Our Destiny

Our Destiny
Kesan Jumpa Pertama



Hari pertama sekolah merupakan hari yang di nanti-nantikan oleh Giska Saputri. Seorang yang pemalas dan kini hidup dengan ayahnya. Ibunya yang meninggal ketika melahirkan adiknya giska yang ternyata adiknyapun ikut meninggal menjadikan keluarga ini menjadi mandiri. Ayah giska bekerja sebagai chef di restaurant yang di dirikannya. Giska adalah anak satu-satunya sehingga ia di manja oleh ayahnya. Itulah sebabnya Giska menjadi pemalas dan tak bisa memasak.


Giska memiliki 3 sahabat yang baik yaitu Dela Puspita, Windi Rahayu dan Rahmat Ramdan. Mereka mempunyai sifat dan karakter yang sama dengan Giska, kecuali Rahmat. Kepribadian Rahmat hampir menyerupai ayah Giska. Dia cekatan dan selalu membantu ayahnya Giska di Restaurant sewaktu liburan. Ternyata diam-diam Rahmat menyimpan rasa suka di dalam hatinya yang paling dalam pada Giska. Namun, sesekali Rahmat ini menyatakan cinta pada Giska. Giska selalu menolak dan menganggap Rahmat sedang bercanda.


Suatu hari di hari pertama ia sekolah kembali setelah libur semester 1. Saat itu Giska baru datang ke sekolahnya. Ternyata kunci motornya ketinggalan di motornya. Giska tidak menyadari hal itu. Namanya juga anak pemalas. Setelah Giska pergi , datanglah seseorang yang asing yang membawa motor viction merah dan helm hitam. Tak di ketahui bagaimana wajahnya tapi dapat di pastikan bahwa ia adalah laki-laki. Dia turun dari motornya dan lalu menyimpan helm nya. Da berjalan perlahan menuju motor Giska dan lalu mengambil konci motornya.


Dikelas, Giska tengah belajar Biologi. Gurunya tengah menulis sebuah materi tentang Hormon. Salah satu temannya tengah memainkan kunci motor. Tanpa berpikir panjang ia langsung teringat akan kunci motornya. Perlahan ia mencari kunci motornya di tas, di saku baju, di saku rok, di bawah meja dan………”ya ampun !” kata Giska yang membuat semua orang terkaget dan menatap Giska sontak. Giska tersenyum malu dan mengatakan “maaf” beberapa kali.


Sementara kunci Giska yang tadi pagi di ambil oleh seseorng,ternyata dia adalah murid baru. Seorang yang tampan dengan wajah hitam manis dan tubuh atletis, tengah melihat-lihat kunci motor Giska. Kebetulan sekali gantelan kuncinya itu ada foto Giska nya. Paling tidak, akan mudah mengembalikan kunci itu.”Wanita ini..” kata pria itu.


Istirahat tiba, segera Giska menuju parkiran motornya. Segera ia berlari kesana-kesini mencari kunci. Diperiksa di motornya tidak ada, di jalan tidak ada, Giska hampir menangis karena tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Tiba-tiba….


“Apa ini yang kau cari ?”kata seorang pria di belakang Giska sambil menunjukun kunci motor Giska.


Giska langsung berbalik badan dan melihat orang itu, orang yang sudah mengamankan kunci nya. Tak di sangka, seorang pria yang begitu tampan. Ketampanannya mampu membuat dunia Giska seperti SLOW MOTION. Giska terpana dengan ketampanannya pria itu sampai-sampai tak mampu bergerak karena jantungnya yang terus berpacu. Hatinya berdebar. Inilah kesan pertama itu. Cinta.


“Maaf, aku sudah lancang mengambil kunci mu itu. Lain kali kau harus berhati-hati. Kalau membawa motor itu tidak boleh lupa kuncinya. Kalau benar-benar hilang bagaimana ?” kata pria itu begitu tenang dan lembutnya.


“Mm (sambil tersenyum manis). Terima kasih (sambil mengambil kuncinyadari tangan pria itu ). Kau baik sekali “ kata Giska.


Pria itu tersenyum kesal “ kau wanita pemalas ya ? bisa ku tebak dari cara mu mengambil kunci ini dari tanganku.”


