
Saat ini Giska masih menerima telepon dari ayahnya,tapi ia malah terus memikirkan Ali. Dia terus saja memperhatikan halaman rumahnya dan berharap Ali segera datang. Bahkan, ayah Giska terus memanggil-manggil Giska sementara Giska tidak mendengar itu.
“ Ya ampun Giska ayah sedang bucara ! “ kata ayah dengan suara seperti sedikit marah
Barulah Giska tersadar
“ Oh ya Ayah, kenapa ? maaf. “ kata Giska. “ Begini, untuk sementara kamu tinggal dulu di rumah Ali, ya ? karena ayah khawatir ayah akan lama di Rumah Sakit untuk menunggu Rahmat sampai kedua orang tuanya datang. Ayah sudah menhubungi keluarga Ali, mungkin kamu akan kesana segera malam ini juga. “ kata Ayah. “ Tapi Ayah, aku takut keluarga Ali tahu bahwa aku ini perempuan pemalas. Aku malu. Aku juga tidak bisa memasak. Aku takut nanti aku hanya akan merepotkan mereka saja. “ kata Giska.
Sementara Afandi Ali, ternyata ia tengah tertidur pulas di kamarnya sambil tidak memakai baju . dia benar-benar tertidur pulas. Kemugkinan memang dia itu benar-benar lupa. Ah… biarkan saja. Giska pasti terus menunggu. Sebagai balas dendam saja. Impas bukan ? sedang enak-enaknya tertidur pulas, bermimpi dengan Maya segala. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu “ Aduh…….!!!” Kata Ali. Dengan setengah tersadar ia terbangun, eh dia malah kejedot tembok. “ Aduh..Aduh !!” kata Ali. Lagian jalan sambil merem.
Setelah di bukakan pintunya. Ternyata tengah ada ibunya yang sedang berdiri sambil menatap Ali dari bawah sampai atas. “ Kau sedang tidur ? “ kata sang Ibu. “ Ya Maya, kenapa kamu datang ke sini ? “ kata Ali yang masih merem. Ibunya terkejut mendengar pertanyaan anaknya tersebut. Kenapa anaknya jadi linglung begitu. “ ini Ibu. Ali ! “ kata Snag Ibu. “ Ibu ? ( membuka mata ) . oh…. Ya ampun ibu. Maaf aku baru bangun tidur. Ada apa ?” kata Ali. “ cepat pakai baju ! ayahmu sudah menunggu di bawah “ kata ibunya Ali. Ternyata rumah ALI itu bertingkat satu. “ Baik Ibu. 10 menit “ kata Ali yang kemudian menutup pintunya lagi. Ibunya Ali menggeleng melihat tingkah anaknya ini.
Sementara ayah Ali yang bernama Ridwan kini tengah berada di depan rumahnya sambil meminum kopi dan membaca koran. Tiba-tiba Ali muncul sambil memakai jam tangan “ Ayah ada apa ? sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin di sampaikan. Apa itu tentang warisan ? “ kata Ali dengan nada bicara sedikit bercanda. “ Dasar kau ini. Masih sekolah sudah ikut campur urusan warisan. Lagian ayahmu ini belum mati. “ kata Ayah Ali. “ Baiklah aku minta maaf. Tapi memangnya apa yang ingin di sampaikan ayah padaku ? mendadak sekali. “ kata Ali. “ ini tentang Giska. Anaknya paman Erik. Kamu sudah tahu dia bukan ? malam itu kamu di undang paman Erik dan lau ia memintamu untuk mengajarkan Giska memasak bukan ? “ kata Ayah Ali. Ali terdiam kesal begitu mendengar nama perempuan ini yang tidak lain adalah Gska si perempuan pemalas dan penguntit.
“ Sekarang ini ayah Giska sedang di Rumah Sakit. Ia sedang menunggu Rahmat yang sedang sakit. Ayah Giska semalam menghubungi ayah dan meminta ayah untuk mengizinkan Giska tinggal di rumah kita sementara. Ia sangat khawatir apabila Giska di biarkan sendiri di rumah. Apalagi Giska itu anak perempuan. Nah, tugas kamu sekarang adalah menjemput dia. Ayo sana jangan sampai kemalaman ! “ kata Ayah Ali.
Ali masih terdiam dan terus berfikir. “ kenapa Ali ? kamu keberatan dengan titah ayah ? “ kata Ayah. Mendengar itu Ali tersadar dan berpura-pura tersenyum dan menyanggupi titah ayahnya. “ Baiklah, tapi memangnya tidak bisa kalau dia ke sini sendiri saja ? aku memang mau menjemputnya. Tapi aku…………” kata Ali ragu-ragu takut ayahnya marah. Sementra ayah ali terdiam sambil emnatap Ali tajam. Melihat itu, “ Baiklah aku sekarang berangkat. “ kata Ali yang kemudian pergi membawa mobilnya.
