ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
PENASARAN



"Hai sweety. I'll come back to you. soon."


"Wait!" Ara bergegas menghentikan aktivitas makannya dan secepat kilat membersihkan tangannya dengan tisu. Mematikan pembesar suara, dan langsung menempelkannya ketelinga dengan tidak sabar.


Raka yang melihatnya merasa marah dan resah. Siapa laki-laki itu, bahkan suara beratnya saja sudah mengganggu pikirannya. Dan kenapa Ara begitu bahagia menerima panggilan itu? Apa hubungan mereka? Kenapa tidak pernah disinggung oleh Ara? Pikiran Raka berkecamuk diotaknya, Raka mengendarai mobilnya sportnya dengan perasaan tak nyaman dan wajah yang sudah dilipatnya berkali-kali.


Apa aku merajuk? Apa aku marah? Apa hakku untuk itu? Apa aku cemburu? Hah! Tidak mungkin. Berkali-kali Raka bertanya dalam hati dan menjawabnya sendiri. Sementara Ara masih dengan senangnya mengobrol dengan pria lain diseberang sana.


Setelah beberapa puluh menit perjalanan, sampailah mereka ke galeri Ara. Didalam Dewi sudah menunggunya dengan beberapa karyawan yang lain.


"Cie, pengantin baru..." Dewi meneriaki kedua pasangan itu dari dalam gedung saat mereka turun dari mobil. Diikuti karywan lainnya yang ikut menyoraki mereka. Raka tersenyum simpul, sedangkan Ara tersenyum bahagia bertemu dengan keluarganya yang beberapa minggu tak dijumpainya.


"Sssssttt, cukup. Bisa dilempar tetangga batu kalau kalian masih ribut seperti ini."


Ara duduk disisi meja yang sudah dikelilingi yang lainnya. "Kenapa kalian belum pulang semua? Ini sudah malam."


"Kami kangen dengan mbak Ara, dan kami ingin bertemu dengan suami mbak yang ganteng." gemas Asih yang memang lebih muda dari pada karyawan yang lainnya.


"Hallo, perkenalkan saya Raka. Suami Ara." Raka memperkenalkan diri dan menjabat semua karyawan Ara yang berjumlah 10 orang.


"Tau, kalau kamu suami nak Ara." Bik Ningsih keluar dari dapur dengan membawa dua kopi panas.


Raka agak malu karena ucapan bik Ningsih. Sedangkan Ara sudah mengobrol ringan dengan beberapa karyawan yang lainnya.


"Mbak Ara dan Mas Raka kapan bulan madunya? Ndak ada rencana mau keluar negeri gitu? Mas Raka kan pengusaha sukses."


"Raka sangat sibuk dengan pekerjaannya, Wi. Bahkan selama libur dirumah, setiap hari dia memandangi laptop dan tabletnya untuk bekerja."


"Kenapa ndak sekalian mas Raka kekantor saja kalau tetap bekerja, hayoooo ndak mau jauh-jauh dari Mbak Ara ya..." Asih lagi-lagi menggoda Raka.


Raka tersenyum sebentar, "Kelihatannya ide bagus untuk merencanakan bulan madu kami." Raka memandang Ara dan merangkul pinggannya untuk merapatkan duduknya dengan Ara.


Yang lain melihat kemesraan mereka berdua hanya bisa menutup mulut mereka dan menahan hasrat untuk teriak karena pasangan yang baru saja menikah itu.


"Sudah, itu bisa dibicarakan nanti. Yang penting galeri ini berjalan lancar." Ara merenggangkan jarak mereka.


"Tenang saja mbak, Dewi disini siap setiap saat."


"Terimakasih, Wi. Kamu memang bisa aku handalkan."


Kopi panas telah berubah menjadi ampas kopinya, dan makanan ringan sudah tandas dari piringnya. Saatnya mereka berpisah, karena sudah malam. Ara dan Raka berpamitan dengan semuanya, sementara ini Ara masih belum akan beraktivitas di galeri karena masih harus mengikuti agenda Raka diperusahaan.


Raka berkendara dengan cepat karena jalanan sudah mulai lengang. Dengan ragu, Raka menanyakan tentang suatu hal yang membuatnya mati penasaran.