Giska tertegun “apa ? aku pemalas? Apa hubungannya dengan saat aku……….( tertunduk malu) “


Pria itu tidak memperdulikan perkataan Giska. Ia langsung pergi begitu saja. Giska hanya terdiam dan seperti merenungi perkataan pria itu. Ia sedikit tertunduk dan seperti melamun. Tapi, untuk apa juga ia berlama-lama di parkiran itu. Dia pun kembali.


Teman-teman Giska kini tengah berada di taman sekolah. Taman yang begitu nyaman dengan fasilitas yang terjamin kenaturalannya itu, menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat. Giska datang kesana untuk menghampiri kedua temannya yaitu Dela dan Windi.


“ Dari mana ?” kata Dela


“Dari parkiran “ kata Giska sambil duduk di samping Dela dan lalu cemberut.


“ikh…..(sambil mencubit pipi Giska ) kenapa sih datang-datang langsung cemberut begitu ? jelek tahu !” kata Dela


Tiba-tiba Giska merengek tapi tidak menangis


“ hey……..! kau ini kenapa ?” kata Windi


“ Aku bertemu pria tampan tapi tiba-tiba saja dia mengataiku anak pemalas….ha…….(merengek lagi)” kata giska


Dela dan Windi tertawa


“ Salahnya adalah kita seperti membuka aib sendiri. Apa kau mau kita di katain oleh semua orang bahwa kita ini pemalas ? bagaimana dengan pandangan Rio nanti padamu ? “ kata Windi


“Ah………………………… Sudahlah. Kalian ini berisik sekali. Coba sekarang kalian lihat pria yang ada di ujung sana. Seorang pria yang sedang mengobrol dengan Maya. “ kata Giska sambil menunjuk ke arah Maya.


“ Apa kau tahu siapa namanya ? kata Dela


Giska menggeleng dengan manjanya


“ Ya sudah sana ! Kau tanyakan siapa namanya.” Kata Windi


“ Mana berani aku melakukan itu. Apalagi di sana ada Maya. Dia itu sudah menjadi musuh kita sejak lama. Kau mau aku di tertawakan olehnya untuk yang kesekian kalinya ?”kata Giska


Tiba-tiba Rahmat datang dan membuyarkan suasana


“Pria itu adalah murid baru “ Kata Rahmat


“Apa ?”Kata Giska, Dela dan Windi


“Pria itu memang baru tapi gayanya sudah seperti sepuh saja. Dia duduk di kelas ipa. Katanya sih pintar. Tapi katanya. Bisa saja bukan kalau dia itu otaknya pas-pasan kayak aku? “ kata Rahmat


Dela dan Windi pergi begitu saja mendengar perkataan Rahmat yang tidak jelas itu. Kini tinggal Giska dan Rahmat berdua di taman itu.


Secara diam-diam Rahmat mendekati Giska dan duduk tepat di sampingnya. Perlahan ia menggandeng Giska dan Giska pun menyadarinya.


“ Ikh… apaan sih! “ kata Giska sambil melepaskan tangan Rahmat


“ Ya ampun galak amat ! Daripada ngeliatin orang lain pacaran dan bikin penasaran, lebih baik kita juga pacaran Gis ?” kata Rahmat


“Ikh malas akh..!” kata Giska


“Kenapa malas ?” kata Rahmat


“Malas melihat wajah kamu tahu !” kata Giska yangkemudian pergi


“Giska tungguin ! Mau kemana ? Kita ‘kan lagi pacaran “kata Rahmat sambil mengejar Giska.


Malam Harinya. Cuaca begitu damai. Giska menikmati malam dengan duduk di jendela dan menatap bintang-bintang di langit. Menurut kebanyakan orang, Bintang di langit adalah jelmaan dari orang yang sudah meninggal. Giska berpikir bahwa di antara bintang yang ada pasti ada ibunya yang kini merindukannya.


“ Ibu, aku merindukanmu. Tahukah ? aku begitu menyayangimu. Maaf, aku jadi seperti ini.maaf sekali lagi “ kata Giska takut ketahuan ayahnya.