Our Destiny

Our Destiny
37 Jarak



Hampir 3 bulan setelah Joon meminta Anna menunggunya untuk merenungi keputusannya. Selama itulah Joon sama sekali tak menghubungi Anna. Jangankan untuk menelfon atau sms untuk menanyakan kabar Anna, lelaki itu bahkan sama sekali tidak menyapanya saat berpapasan di hall.


Setiap kali mereka bertemu disela sela pertandingan Joon hanya acuh seolah tak melihat Anna sama sekali. Saat berpapasan pun Joon hanya berlalu seperti tak mengenal Anna.


Seperti tadi saat partai final  China Open berlangsung, Joon yang sedang di interval game kedua berdiri didekat


tasnya dan saat ia menoleh untuk mengambil botol minumnya, matanya beradu pandang dengan Anna.


Anna menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan, Joon? Joon hanya menatapnya sekilas sebelum kemudian mengambil botol air minum didalam tasnya dan menenggaknya sedikit. Dengan santai ia kembali kelapangan dan memulai pertandingannya.


Anna merasa gugup dan merasa sesuatu yang aneh. Dia tidak pernah berbuat salah pada Joon. Awalnya ia mengira Joon melakukannya karena dia sedang didalam pertandingan. Namun sesudahnya, lelaki itu berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun padanya.


Hal itu bukan sekali dua kali, itu sudah berlangsung 3 bulan lamanya sejak perbincangan terakhir mereka di Indonesia Open lalu. Mungkinkah Anna melakukan suatu kesalahan padanya? Tapi Anna tak pernah merasa berbuat kesalahan pada Joon.


Lalu kenapa lelaki itu berlaku sangat cuek padanya? Lelaki itu bahkan tak ingin menghubunginya atau sekedar menyapa ketika mereka bertemu. Padahal ini sudah hampir 6 turnamen mereka bersama sejak Indonesia open lalu.


Dan Anna? Ia tidak ingin menghubungi atau menyapa Joon duluan. Bukankah lelaki itu sudah mengatakan untuk menunggunya saja? Lalu apakah ia harus berhenti menunggu Joon sekarang?


Anna meringis merasakan sesuatu yang menyesakkan dadanya. ah, kenapa pula ia percaya kata kata Joon bahkan mau menunggunya? Bukankah seharusnya ia menatap masa depannya saja? Tidak ada yang tau bukan kalau Joon hanya main main saja dengannya?


Buktinya? Sudah jelas selama 3 bulan ini Joon menghindarinya. Disetiap turnamen yang ia jalani tidak ada satupun interaksi yang mereka lakukan. sedang asyik melamun, dering handphone menyadarkannya.


Sebuah pesan masuk dari sang abang.


Bang Danu


Assalamualaikum Anna,


Pulanglah minggu depan.


Seorang pria akan melamarmu, Namanya Aaron Daafi Ariqin


Ingat jangan menolak lagi karena ini sudah orang ketiga yang melamarmu.


Anna menghela nafasnya berat. Lagi lagi bang Danu menjodohkannya dengan teman temannya. Alasannya? Tentu saja agar Anna menikah dan berhenti bekerja sebagai fotografer sesuai keinginannya.


Tapi sungguh Anna tidak mau! Ini sudah kali ketiganya menolak lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Bahkan ia sengaja tidak pulang dengan menetap dinegara yang sedang ia kunjungi.


Dengan penuh rasa bersalah ia membalas sms itu.


To : Bang Danu


Waalaikumsalam, afwan bang


Anna tidak akan pulang, Anna ada pekerjaan


tambahan Sekarang Anna sedang di China.


Sengaja? Tentu saja, ia lebih memilih menetap di China dibandingkan harus kembali ke Indonesia dan menolak secara langsung lelaki yang dijodohkan dengannya. Sungguh Anna masih mencoba untuk percaya dan menunggu Joon.


Rasanya ia sudah berada diambang batas kesabarannya menunggu. Jika ia Joon masih terlihat baik mungkin ia masih mau menunggunya. Tapi Joon yang sekarang? Lelaki itu bahkan berpura pura tak mengenalnya. Sungguh Anna bingung harus apa.


Joon oppa, ini sudah kali ketiga aku menolak lamaran, haruskah sekarang aku menerimanya?


*©®*


Setelah memutuskan untuk tinggal lebih lama di China, Anna memulai petualangannya disana. Yah, ia masih di China walaupun pagelaran China Open sudah selesai diselenggarakan.


Ia memutuskan untuk berkeliling menenangkan fikirannya di China beberapa hari sebelum memutuskan apa yang harus dilakukannya kedepan. Apakah ia akan menyetujui bang danu atau tidak.


