
"Ini pak, kopi Anda." sapa pelayan sambil meletakkan dua cangkir kopi di meja.
"Terimakasih." balas Bagas.
Bagas heran kenapa dari tadi direkturnya itu tak henti-hentinya memperhatikan lalu lalang orang dilobi hotel.
"Apa ada masalah, pak?" tanya Bagas mulai khawatir. Karena sudah 15 menit mereka berada di cafe itu dengan postur Raka yang tetap membatu diposisinya.
"Tidak. Jangan hiraukan aku. Minum saja kopimu."
Bagas menperhatikan cangkirnya yang sudah tandas isinya. Akhirnya dia hanya mengikuti keinginan pimpinannya itu dengan berdiam diri disampingnya.
Dan pemicu harinya yang buruk saat ini telah muncul dihadapannya. Raka menegakkan duduknya dan menyipitkan matanya agar pandangannya lebih terfokuskan.
Benar saja, dipintu masuk lobi, dia mendapati Ara dan temannya sedang berjalan beriringan. Ara menenteng sebuah makanan cepat saji, dan disampingnya Andra membawa satu koper besarnya. Mereka tampak tertawa ceria dengan obrolan ringan diantara keduanya. Raka yang melihatnya sudah mulai merasa kepanasan.
"Bagas...gas...Bagas!!!" Raka membentak asisten pribadinya itu.
"Iya pak. Maaf saya mengantuk."
"Lihatlah orang yang bersama Istriku!" Raka menunjuk Ara dan Andra yang berada didepan resepsionis untuk memesan kamar.
"Mbak Ara? Dengan siapa dia, pak?"
"Itu temannya. Cepat cari tahu nomor kamar yang dipesannya. Dan booking kamar disebelahnya."
"Untuk apa, pak?"
"Tidur siang."
Bagas yang masih bingung dengan alasan bosnya itu untuk menyewa kamar, tetap menjalankan perintahnya, dan dengan mudah mendapatkan kamar disebelah yang Andra pesan. Tapi Bagas mulai mengerti kenapa pimpinannya itu seharian ini uring-uringan.
***
'Kamar Andra'
"Kenapa tenagamu begitu fit setelah perjalanan yang panjang dari Amerika?"
"Karena aku merindukanmu, aku tak sabar bertemu denganmu." jawab Andra dengan senyum manisnya. Walau ucapan Andra begitu manis, tapi tak pernah sekalipun dia menyentuh Ara secara berlebihan, dia tak mau Ara tak nyaman dengannya.
"Ayolah, Ndra. Setiap tahun kamu selalu mengunjungiku. Apa pacarmu disana tidak mengurusmu?"
"Kasiannn kakakku ini." Ara mendekat dan mengusap rambut Andra secara kasar.
"Jangan panggil aku kakak, kita hanya berbeda 1 tahun."
"Iya, iya, ini cepat makan. Heran, bukannya di Amrik juga banyak makanan cepat saji, disini kenapa masih menggilai makanan tak sehat ini." Ara mengomel tapi tetap memberikan burger dan kentang goreng kesukaan Andra.
"Karena aku menyukainya." Andra nyengir dan langsung melahapnya dengan gigitan besar.
Sementara dikamar sebelah....
"Apa kamu yakin disini kamarnya?"
"Tentu, pak."
"Tapi kenapa tidak terdengar apa-apa? Padahal ini standart room."Raka masih menempelkan telinganya kedinding kamar hotel.
Bagas yang melihat tingkah laku Raka tersenyum geli, karena tindakan ini tidak pernah ditemuinya selama bekerja dengan Raka selama 5 tahun terakhir. Biasa Raka merupakan pimpinan yang berwibawa, tapi setelah ia menikah semuanya berubah.
"Sedangkan dulu, di Bandung, Ara mendengar jelas ada banyak desahan." tambah Raka.
"Maksudnya, pak?" Bagas langsung berdiri dari duduknya dengan wajah tegang.
"Tak perlu kamu menutupinya, aku tahu yang kalian lakukan dikamarku saat aku belum kembali dari jamuan bisnisku malam itu."
Bagas tampak malu dengan fakta yang disodorkan Raka.
"Maaf pak. Jika bapak penasaran, bukankah lebih baik langsung bertamu? Itu kan hanya kawan mbak Ara."
"Dengan beralasan sebuah kebetulan? Itu tak masuk akal. Dan satu lagi..." Raka membalik badannya sekarang mengarah ke Bagas.
"Sejak kapan kamu akrab dengan Ara dan memanggilnya mbak? Panggil dia ibu. Bu Ara, jelas!!!" Raka cemburu lagi hanya dengan hal sepele.
"Jelas pak. Saya memanggil mbak, eh...maksud saya bu Ara, karena persiapan pernikahan dulu, saya sering menjemputnya ke galeri. Itupun atas perintah bapak. Sejak itulah kami sedikit dekat."
"Menjauhlah darinya, dan jangan bersikap akrab didepanku." Raka kembali menempelkan telinganya kedinding hotel.
Setelah beberapa menit tidak terdengar apapun, Raka terduduk lemas di sofa kamar. Dia gelisah dengan apa yang mereka berdua lakukan.
"Apa yang kulakukan sampai disini? Kenapa perasaanku seperti ini?" Raka menghela nafas panjangnya sambil menyandarkan punggungnya kepenyangga sofa. Menutup matanya dan berfikir apa yang terjadi dengannya.