Kini Giska tengah membereskan pakaiannya dan peralatan sekolahnya, saat seperti itu ia malah nyerucus sendiri. “ Pasti aku dapat masalah. Mesalah dengan Ali, Maya, Dela, Rahmat dan satu lagi…. Keluarga Ali. Apa yang harus aku katakan pada keluarga Ali kalau mereka berbicara mengenai kemalasanku ini. Tidak bisa masak, tidak bisa ini, tidak bisa itu. Yang ada aku pasti hanya akan merepotkn mereka saja selama satu minggu. Ya ampun….. bagaimana ii ?” .
Tiba-tiba Ali menelpon. “ Ali ! “ kata Giska dengan senyuman bahagianya. “ Ya Hallo “ kata Giska saat mengangkat telpon dari Ali. “ Aku menjemputmu sekarang “ kata Ali yang kemudian langsung menutup telponnya. Giska di buat kesal jadinya. “ Hah………… hanya itu saja ? kenapa kau tidak bertanya sedang apa atau apa kau sudah makan misalnya ? dasar pelit sekali ! “ kata Giska yang kemudian melempar handphonenya ke tempat tidur karena kesalnya.
Saat di perjalanan menuju ke rumah Giska, Ali melihat Maya yang sedang berjalan sendirian dan seperti sedang melamun. Dengan segera Ali menahan Maya dengan mobilnya yang ia berhentikan di depan Maya. Maya berhenti dan menatap mobil Ali kosong. Matanya yang memerah dan berkaca-kaca menandakan bahwa ia sdang sedih. Dengan erat, Ali langsung memegang tangan Maya. Keduanya berhadapan dan bertatapan. Melihat mata Maya yang memerah dan berkaca-kaca membuat Ali tanpa basa-basi langsung memeluk Maya. Maya pun menangis di pelukan Ali. Saat seperti itu Ali memeluk Maya lebih erat lagi.
Saat di mobil, “ Aku tidak tahu harus kemana. Aku kabur dari rumah. Orang tuaku memaksa agar aku pindah sekolah ke jepang. Tapi aku tidak mau. Aku ingin di sini bersamamu dan mengejar cita-citaku. “ kata Maya
Ali tersenyum “ Katanya kau tidak suka padaku. Tapi barusan kau ingin bersamaku. Apa kau ini memang sebenarnya menyukaiku ya ? “ kata Ali
Maya terdiam sambil melihat pemandangan yang ada di sampingnya. “ kau salah paham “ kata Maya. Ali tertawa sedikit. “ Salah paham bagaimana ? sudah jelas sekali tadi kau mengatakan itu. Dan sepertinya aku paham sekali maksudmu itu.” Kata Ali. Maya sedikit tersenyum tapi di sembunyikan. Ali yang menyadari hal itu pun ikut tersenyum.
“ Kalau begitu, bagaimana kalau kamu tinggal dulu di rumahku. Kebetulan sekali ada tamu yang seumuran denganmu yang akan tinggal di rumahku. Kau bisa sekamar dengannya. Masalahmu dengan orang tuamu untuk sementara ini di tunda dulu. Kau bisa menenangkan diri di rumahku untuk berfikir masak. “ kata Ali. Maya mengangguk “ lalu bagaimana kata orang tuamu nanti ? aku takut mereka salah paham. “ kata Maya. Ali tertawa sedikit.
“Kau tenang saja. Orang tuaku tidak seburuk itu. Percayalah. “ kata Ali.
Lagi-lagi Maya mengangguk
Kembali ke Giska. Ia kini tengah mondar-mandir ke sana- ke mari menanti Ali yang belum datang juga. “Ikh…Ali mana sih ??? katanya mau menjemput. Mana ? sampai sekarang belum muncul juga. Jangan – jangan dia berbohong. Awas ! “ kata Giska yang kemudian menelpon Ali. Tapi Ali me-reject-nya. “ Ikh……! Nyebelin banget sih cowok ganteng ini ! “ katanya lagi sambil merngek-rengek.
Ali turun dari mobilnya dan langsung berjalan menuju pintu rumah Giska yang di susul oleh Giska keluar dari rumahnya sambil membawa koper besar sekali. “ kenapa kau lama sekali ? “ kata Giska. Ali tersenyum kesal “ kau membawa koper sebesar itu ? Kau pikir kau akan tinggal selamanya di rumahku hah ?! hanya 1 minggu. Merepotkan saja. “ kata Ali yang kemudian mengambil koper Giska dan membawanya ke bagasi mobil.
