa mendekati Anna lebih jauh meski dia ingin. Dia tidak bisa terbang meraih Anna meski dia ingin. Tapi entah kenapa ia masih terus mencoba berlari kearah Anna, mencoba mengejar cinta yang bahkan tak akan pernah diungkapkannya.
Hyun Ki menghembuskan nafasnya kuat. Kemudian dengan santai dan memasang wajah tersenyum ia keluar dan menghampiri Anna yang menunggu di backstage seperti yang ia minta kemarin. Ia hanya harus mempersiapkan hatinya bertemu Anna, ia harap Anna faham ekspresi dan semua yang diungkapkannya diatas panggung tadi.
“Anna-ya, aku senang kau datang.”
Hyun Ki tersenyum senang menatap Anna. Bahkan ekspresi sendunya sudah menghilang entah kemana. Dan Anna semakin miris melihat ekspresi senyum terpaksa yang Hyun Ki berikan.
“Oppa mianhae.”
Hyun Ki mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Untuk apa Anna?”
“Untuk semuanya. Sungguh oppa adalah lelaki terbaik yang pernah Anna temui. Oppa adalah abang terbaik yang pernah Anna miliki. Maaf membuat oppa merasakan sakit yang begitu dalam karena Anna.”
Setetes air mata jatuh dipipi Anna. Bahkan lelehan air mata itu sudah mengenai jilbab merah yang digunakannya malam itu. yah, Anna sudah mengetahui makna lagu awake dan untuk siapa lagu itu ditujukan Hyun Ki tadi.
Hyun Ki mencoba tersenyum meski masih terlihat sangat lirih. Hatinya mendadak terluka ketika melihat tidak ada raut wajah senang atau menyukainya kembali dari Anna. Ia tau Anna menyukai Yoongi. Amat sangat.
“Perasaan tidak bisa dipaksa Anna. Aku senang akhirnya kau peka terhadap perasaanku. Perjuangkanlah cintamu Anna, kudengar dia sedang berusaha mematahkan batasan kalian demi bersamamu.”
Anna mematung. Ia menatap Hyun Ki takjub. Terbuat dari apa hati Hyun Ki sehingga lelaki itu tidak pernah marah padanya. Padahal dulu dia tidak pernah menjawab salam Hyun Ki karena menyangka pria itu bukan muslim.
Ia bahkan terus memberikan senyum secerah mataharinya sehingga membuat Hyun Ki jatuh hati padanya. Yang paling penting adalah ia tidak pernah peka terhadap kebaikan yang Hyun Ki berikan padanya.
Dan saat lelaki itu akan mengungkapkan perasaannya, dengan tanpa rasa peka sedikitpun ia malah bertanya pendapat lelaki itu tentang perasaannya pada Joon. Bukankah dia wanita yang kejam?
Ah, kenapa pula rasa cintanya harus jatuh keorang lain yang memiliki batasan sangat tinggi dengannya? Tidak bisakah dia memilih untuk memberikan seluruh rasanya untuk lelaki didepannya ini? lelaki tampan yang memiliki
seluruh kriteria calon suami yang dia inginkan. Seiman, baik bahkan juga tampan.
“Oppa, jeongmal mianhae.”
“Geumanhe, kau membuatku terlihat sangat menyedihkan jika terus meminta maaf seperti itu.”
Anna tersenyum dan menghapus air mata yang masih mengalir dipipi putihnya.
“Geuromnyeon, apa kau masih tetap mau menjadi oppaku?”
Hyun Ki tersenyum dan mengangguk mantap “Tentu saja.”
“Gumawo oppa.”
“Cheonman, tapi Anna-ya, jika suatu saat aku punya peluang untuk melamarmu maka kau harus menerimaku okey?”
“Haha... oppa wae irae.”
Tawa Anna semakin meledak dan itu memberi kelegaan tersendiri bagi Hyun Ki. Ia akan melakukan apapun demi membuat Anna tersenyum bahkan kalau bisa tertawa karena ia menyukai senyum dan tawa yang menghiasi wajah cantik Anna.
“Anna kau kemana saja! Aku bahkan tersesat...”
