ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
APABILA



Setelah belanja semua bahan keperluan rumah tangga, Ara dan Raka mampir sebentar ke food court terdekat dari rumah mereka. Tak bisa masuk ke restaurant mewah karena penampilan Ara yang sederhana. Dan itu menjadi pengalaman pertama Raka makan ditempat yang dikerumuni banyak orang, dengan ramainya candaan dari pengunjung.


Sesampainya dirumah, Ara langsung menata semua bahan makanan kedalam kulkas, dan Raka langsung masuk kedalam kamarnya.


"Menyenangkan juga ternyata memiliki pendamping, dan berkunjung ke beberapa tempat baru." batin Raka.


Raka berbaring dikasurnya di iringi dengan senyum tipisnya. Tak terasa ternyata dia sudah tertidur pulas.


***


"Selamat pagi." sapa Raka saat keluar dari kamarnya.


"Pagi. Dan ini kopimu."


"Terimakasih. Ternyata begitu menyenangkan memiliki seorang istri. Semua keperluanku tersiapkan." Raka mengembangkan senyum manisnya.


"Ayolah, Raka. Kita hanya rekan. Jangan lupakan itu. Dan semua ini, karena aku memang menumpang hidup dirumahmu, anggap saja ini sebagai pembayaran sewaku." Ara ikut duduk dimeja makan setelah meletakkan dua piring waffle coklat kacang.


"Dan masalah semua keperluanmu, sebagai rekanmu, aku hanya memasak, dan membersihkan rumah. Atau bisa tambahan dengan mendengarkan masalahmu di kantor. Hanya itu, Tuan. Kalau yang kamu pikir kebutuhan suami istri yang seperti itu, kamu bisa menyimpannya dalam-dalam." Ara menekankan kata rekan dikalimatnya, dan menyodorkan sepiring waffle untuk Raka.


"Baiklah, aku memang salah. Maafkan aku. Aku ingin sarapan dengan tenang pagi ini."


Klik...klik...klik...klik...


"Yup, Hallo?"


"Mbak Ara, stok bunga kita hampir habis. Aku tak bisa mendapatkannya segera. Jadi, tolong aku." terdengar suara Dewi diseberang sana.


"Ok. Nanti aku hubungi mang Asep ya. Kirimkan saja daftarnya padaku."


"Mau kemana?" tanya Raka.


"Aku mau mengurusi galeriku dulu."


"Urusi saja disini, aku tak akan menganggu. Kamu bisa sekalian menemaniku sarapan."


"Ok, aku ambil agendaku dulu di atas."


Setelah Ara turun kembali untuk duduk dihadapan Raka, dia langsung sibuk dengan segala keperluan galeri bunganya. Raka hanya memandang gadis dihadapannya yang sedari tadi sibuk dengan buku, dan hanphone nya. Dia memuji kemandirian Ara, dengan usia semuda ini, dia bisa memimpin dan membawa galeri miliknya menjadi sebesar ini.


"Bagaimana kalau aku tiba-tiba menyukaimu?" Raka tiba-tiba mengeluarkan sebuah kalimat setelah menyesap kopi terakhirnya.


"Bukankah memang kamu sudah menyukaiku? Lihatlah sekarang, kita sungguh rukun duduk berhadapan." Ara menjawabnya dengan masih terfokus dengan handphonenya.


"Maksudku..." Raka ragu. "Bagaimana kalau aku benar-benar mencintaimu?"


Ara menghentikan kesibukannya, dan memandang mata Raka. Saat ini mereka saling berpandangan.


"Kalau itu memang benar terjadi, itulah saatnya kita harus membicarakan rencana perceraian kita." Ara menurunkan tatapannya dan membereskan semua peralatannya dan kembali ke kamarnya.


Memang baru beberapa hari mereka lalui, tapi Raka sudah merasakan berbagai perasaan yang menyenangkan saat berada di dekat Ara. Tapi Raka mencoba mengerti, untuk seorang gadis yang memiliki ketakutan akan pernikahan, dimasa lalunya pasti ada suatu hal yang berat.


Setelah mendapatkan jawaban yang kurang menyenangkan hatinya, Raka memutuskan untuk menyegarkan badannya dengan mandi. Sejak Ara datang dihidupnya, belum sekalipun dia berolahraga seperti biasanya, belum lagi ia selalu menghabiskan makanan yang Ara sediakan.


"Hmmm, otot perutku kalau terus seperti ini akan berubah menjadi lemak." Raka menyentuh perutnya didepan kaca besar didalam kamar mandinya.


Setelah itu, Raka memutuskan untuk berolahraga ditempat biasanya. Dia merupakan pelanggan VIP di sport center ternama di Jakarta.