Our Destiny

Our Destiny
Percayalah



Hari mulai siang, semakin siang dan panas. Tiba saatnya untuk pulang. Sebelum masuk ke mobil, Giska tiba-tiba di tahan oleh Ali. Tentu saja itu membuat jantung Giska berpacu dan Giska pun merasa heran “Kau ini kenapa ? apa salahku ? kenapa kau menahanku seperti itu ? cuaca mendung tahu ! kalau aku jalan kaki, bisa keburu hujan. Nanti kehujanan, terus sakit. Kau maubertanggung jawab ? tidak bukan ?”kata Giska.


“Sudahlah kau jangan banyak bicara. Ini !” kata Ali yang kemudian memberikan sebuah surat yang tadi pagi di bacanya pada Giska. Giska tersenyum dan menerimanya dengan malu-malu. “Apa ini ?”kata Giska. Ali memperhatikan wajah Giska dengan serius hingga membuat Giska tertunduk karena malu. Ali tersenyum kesal “ Luar biasa. Dasar tidak tahu malu” kata Ali yang kemudian masuk ke mobil. “aku pulang duluan ya”kata Ali yang langsung menancap gasnya dan pergi begitu saja. “ Hey………!!!!!!ikh……………!!!!!!!!” Kata Giska kesal.


Sesampainya di rumah Ali. Jantung Giska kembali berpacu karena sudah tak sabar ingin membaca surat dari Ali. Sekilas melihat Ali yang tengah menulis di meja belajarnya malah menambah semangat Giska untuk membaca surat itu. Dengan terburu-buru Giska masuk ke kamarnya dan lalu membuka suratnya serta langsung membacanya. Begitu terkejutnya Giska setelah membaca surat itu. Wajah dan mata Giska tiba-tiba memerah.


Tanpa berpikir panjang, Giska segera ke kamar Ali dan menghampiri Ali. “ Apa maksudmu memberikan ini padaku ?”kata Giska. Ali menggelengkan kepalanya. “Apa kau pikir aku mau menulis surat cinta untukmu ? sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi tahu.”kata Ali. “Lalu apa maksud semua ini ?”kata Giska. “ Bukankah itu surat darimu” kata Ali. “ Hah…..???!!! dariku ?”kata Giska yang kemudian mengambil buku tulisnya dan memberikan buku itu pada Ali. Sementara Ali membandingkan tulisan Giska dengan tulisan yang ada pada surat itu, Giska malah nyerocos kayak burung beo.


“ Ali. Aku akui, memang aku menyukai kamu. Aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu waktu itu. Lalu aku berusaha untuk mendekatimu, menguntitmu, mengganggu kencanmu dengan Maya, mencuri perhatianmu dan segalanya. Tapi, aku tidak pernah berani untuk menulis surat untukmu. Aku terlalu lugu untuk itu. Aku tidak pandai dalam menulis kata-kata yang romantic untuk menyatakan cinta. Bahkan tulisanku saja lebih jelek dari pada tulisan yang ada dalam surat itu. Sesaat mungkin aku bisa tapi terlalu monoton. Ali percayalah. Percayalah bukan aku yang menulis surat itu. Sekarang kau bandingkan tulisanku yang ada di bukuku dengan tulisan yang ada pada surat itu. Berbeda, bukan ?”kata Giska.


Ali berfikir sejenak dan tak lama kemudian Ali tersenyum


“ Kenapa?”kata Giska


“ Maaf sebelumnyaaku tidak memberitahukanmu satu hal. Sebenarnya aku suka surat ini. Apalagi kalau aku bisa bertemu dengan orang yang menulis surat ini. Sayang sekali bukan dirimu. Menurutku orang yang menulis surat ini adalah wanita yang lemah lembut seperti Maya. Aku akan berusaha untuk mengetahui siapa dia. Kalau perlu aku akan menjdikannya sebagai kekasihku.” Kata Ali.


Saat makan malam, Giska datang terlambat ke meja makan. Sehingga semua yang sudah makan menatap Giska heran “Kenapa baru datang ?” kata ayahnya Ali pada Giska. Giska masih cemberut. “Hey! Kalau di Tanya itu menjawab. Tidak sopan sekali. Sudah numpang di rumah orang, tidak bantu memasak dan beres-beres, datang terlambat lagi setiap makan. Maunya apa sih ? hidup sudah enak tinggal di nikmati hasil jerit payah orang lain masih saja sombong” kata Ibunya Ali.


Sejak awal memang ia tak suka pada Giska. Yang ia sukai adalah Maya. Mendengar Ibunya Ali berkata seperti itu, Giska tertunduk sedih. “ Sudahlah Bu. Jangan berkata seperti itu”kata Ayahnya Ali. “Memangnya dia siapa ? kenapa tinggal di sini?” kata Deden. “Dia itu anaknya sahabat Ua mu ini. Dia di sini karena temannya waktu itu sakit dan Giska harus tinggal sementara di sini sementara ayahnya menunggu temannya Giska di rumah sakit. Tapi, semua sudah berakhir. Lalu sampai kapan kamu mau tinggal di rumah ini ?” kata ibunya Ali.


Diam-diam Ali melihat wajah Giska. Wajah Giska memerah, matanya juga berkaca-kaca. Ia masih tertunduk Karena malu. Tapi, ia mencoba tegar dan lalu berkata dengan tenang pada ibunya Ali. “Tante benar. Aku memang seharusnya pergi dari sini sejak tadi pagi. Tapi, ayah sedang pergi ke Bandung untuk mengantar keluarga Rahmat. Ia masih belum memperbolehkan saya untuk pulang. Tapi baiklah. Malam ini saya mau pulang saja. Lagian juga saya di sini hanya merepotkan. Saya minta maaf. Saya akan pulang sekarang”.


Giska pun pergi dari ruang makan menuju kamarnya. Tak ada yang mengejarnya kecuali ayahnya Ali. “Giska tunggu! Paman ingin bicara dulu denganmu. Jangan terburu-buru untuk pulang, biar nanti Ali yang mengantarmu.” Kata Ayahnya Ali. Giska menggeleng. “Tak apa paman. Aku mau pulang saja. Aku juga sudah rindu rumah. Sudah lama tak menjenguknya. Biarlah, naik taksi juga tidak apa-apa. Kasihan, Ali selalu di repotkan”kata Giska yang kemudian melanjutkan perjalanannya ke kamarnya.


Ali terdiam, ia kebingungan harus melakukan apa. Melihat ibunya yang masih focus makan Ali pun melanjutkan makannya lagi. Sementara Deden, ia hanya cuek saja dan makan dengan lahapnya. Ayah Ali pun kembali duduk di samping istrinya. Istrinya atau ibunya Ali ini terlihat jutek sekali pada suaminya atau ayahnya Ali. “ Ya ampun….sampai begitunya sama ayah” kata Ali sambil tersenyum.


Kini, Giska masih berdiri bersandar pada pintu di dalam kamarnya. Ia perlahan menangis dan duduk di lantai. Ia merasa sedih. Ia merasa dirinya sangat malang. Ia pun perlahan berdiri lagi dan mencoba tegar kembali lalu segera membereskan pakaiannya dan pulang. Tapi sebelumnya ia berpamitan dulu dengan keluarga Ali meskipun dengan wajah dingin dari ibunya Ali. “Kau berani pulang sendirian malam-malam begini?”kata Deden. Giska tak menjawab, ia hanya tersenyum.