ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
BERSAMAMU



Sudah beberapa jam berlalu. Ara menggeliat mengeluarkan seluruh lelahnya selama ini. Dia terkejut saat membuka mata, dia nampak bingung dan badannya sudah berada di atas tempat tidur, sedangkan si pasien, duduk disebelahnya dan memandanginya.


"Raka, aku..."


"Sssttt....tenanglah. Aku tak apa. Demamku sudah turun. Kita bisa pulang nanti." Raka mencoba menenangkan, dan terlihat mata Ara sudah berkaca-kaca lagi.


"Tenanglah, jangan menangis. Matamu sudah bengkak. Tersenyumlah sayang." Raka langsung bangkit dari duduknya dan memeluk Ara erat.


Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan tanpa bersuara, melepaskan segala kerinduan.


"Apa kamu akan meninggalkanku, Raka? Setelah tau kondisiku." ucap Ara disela-sela pelukannya.


Raka melonggarkan pelukannya dan menatap Ara, "Kalau aku meninggalkanmu, aku tidak akan berada disini hari ini. Maafkan aku Ara, aku sungguh bersalah kepadamu." Raka mengecup lembut kening Ara.


"Aku sudah mendengar semua alasan dibalik kemarahanmu malam itu, seharusnya kamu bertanya dulu padaku, dan tidak membabi buta seperti itu."


"Maafkan aku, maafkan aku Ara. Aku begitu cemburu, mataku gelap saat itu, aku tak berpikir rasional saat melihat foto-foto yang Hendra berikan padaku." Raka kembali memeluk tubuh Ara.


"Kamu sudah sangat menderita, sayang. Maafkan aku." sekali lagi Raka mencium kening Ara lembut, dan melepaskan pelukan saat ada yang mengetuk pintu.


Tok...tok..tok... Pintu itu terbuka dengan Andra berada dibelakangnya.


"Ara, semua keperluanmu sudah aku urus, dan Raka, dokter memperbolehkanmu pulang karena demammu sudah mulai menurun. Hanya perlu minum obat penurun saja." jelas Andra sambil membawa satu tas besar yang berisikan segala barang Ara, dari baju dan lainnya.


"Terimakasih, Ndra. Dari sini aku akan membawa Ara pulang ke Jakarta."


"Jangan! Beristirahatlah dulu di rumahku, Ara masih belum siap untuk perjalanan jauh lagi, aku takut emosinya akan muncul sewaktu-waktu apabila kamu melakukan sesuatu padanya."


"Aku suaminya, Ndra."


"Dan kamu juga telah menyakitinya, Raka!" emosi Andra mulai tersulut karena Raka tak mau mendengarkan ucapannya.


"Sudah...sudah. Kita pergi kerumah Andra dulu, boleh? Aku sangat rindu dengan mama dan papa?" kata Ara menengahi pertengkaran dua laki-laki dewasa itu.


"Kedua orang tuaku, dan Ara sudah dianggap anak oleh mereka." jelas Andra.


"Baiklah, aku akan ikuti kalian."


Setelah mengurus obat yang akan Raka bawa untuk pulang, mereke keluar dari rumah sakit dengan mengendarai mobil milik Andra. Kali ini Andra membawa seorang supir, karena jarak yang lumayan jauh dari kota, dan juga kondisi Andra yang agak kecapean karena setiap hari harus menjenguk Ara dan mengikuti semua perkembangannya.


"Mama dan papa jadi pindah rumah, Ndra?"


"Hmm. Mereka ingin tinggal dikota katanya, biar segala sesuatunya mudah. Mereka sudah menunggumu cukup lama untuk berkunjung."


"Ya, mereka bersama denganku terakhir saat aku di wisuda di Jakarta."


"Kunjungilah mereka sesekali nanti saat aku berada diluar negeri, mereka sudah tua dan terlalu merindukanmu."


"Tentu."


Raka hanya terdiam mendengarkan perbincangan Ara dan Andra. Dia merasa iri dengan keakraban keduanya. Bagaimana bisa dia yang merupakan suaminya tidak mengetahui apa-apa tentang wanita yang dicintainya. Pikiran itu terbesit dalam otaknya. Hanya tangannya saja yang terkadang mengerat dalam rangkulannya.


"Ada apa, Ka? Apa kamu pusing lagi?"


"Aku tidak apa-apa."


Setelah perjalanan beberapa jam, mereka sampai di parkiran rumah keluarga Andra. Keluarga Andra cukup terpandang, ayahnya adalah seorang dekan di kampus terkenal di Bali, dan ibunya merupakan aktivis sosial yang masih aktif sampai sekarang.


Saat mereka turun dari mobil, ternyata kedua orang tua Andra sudah menunggu didepan pintu masuk rumah. Dengan sumringah, mama Andra menghampiri Ara dan langsung memeluk anak perempuannya. Sedangkan papa Andra masih berdiam ditempatnya.


Saat Andra menjabat tangan Papanya dan Raka mengikuti setelahnya, dan brak...brak...Raka mendapat dua jotosan dari Papa yang saat ini mukanya terlihat menahan emosi. Raka yang mendapat pukulan secara mendadak menjadi bingung dengan apa yang didapatnya.


"Beraninya kamu menginjakkan kaki dirumah ini!" papa Andra berang.