Ketika Giska hendak duduk di depan, tiba-tiba ia terkejut oleh kehadiran Maya. “ hai !” kata Maya. “ Kau ? bagaimana kau bisa ada di sini ? aku ingin duduk di situ. Bisa kau keluar ? “ kata Giska dengan kesalnya. “ Tidak bisa. Kenapa tidak kau saja yang duduk di belakang ? dia sudah lebih dulu duduk di situ. Kau yang baru mau naik mau tidak mau harus duduk di belakang. Kalau perlu, biar aku sediakan untukmu bagasi yang lebih luas agar kau bisa duduk di bagasi. Kalau kau tidak segera naik, kau akan aku tinggalkan. “ kata Ali yang kemudian naik mobil. Dengan terpaksa, Giska pun duduk di belakang.
Saat di perjalanan, Maya dengan Ali bertingkah mesra sekali. Ali sudah sekian kalinya mengatakan cinta pada Maya dan Maya terus tersenyum dan juga tertawa mendengar kata cinta dari Ali. Sedangkan Giska sudah mulai terbakar cemburu. Wajahnya mulai memerah karena tak kuat rasanya menahan marah di hatinya terhadap Maya. Ali dan Maya hanya asik berdua, seolah-olah tidak ada Giska di sana. Padahal sudah jelas Giska berisik sekali saat membuka bungkus roti. Tapi mengapa bisa begit ? apa telinga mereka sedang ada masalah ? pasti itu tidak mungkin. Benar-benar membuat api cemburu. Pantas saja wajah Giska memerah dan sebentar-sebentar mengepalkan tangan. Ali dan Maya seperti sedang berpacaran. Sebentar-sebentar pegangan tangan, sebentar sebentar ada kata cinta. Mau tenang bagaimana coba hatinya Giska ? masih beruntung ia kuat menahan gejolak di hatinya.
Semakin lama Giska semakin merasa kesal. Ia mulai bertingkah yang aneh-aneh. Makan kue sambil gereget-gereget dan banyak-banyak. Melihat tingkah Giska yang seperti itu, Ali langsung ngoment. “ hey ! wanita jelek. Kenapa kau makan dengan cara seperti itu hah ? “ kata Ali. Giska pun menjawab dengan suara kerasnya “ kau masih bertanya ? seharusnya tadi kau datang dan mengajari aku memasak. Sehingga aku bisa memakan masakanku dan tidak merasa lapar seperti ini. “.
Maya tertawa dan lalu berkata “ kenapa kau tidak masak saja sendiri, belajar sendiri. jangan bergantung terus pada Ali. Kau ini perempuan, masak saja kok tidak bisa ! “.
Giska cemberut sedangkan Ali juga ikut tertawa seperti Maya. “ Dia sangat payah dalam memasak. Membuat kopi saja rasanya asin apalagi makanan, isa-bisa pahit nanti rasanya. Kalau sudah begitu siapa yang mau makan ? Dianya saja sudah pasti tidak mau apalagi orang lain. “ kata Ali, Maya tertawa. Giska merasa semakin kesal sambil gereget-gereget makan kuenya lagi. Maya dan Ali malah tertawa semakin keras lagi. Karena semakin kesal, Giska pun berteriak “Stooooop……….!!!!!!!!!!!”. Dengan terkejut, Ali menekan remnya. “ Kalau kalian masih tertawa, aku akan turun di sini ! “ kata Giska.
“ Ya sudah, turun saja. Justru bagus, aku dengan Maya bisa berduaan selama dii perjalanan. Bisa bermesraan. Sudah pergi sana “ kata Ali. “ tapi aku tidak tahu alamatmu. Bagaimana kalauaku tersesat ? kau mau bertanggung jawab ? “ kata Giska. “ apa kau bilang ? kau ini payah sekali. Jelas sekali kau sendiri yang ingin turun, kenapa kalau kau tersesat aku harus bertanggung jawab ? kau tanggung saja sendiri. bodo amat !!!” kata Ali.
Giska terdiam sambil menunduk. Ia merasa sedih. Melihat itu, Ali pun berbicara pada Maya. “ Baiklah kita kalah saja Maya. Mulai sekarang sampai datang ke rumahku, kita dianm saja. Itu maunya, kalau ditidak mau turun. Lagian juga kalau dia turun ayahku bisa marah padaku. “.
Dengan wajah kesal, Ali langsung menancap gas mobilnya lagi. Dan melanjutkan perjalanannya. Sementara Giska, meskipun ia tahu Ali sebenarnya sebentar-sebentar tersenyum pada Maya. Ia mencoba tegar. Berusaha menenangkan hatinya dan dengan perlahan memakan kuenya kembali yang belum habis. Sambil melihat ke sampingnya, pemandangan yang indah dari taman anak-anak, ia tersenyum. Ia melihat seorang ibu yang tengah mengombang-ambing anaknya hingga anaknya itu hampir tertidur.