“Anna-ya!”


Anna menoleh dan menemukan sumber suara. Sekali lagi ia masih tertegun seolah terpesona dengan ciptaan Allah yang sekarang sudah berdiri didepannya ini.


“Hyun Ki oppa, apa yang kau lakukan disini?”


“Konser, kau tidak tau? Keterlaluan sekali! Padahal kau bilang kau penggemar baruku.”


Anna terkekeh pelan. “Mian oppa, aku sibuk dan lagi aku hanya mengingat konser exo dan bts saja.”


“Anna!!”


“Tidak. aku bersama Myara tadi.”


“Myara? Dia di China?”


“Kau tidak tau? Ah itu dia... Myara!”


Hyun Ki melambai pada seorang wanita yang berlari kearahnya. Anna tertegun sejenak bagaimana bisa Myara? Lamunannya tertegun saat wanita berambut panjang itu menyapanya.


“Anna-ya! Kebetulan sekali ketemu disini. Kau mau kemana?”


“Kemasjid, ikut?”


“Ikut...” Hyun Ki menjawab antusias. Myara? Ia hanya diam dan mengikuti saja.


“Kenapa kau bisa di China Myara?” tanya Anna saat mereka sudah sampai dimasjid.


“Aku? entah, aku sengaja mengambil proyek pemotretan di China, eh ternyata sama dengan jadwal konser Hyun Ki oppa.”


Anna menatap Myara penuh selidik.


“Hei, aku berkata yang sejujurnya!”


“Baiklah baiklah, ayo sholat.”


Myara menggeleng. “Aku tunggu diluar saja ya.”


“Kita sudah sampai disini dan kau...”


“Kumohon.” Myara memotong ucapan Anna cepat. Dan Anna hanya mampu menggeleng. Ia sudah tau kebiasaan Myara, wanita itu tidak bisa dipaksa.


Anna hanya sedikit mengesalkan kenapa orang sebaik dan secantik sahabatnya itu susah sekali diajak sholat. Mungkin hanya hidayah yang mampu membangunkannya kedepan.


Anna akhirnya masuk kedalam masjid tanpa Myara. Ia menenteng mukenahnya dan membaca doa masuk masjid. Namun sebelum masuk, sesuatu mengejutkannya. Ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya masuk kedalam masjid melewatinya.


Dia?


Anna keluar dan berupaya mengejar jejak lelaki yang dilihatnya baru saja menyelesaikan shalatnya. Tidak, itu bukan Hyun Ki. Itu sosok lelaki yang ia fikir tidak mungkin berada disini dan itu sosok lelaki yang membuatnya menolah hampir 3 lamaran lelaki karena menunggunya.


Ya, lelaki itu adalah Min Joon.


"Myara, aku duluan.. sampaikan salamku pada Hyun Ki oppa, Ne?"


Myara mengangguk dan memperhatikan Anna yang sudah berlari mengejar seseorang sedang Anna masih berupaya mengerahkan tenaganya mengejar Joon. Ia masih melihat bayangan Joon didepan sana namun lelaki itu sudah berjalan terlalu jauh meninggalkannya dibelakang.


"Joon oppa!"


"Joon oppa!" 


Anna masih mencoba untuk berteriak dan teriakan ke tiga berhasil membuat lelaki itu menoleh dan berbalik menghadapnya. Tatapannya dingin seolah menatap Anna sebagai orang asing.


"Ada apa Caltha? apa urusan biografi kita belum selesai?" tanyanya santai dan tatapan dingin.


"Bi..biografi?" Anna tergagap bertanya


"Yah, bukankah urusan kita hanya sebatas biografi?"


Anna semakin tertegun, jantungnya terasa ditusuk oleh oleh pisau yang menohok tepat didadanya. Joon hanya menganggap hubungan mereka sebatas biografi setelah memintanya menunggu beberapa waktu yang lalu. Tanpa sadar air matanya menggenang.


"Ah, sorry... aku.. mungkin aku mengganggumu.. kau boleh melanjutkan perjalananmu." Anna tergagap berusaha menahan dadanya yang membuncah.


"Okey, sampai jumpa." Joon berlari menuju mobil yang ada diseberangnya, lelaki itu menutup kepalanya dengan topi karena hujan yang turun rintik dan mulai membasahinya.


Anna masih tertegun disana dan membiarkan dirinya diguyur air hujan. Ia masih tidak percaya respon dan perkataan yang diucapkan oleh Joon.


"Joon oppa, mungkin ini balasan atas semua dosa dosaku... Ya Allah ampuni aku."


Anna menangis dan membiarkan air matanya jatuh bersama tetesan air hujan yang semakin turun derasnya.


*©®*