ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
MELINDUNGIMU



'Ruang Rapat Direksi'


"Bagaimana ini, masa seorang isteri dari direktur merupakan anak dari *******, bagaimana nama baik perusahaan kita. Harga saham kita akan turun apabila media mengetahui dan menyebarkan beritanya." ucap salah satu pemegam saham.


"Iya, betul. Bisa-bisa dia juga seorang *******. Kamu telah dibohongi, Raka." ucap pemegang saham lainnya disambut tawa dari beberapa orang yang berada diruangan itu.


Mereka saling sahut menyahut menyalahkan Ara dan kedua orang tua kandungnya. Raka yang mendengarnya berusaha tenang walau hatinya begitu tersiksa mendengar penghinaan yang ditujukan kepada isterinya. Sedangkan orang-orang yang berpihak kepada Raka hanya bisa diam karena mereka juga bingung menanggapi kabar tersebut.


"Jaga mulut kalian! Menantuku bukan orang seperti yang kalian katakan. Kalau kalian mendapat sebuah berita, cari dulu kebenarannya. Jangan dengan seenaknya menghakimi seseorang." Mama Raka begitu marah mendengar segala cercaan dari beberapa direksi.


Selama lima belas menit Raka membiarkan semua ucapan kebencian kepada Ara. Raka menanti waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran kepada mereka.


"Raka, kenapa kamu diam saja, Nak? Lihatlah sebagian keluarga kita menyalahkan Ara." Mama Raka menggoncang goncang tubuh Raka yang duduk disebelahnya.


"Apa sudah selesai mulut kalian berbicara?" Raka mulai bicara dihadapan pemegang saham lainnya.


"Dasar tidak sopan, bukannya meminta maaf malah bersifat arogan!" bentak paman pemegang saham yang lebih tua.


"Dibelakang saya sudah terhubung dengan orang tua angkat dari wanita yang sedari tadi kalian cerca."


Semua terdiam dan mengarahkan pandangan kepada panggilan video yang terhubung dengan Pak Suryawan dan isterinya.


"Halo, selamat siang. Perkenalkan saya Suryawan, orang tua angkat dari anak perempuan kami tercinta, Ara. Dan disebelah saya adalah isteri saya." Nyonya Suryawan mengangguk dengan senyum anggunnya.


"Ditangan saya sekarang adalah surat sah dari pengadilan tentang adopsi yang kami lakukan saat Maharani atau kalian lebih mengenalnya Ara berusia 15 tahun." pak Suryawan menunjukkan kertas-kertas pengesahan dari pengadilan tentang status Ara.


"Jadi, sejak Ara berusia 15 tahun, dia adalah anak angkat kami secara sah. Selama itu juga Ara tidak pernah terhubung dengan kedua orang tua kandungnya karena mereka dibatasi oleh hukum yang berlaku. Dan kabar terakhir yang kami terima, mereka telah meninggal dunia dikarenakan penyakit yang mereka derita."


"Ara, anak kami pernah menderita depresi berat karena tekanan dari berbagai pihak, jadi apabila ada yang mengatakan bahwa anak kami juga menjual tubuhnya saat usia muda, saya tidak akan tinggal diam. Dan akan memperkarakannya kemeja hijau. Sekian penjelasan dari saya. Nak Raka, papa serahkan padamu untuk selanjutnya." terang Pak Suryawan dan panggilan video itu selesai.


"Terimakasih bantuannya, Pa."


"Jadi kalian semua sudah mendengar penjelasan dari orang tua angkat Ara. Tapi ada satu yang mengganjal dipikiran saya, bagaimana bisa masa lalu seseorang akan mempengaruhi harga saham disuatu perusahaan tertentu???" Raka mulai menyerang pemegam saham yang berusaha menjatuhkannya melalui Ara.


"Apabila kalian takut harga saham kalian turun diperusahaan yang saya pimpin, silahkan pergi dari ruangan ini. Saya rasa kalian tahu pasti apa yang Hendra dapatkan saat berurusan dengan saya." ucapan Raka mulai mengintimidasi. Direksi yang awalnya mengeluarkan banyak pendapat dengan lantang, saat ini hanya terdiam tanpa berani menatap Raka yang berada didepan.


"Bukankah pundi-pundi uang kalian bertambah pesat setelah kepemimpinan saya?"


"Silahkan pergi dari sini dalam lima menit. Saya persilahkan!"


Tidak ada satupun yang berani melangkahkan kakinya keluar ruangan. Mereka terlalu sayang untuk menghilangkan ladang uang yang setiap saat mereka dapatkan. Mama Raka tersenyum sinis melihat para tetua yang sedari tadi terus saja menekan Raka, dan saat ini mereka terlihat seperti tak berdaya.


"Apabila tidak ada yang keluar, dengan kekuatan kalian, dengan cara apapun yang bisa dilakuan, kalian harus melindungi masalah hari ini agar tak sampai ketelinga isteri saya. Kalian tau konsekuensinya. Selamat siang." Raka melangkah pergi lalu diikuti Bagas dan Mamanya, juga dewan direksi yang mendukungnya.


"Kamu hebat anakku!" seru Mama saat mereka berjalan menuju ruang kerja Raka.


"Ini semua berkat didikan mama dan papa." Raka mengimbangi langkah Mamanya.


"Hhmmm...kamu persis seperti papamu, Ka. Begitu disiplin dalam bekerja juga dalam membela orang yang dikasihinya."


"Mama mengetahuinya sejak kapan?" tanya Raka penasaraan.


"Sebelum kalian melakukan upacara pernikahan."


"Dan mama tak masalah dengan hal itu?"


"Anak bodoh. Jika mama bermasalah, tidak akan kalian mama ijinkan menikah. Yang salah adalah kedua orang tuanya, anak itu tidak bersalah sama sekali. Mama lebih kasihan kepadanya saat mama membaca semua informasi tentangnya."


"Terimakasih, Ma. Karena menjadi mama yang keren."


"Tentu saja semuanya tidak gratis. Cepat buatkan mama cucu yang banyak, mama begitu kesepian sepeninggal papamu."


Raka tersenyum dan mencium pipi mamanya, "Tentu saja, Ma. Cucu mama akan segera datang."


"Anak baik. Mama pulang dulu ya. Supir mama sudah menunggu didepan. Tidak perlu mengantar mama, ada Bagas yang akan mengantar."


"Hati-hati dijalan, Ma. Gas, tolong jaga wanita cantik ini." perintahnya pada asisten pribadinya.


"Baik, pak."


Raka masuk kedalam ruangannya dan melepaskan segala ketegangan yang ada didirinya. Untung saja dia berpikir cepat untuk meminta bantuan papa mertuanya. Untuk saat ini dia bisa tenang karena Raka sudah menyelesaikan masalah ini.