
Dede hanya tersenyum sambil terus memperhatikan Giska yang sedang kesal. Sesekali Deden melihat kea rah Ali dan Ali tengah tertawa dengan wanita itu. “Sayang sekali kalau kamu tidak melihat ini” kata Deden. “ Apa ?”kata Giska yang kemudian melihat Ali. “ Kau pasti cenburu ya ?” kata Deden. “Tidak. Kata siapa ?”kata Giska. “Benarkah ? jangan boong padaku. Ku tahu itu dari tatapan matamu. Kau sepertinya tidakmenyukai wanita itu, wanita yang sedang tertawa dengan Ali. Benar bukan tebakanku ini ?” kata Deden
Sejenak Giska memandang Deden dengan tajam. “ Kau ini kenapa sering sekali menatapku dengan tatapan seperti itu. Kau sama menyebalkannya seperti Ali. Sungguh, aku sangat tidak suka.”kata Deden. “ Kalau begitu diamlah. Jangan terlau banyak bicara. Kau sangat menyebalkan, bahkan melebihi wanita itu. Apa kau masih tidak mengerti. Bagaimana perasaanmu kalau wanita yang kau cintai bersama dengan pria lain ? bukankah kau juga cemburu ? aku juga begitu. Tapi, itu hak umum. Siapapun boleh merasakannya. Jadi, mau aku cemburu atau tidak apa urusannya denganmu. Suka-suka aku dong. Hak aku tahu. Lagian juga tidak ada yang tahu selain kau”kata Giska.
“Bagaimana kalau kau memberitahukannya pada Ali ?”kata Deden. Giska sejenak terdiam meredam kekesalannya. “Kenapa ? apa kau takut ?” kata Deden. “ Takut ? apa yang aku takutkan ? meskipun kau memberitahukan semua ini padanya, kau pikir apa yang akan di lakukannya padaku. Aku sudah tahu, dan itu memang sudah ia lakukan sejak lama. Jadi, aku tidak perlu khawatir karena aku memang sudah terbiasa dengan hal itu. Di bersikap sangat dingin seolah-olah menganggapku ini adalah angin yang sepoi-sepoi, terasa tapi tak ia perdulikan. Hm…itulah dia. Aku sudah tahu.”kata Giska.
Deden tersenyum. “ Kau menyukainya ya ?”kata Deden. Giskapura-pura tidak mendengar. “ Kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Terlalu sulit karena ia sangat mencintai Maya kamu tahu bukan wanita yang dulu di kejar terus oleh Ali ?” kata Deden. Giska menatap Deden dengan rasa penasarannya. “ Kalau begitu, bisakah kamu beritahu aku sesuatu menganai hubungan Ali dengan Maya” Kata Giska.
Deden tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Giska dan lalu berbisik “ Maya dan Ali sudah saling berjanji untuk tidak jatuh cinta pada siapapun dan mereka harus saling menjaga cinta mereka. Tidak perduli ada badai menerjang mereka, mereka akan tetap bertahan. Kau harus tahu bahwa Ali adalah tipe pri yang pantang mingkar terhadap janji. Jadi, percayalah bahwa apa yang kau usahakan selama ini untuk mendapatkan Ali adalah sia-sia.” Kata Deden yang kemudian duduk seperti biasa.
Setelah mendengar itu, jantung Gisa tiba-tiba berpacu. Rasa dalam hatinya seperti ingin menangis, menjerit dan berteriak sepuas-puasnya. Mendengar nama Maya saja Giska sudah merasa sesak, apalagi setelah mendengar pernyataan ini hati Giska semakin merasa sesak. Perasaan Giska menjadi terasa tercabik-cabik. Ia mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya, tapi terlalu sulit. Ia tak sanggup menahan marah, kesal dan penyesalan. Ia mencoba pejamkan mata untuk menerima kenyataan ini dengan ikhlas. Tapi, pada akhirnya ia sudah tak sanggup malihat Deden ada di sampingnya. Giska berdiri dan hendak pergi. Namun, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan salah satu pelayan Restaurant yang ada di sana yang tengah membawa pesanan pelanggan berupa makanan dan minuman yang harganya terlihat mahal.
Bayangan yang sebenarnya ada di dalam pikirannya adalah Ali. Perlahan Giska menengok ke arah Ali, Ali tengah berdiri melihat Giska yang masih terpaku di tempatnya. Giska tak tahan melihat mata Ali yang begitu tajam melihatnya. “Bagaimana ini ?” begitulah benak Giska berkata. Tanpa Ia sadari, air matanya menetes. Deden yang melihat itu, merasa kasihan pada Giska. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan segera membantu pelayan itu untuk membereskan gelas dan piring yang pecah serta sambil mengucapkan maaf beberapa kali.
Tapi, Giska tidak menerima apa yang di lakukan Deden. Ia merasa bahwa Deden melakukan itu hanya untuk semakin mempermalukannya. “Kenapa kamu melakukan ini ?”kata Giska sambil menangis. “ memangnya apa yang aku lakukan ?” kata Deden sambil berdiri lalu berhadapan dengan Giska. “ Meminta maaf. Aku yang seharusnya melakukannya.” Kata Giska. Deden tersenyum kesal “ memangnya apa yang kamu lakukan dari tadi hah ? diam dan menangis. Lalu melarikan diri seperti pencuri yang ketahuan oleh tuan rumah. Dasar bodoh !” kata Deden.
Segera Giska menolong pelayan itu dan mengatakan maaf beberapa kali. Ia mengacuhkan pertanyaan Deden dan ucapannya yang tajam itu yang sebenarnya sangat menusuk hatinya. Giska mencoba untuk menolongpelayan itu dengan tenang tapi keadaan jantung yang berpacu itu menjadikan Giska gemetaran. Ia membantu tapi belepotan. “Biar aku bantu” kata Deden yang ingin mencoba menolong Giska.
Dengan perasaan yang sedang kacau itu, Giska mendorong Deden sambil mengatakan “ Tidak perlu ! aku bisa melakukannya. Kau jangan ikut campur.” Kata Giska. Melihat keadaannya seperti itu, ada satu pelanggan Restaurant itu yang mengata-ngatai Gika “ Sudah tahu salah malah diam saja. Di bantu sama orang lain tidak mau. Kalau begitu jangan diam saja. Kau adalah orang terbodoh dari kebanyakan orang yang sudah aku lihat.”.
Mendengar itu, Giska terdiam. Akhirnya karena tidak kuat dengan guncangan di hatinya, ia pun berlari ke luar Restaurant sambil menangis. Sebelum itu, Giska memberikan uang pada pelayan yang sudah ia tabrak sebagai ganti rugi, lalu lari secepatnya. Melihat keadaan yang seperti itu, Ali marasa kasihan pada Giska “ Sebenarnya apa yang ia lakukan di sini ?” kata hati Ali. Ali dan Deden saling melihat dan lau saling mendekat. Keduanya berhadapan dan saling tatapan dengan tajam. “ Apa yang dia lakukan di sini ?” kata Ali pada Deden. Deden tersenyum.