Ali yang menyadari hal itu, langsung tersenyum. “ ternyata kau bisa anteng juga ya ! “ kata Ali pada Giska. “ Apa itu ? “ kata Giska. “ itu kata bahasa sunda. Kalau kata kita seperti tenang, nyaman, dan sibuk sendiri. begitulah. Kurang lebihnya aku tidak tahu. “ kata Ali. Maya tersenyum dan berkata “ dia pasti melamun ! “ . Giska memalingkan wajahnya saat mendengar itu, dia kembali merasa kesal pada Maya. “ so tau kamu ! siapa juga yang melamun, aku hanya sedang melihat anak-anak itu. Aku suka anak kecil. Aku sangat penyayang terhadap mereka. Melihat senyumannya itu aku merasa sangat senang “ kata Giska yang kemudian memakan kuenya lagi.
Malam harinya, ibunya Ali tengah mengobrol dengan Maya di samping kolam berenang. Giska yang sedari tadi siang selalu di kesampingkan oleh ibunya Ali ini, mulai merasa cemburu. Ia ingat ketika ia pertama kali datang ke rumahnya Ali, ibunya Ali benar-benar bertanya tentang kemalasan Giska. Ia tak mampu menjawab pertanyaan itu dan hanya terdiam. Malah ayah Ali yang menjawab itu. “ kau benar paman, aku memang kehilangan kasih sayang dari seorang ibu. Seharusnya aku saat ini sangat pandai memasak. Dulu, aku sangat menyukai memasak. Bahkn aku ingin mengikuti ajang pencarian chef junior bersama dengan pria yang memakan lobak putih buatanku itu. Tapi, ibuku terburu-buru untuk pergi. Sejak saat itu, aku malas dalam belajar, dalam melakukan apapun. Aku benar-benar malas karena terus memikirkan ibuku. “ katanya yang berbicara pada dirinya sendiri.
Ia berbalik badan dan tanpa ia ketahui ternyata Ali ada di belakangnya. Ali mendengar semua yang di katakan oleh Giska. Saat itu Ali tersenyum pada Giska. “ kenapa ? “ kata Giska pada Ali. “ ikut denganku “ kata Ali yang kemudian berjalan menuju dapur. Giska pun mengikutinya dan terus menguntit di belakangnya Ali.
Setelah sampai di dapur, Ali langsung memberikan catatan bahan-bahan yang harus di beli. “ besok kau harus membeli bahan-bahan untuk memasak. Aku tidak mau tahu, besok jam 8 semua bahan harus sudah ada di dapur. Jangan terlambat 1 menit pun atau kau akan di hukum. Kalau ada 1 bahan yang kurang pun kau akan aku hukum “ kata Ali.
“ Tapi Ali. Di sini tertulis bahan utamanya Gurita. Aku kurang suka dengan Gurita. Sedikit phobia karena banyak kakinya. Kalau di ganti, boleh ? “ kata Giska dengan ragu-ragu. Ali tersenyum kesal. “ tema memasak aku yang menentukan. Mau tidak mau kau harus menurut padaku.” Kata Ali. Giska tertunduk dan lalu duduk di kursi. “ tapi di sini juga tertulis ada asam jawa . Apa aku harus mencari asamnya di Jawa. Jauh sekali. “ kata Giska. Ali tertawa sedikit “ tidak. Di pasar kita juga banyak. Percayalah. Kau ini memang payah sekali.” Kata Ali.
Kemudian Ali berjalan menuju ruang tv. “ Ali tunggu ! “ kata Giska yang kemudian menguntit Ali lagi. “ kau mau memulainya lagi ya ? “ kata Ali. “ apa ? “ kata Giska. Ali terlihat cuek sekali dan terus berjalan saja sampai ke ruang tv. Begitu di ruang tv, Ali terlihat serius menonton sebuah pertunjukan. Sementara Giska, ia mulai hanyut lagi dalam pikirannya. Ia mulai terlena oleh ketampanan pria yang ada di sampingnya ini yang tidak lain adalah Afandi Ali. Ia tersenyum-senyum sambil terus memperhatikan wajah Ali dari keseluruhan wajahnya sampai pupil matanya. Ya ampun….sampai segitunya.
“ Jangan terus memperhatikanku seperti itu. Aku jadi merasa risih. Kau lihat tv saja, atau aku pergi sekarang ! “ kata Ali yang ternyata ia menyadari bahwa ia sedang di perhatikan terus oleh Giska. Giska tersenyum dan berkata “Baiklah aku minta maaf. Lagi-lagi aku melakukannya. “ kata Giska. “ Jadi selama ini kau sering melkukannya ? dasar kau ini “ kata Ali yang langsung tersenyum manis sekali. Giska pun ikut tersenyum melihat Ali tersenyum semanis itu.