Suara Myara terhenti, bahkan omelannya berhenti seketika itu juga. Matanya menatap lelaki yang ada didepan Anna. Tatapannya bahkan tak beralih sedikitpun meski Anna sudah menggoyangkan telapak tangan didepan wajahnya.
“Myara...Myara kau kenapa?”
“Anna... apa sekarang kita disurga?”
Anna menatap Myara bingung, “Kenapa kau berbicara seperti itu?”
“Karena aku melihat malaikat berdiri didepanku sekarang, dia sangat tampan Anna... apa kau melihatnya? Atau hanya aku yang melihatnya? Kalau begitu apa dia malaikat pencabut nyawa? Aku tak pernah menyangka kalau...”
“Myara!” Anna memotong ucapan Myara dengan cepat. Ia bahkan sudah mencubit lengan Myara agar sadar.
“Auh! Anna sakit.” Myara mengelus pelan lengannya yang dicubit Anna. Wanita itu terus memandang Hyun Ki dengan binar wajah penuh kekaguman.
“Ini Hyun Ki, pemilik konser yang kita tonton tadi. Bagaimana mungkin kau tidak tau.”
“Hehe... maaf, aku tidak terlalu memperhatikan.”
“Oppa, ini temanku Myara, Myara ini Hyun Ki oppa.”
Hyun Ki melambaikan tangannya pada Myara
“Annyeong Myara-si.”
“Hai oppa tampan.”
Myara tersenyum senang melihat Hyun Ki yang melambai padanya. Bahkan dengan berani ia mengedipkan sebelah matanya pada Hyun Ki. Hyun Ki hanya tersenyum kecil menanggapinya. Lelaki itu sudah terbiasa menghadapi godaan wanita seperti yang Myara lakukan. Biasanya fans nya akan melakukan itu untuk menarik perhatiannya.
Haruskah aku merubah kriteriaku menjadi seorang oppa oppa?senyum terkembang diwajah Myara. Wanita itu bahkan tak mampu mengenyahkan senyumnya sampai mereka berpisah dan pamit pada Hyun Ki.
*©®*
“Ah Anna! Kenapa kau tidak bilang kalau oppa itu tampan?”
“Anna! Kenapa kau tidak memperkenalkannya padaku dari awal?”
“Anna kurasa aku jatuh cinta pada oppa itu! apa aku harus merayunya agar pindah agama?”
Anna menghela nafasnya lelah. Sudah hampir ribuan kali Myara memuji Hyun Ki mulai dari oppa itu tampan, suaranya bagus bla bla bla. Telinga Anna panas mendengarnya.
“Tidak perlu Myara karena...”
“Kenapa? Apa dia pacarmu? Ah serius Anna?”
“Myara dengarkan aku dulu!”
“Hehe maaf.” Myara tertawa pelan dengan cengiran aneh diwajahnya.
“Tidak perlu merayunya pindah agama karena dia sudah islam sejak lahir.”
“Wuaa!! Serius? Ah Anna... kenalkan aku padanya.”
“Kan sudah tadi.”
“Masih kurang.” kali ini Myara merengek pada Anna.
“Tujuan mengenalnya apa Myara?”
“Untuk dijadikan pacar.”
Anna mendengus sebal “Kalau begitu usaha saja sendiri.”
Myara memegang pundak Anna dan membangunkannya paksa dari tidurnya. Itu membuat Anna terkaget.
“Iya, tapi kau harus membawaku saat menemuinya lagi oke?”
“Aku tidak janji.”
“Ayolah Anna.”
“Huft, baiklah baiklah... tapi aku hanya membawamu menemaniku okey? Aku tidak mau jadi mak comblang atau apalah yang sejenis pacaran itu.”
“Hehe... kau memang sahabat baikku.”
Myara mendekatkan wajahnya hendak mencium Anna, tapi ditahan oleh Anna dengan sekuat tenaga.
“Myara kumohon aku ingin tidur, besok sudah final.” lirih Anna dengan wajah meringisnya.
“Hehe...”
Myara tersenyum senang dan akhirnya membiarkan sahabatnya tidur. Ia bahkan masih tersenyum menatap Anna yang sudah memejamkan matanya.
“Mimpi indah sahabatku.”