
Bel berbunyi. Seperti ada gempa saja, sampai membuat semua murid ketakutan dan langsung masuk ke kelas dengan tergesa-gesa. Sampai-sampai ada yang bertabrakan, ada yang langsung membuang rotinya ke tong sampah bahkan ada juga yang menabrak tong sampah. Begitu semua sudah masuk, eh…..Giska malah baru datang ke sekolahnya. Apalagi gerbangnya sudah di tutup aduh…..kasihan sekali. Seorang satpam di sekolah itu juga cukup tegas. Giska di buat repot olehnya. Berkata jujur di katain ngeles. Berkata bohong malah ketahuan dan di katain pembohong. Repotnya…
“Pak tolong dong pak. Saya kesiangan karena semalam baru saja ada masalah pak. Tolong lah pak, bapak kan baik sekali.” Kata Giska. “Ah…ngeles aja kamu. Kalau kamu memang punya masalah, itu bukan urusan saya. Yang saya tahu saya harus menutup gerbangnya setelah bel masuk berbunyi.”kata pak satpam. “Ayolah pak. Tadi di jalan juga saya itu menolong nenek-nenek nyebrang jalan, jadi kesini nya saya telat”kata Giska lagi berharap Pak satpam percaya. “Saya tahu kamu sedang berbohong. Dasar pembohong !”kata pak satpam.
Dalam keadaan seperti itu, muncullah seseorang dari dalam mobil mewah yang berwarna merah muda yang baru saja berhenti di depannya. Dia seorang wanita. Seorang wanita yang asing tapi memakai pakaian seragam. Tak lamakemudian setelah wanita itu berdiri tepat di depan Giska dan tersenyum pada satpam, Giska mengingat wanita itu. “Wanita itu..adalah wanita semalam yang bersama Ali di Restaurant.” Kata Giska pelan.
Wanita itu sungguh cantik, kulitnya putih, fostur tubuhnya tinggi, berambut sedikit ikal dan panjang serta sikapnya yang begitu sopan dan santun semakin menambah kecantikannya. Wanita itu menyapa pak satpam. Terlihat pak satpam seperti terhipnotis dan luluh pada perintah perempuan itu. Ia membuka gerbangnya. Melihat itu, Giska mencuri kesempatan untuk masuk ke dalam. Ia berkari sekencang mungkin untuk masuk ke dalam dan lalu berlari menjauhi gerbang.
Tapi…..”Tunggu Giska ! kau harus di hokum”kata pak satpam yang kemudian mengejar Giska. Tidak tahu harus bagaimana, ternyata pak satpam terus mengejarnya. Mau tidak mau Giska harus terus berlari untuk menghindari hukumannya.
Ali ternyata tengah berada di kamar kecil siswa. Ia sedang mencuci tangan dan lalu menatap wajahnya di cermin. Ia menyentuh bibirnya. Kemudian teringat…
# Saat Ali tengah mengangkat Giska untuk di pindahkan menuju kamar Ali. Begitu sampai, sudha semakin dekat dan dekat ke tempat tidurnyatiba-tiba kaki Ali tersangkut oleh sesuatu yang entah apa. Mungkin kakinya sendiri karena menahan beratnya tubuh Giska. Ia terjatuh bersama Giska ke tempat tidur. Posisi Ali saat itu berada tepat di atas Giska sehungga Giska terbangun dari tidurnya. Saat Giska membuka matanya, tanpa sengaja bibir Ali dan bibir Giska bersentuhan.#
“Ya ampun…apa yang sudah aku pikirkan?memalukan sekali”kata Ali pada dirinya sendiri.
Giska kini tengah berlari di kejar pak satpam. Tidak tahu harus kemana lagi ia berlari. Sudah berputar-putar tapi tetap saja pak satpam itu mengejarnya. Karena sudah tak ada pilihan, ia pun masuk ke kamar kecil pria. Yang pada saat itu masih ada Ali di dalamnya.kamar kecil pria itu terdapat 4 pintu. Ternyata Ali tengah berada di pintu nomor 1. Karena Giska menganggap bahwa nomor satu adalah nomor keberuntungannya, maka Giska pun membuka kamar kecil nomor satu.
Dan…….
Karena takut ketahuan, Giska mencoba manutup mulut Ali yang terus saja berteriak supaya Giska cepat keluar dari kamar kacilnya. Ali terus berontak. “Apa yang kau lakukan..?? Aaa..!!” kata Ali saat terus mencoba berontak untuk melepaskan tangan Giska.
Giska terus menenangkan Ali. Tapi, Ali tidak bisa diam. Setiap kali tangan Giska lepas meskipun itu hanya sedikit saja, Ali langsung berteriak. Tentu saja itu mebuat Giska bertambah takut. Takut terdengar oleh pak satpam. Ternyata pak satpam memang sudah mendengarnya. Tapi….tiba-tib suara itu menghilang karena…
Secara tiba-tiba, Giska mencium bibr Ali. Tentu saja tak ada suara lagi, hilanglah kecurigaan pak satpam terhadap kamar kecil yang pada awalnya terdengar suara teriakan. Pak satpam pun pergi. Sementara Ali, matanya terbuka lebar saat tahu kini ia sedang berciuman dengan Giska. Giska pun merasakan hal yangsama dengan Ali. IA tak tahu harus berbuat apa saat seperti itu. Ia ingin melepaskn pelukan eratnya pada leher Ali api ia merasa malu pada Ali. “Apa yang sudah aku lakukan ? sekarang apa yang harus aku lakukan ?” kata hati Giska.
Giska semakin memeluk erat leher Ali dan perlahan Ali pun memeluk tubuh Giska dengan ragu-ragu. Mata yang awalnya terbuka lebar, kini perlahan terpejam dan mereka hanyut dalam pejaman mata itu dan detakan jantung yang terus berpacu.
“Kemana pria itu ?” kata Deden sambil masuk ke dalam kamar kecil. Mendengar ada suara orang yang berbicara dan masuk, Giska dan Ali pun terperanjat saling menjauh dan membereskan pakaiannya masing-masing. “ Ya ampun…”kata Deden yang kemudian masuk ke kamar kecil nomor 2, tepat sekali di samping kamar kecil Giska dan Ali. Ali pun berbcara dengan berbisik pada Giska “ Ssutt…sekarang kau kaluar. Jangan sampai ada orang lain yang tahu kita di sini berdua. Sana pergi !”.
Mendengar itu, Giska pun keluar.
Sat sudah keluar dari kamar kecil pria itu, tiba-tiba…….
“Hey ! Giska. Ternyata kamu dari tadi bersembunyi di sini. Ayo ikut bapak ! kamu harus menerima hukumanmu karena kamu sudah datang kesiangan. Ayo !” kata pak satpam. Giska tertunduk karena ia pikir sudah bebas dari hukuman ternyata belum. Tak lama kemudian, Deden dan Ali keluar dan melihat Giska sedang berjalan di belakang pak satpam. Ali dan Deden saling tersenyum.