
Raka yang mendengarkan cerita Andra dari awal sampai akhir membuatnya marah akan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia menambah luka yang bertahun-tahun Ara ingin sembuhkan. Benar saja kenapa sedari awal dia tidak mau terikat hubungan pernikahan, itu semua karena kedua orang tuanya. Kepercayaannya tentang rumah tangga yang didalamnya dipenuhi akan cinta, hancur tercerai berai. Bahkan dia pernah mencoba bunuh diri dan mengalami depresi yang berkepanjangan.
Raka salah menilai Ara yang selama ini terlihat kuat dan tegar diluar, tapi didalamnya ternyata dia adalah gadis yang rapuh.
Raka terdiam sejenak dan memijit keningnya saat Andra menyelesaikan ceritanya, otaknya berfikir keras bagaimana dia bisa memperbaiki apa yang telah dirusaknya.
"Saat ini dimana Ara, Ndra?"
"Maaf Raka, aku tidak bisa memberimu info lebih dari ini." Raka bersiap pergi dan berdiri dari duduknya.
"Kumohon, dia istriku, Ndra. Aku ingin menebus semua kesalahanku padanya."
Andra terdiam sejenak "Kembalilah ke Jakarta Ndra, nanti kalau sudah saatnya, aku akan menghubungimu. Untuk saat ini, Ara belum bisa bertemu denganmu. Percayalah padaku." Andra merasa iba setelah melihat ketulusan Raka.
"Satu pertanyaan terakhir dariku. Apa kamu benar menyukainya?" tanya Raka hati-hati.
"Ara? Tentu saja, aku lebih dari yang namanya suka. Aku mencintai dan menghormatinya, bahkan dari awal kami bersama. Tapi aku tidak akan merusak hubunganku dengannya hanya karena perasaanku. Aku tahu dia tidak memiliki perasaan lebih dari teman. Jadi jika dia bisa bahagia, aku akan lakukan apapun itu untuknya. Baiklah, aku pergi dulu." setelah Andra menjelaskan semua isi dihatinya, ia bergegas keluar dari tempat keramaian itu.
Raka mencoba mempercayai ucapan Andra dan kembali ke Jakarta malam itu juga. Sebenarnya Raka tahu dimana keberadaan Ara, tapi dia tidak tahu tepatnya lokasi Ara berada. Dia hanya akan menunggu dan bersabar demi seseorang yang dikasihinya.
***
Sudah 3 bulan berselang sejak pertemuannya dengan Andra di Denpasar. Semenjak itu juga, Raka berusaha mengalihkan pikirannya dengan banyak pekerjaan, dia juga mengurus segala keperluan dari galeri milik Ara. Raka selalu pulang larut malam dan tidur hanya beberapa jam.
Semua harinya dihabiskannya diruangan direktur, segala keperluan diaturnya sedemikian rupa, perlengkapan pakaian kerjanya dan lainnya tersedia di kamar yang ada dibalik ruang kerjanya, didalam ruang direktur memang ada satu ruangan yang didalamnya bisa dipakai untuk beristirahat Raka disaat dia lembur.
Kring...kring....kring...
"Ya, hallo." sapa Raka
"Mas, ini Dewi. Bisakah datang ke galeri sore ini?"
"Aku usahakan ya, Wi. Apa ada hal yang mendesak?"
"Tidak mas, ini hanya tentang stok bunga saja, dan...."
"Ada apa?"
"Tentang mbak Ara, bisakah Dewi bertanya tentangnya?"
"Ara baik-baik saja, Wi. Saat dia kembali, dia akan menceritakan semuanya padamu. Tenanglah. Tentang persedian bunga yang akan dipesan, kirimkan saja daftarnya ke Bagas seperti biasanya."
"Baik, mas. Maaf mengganggu."
Semua karyawan di galeri mengkhawatirkan Ara yang tiada kabar. Raka hanya bisa menjelaskan sekenanya kalau istrinya sedang berlibur ke Bali. Tapi mereka semua tetap khawatir karena tak pernah sekalipun Ara pergi tanpa kabar.
Raka mengecek notifikasi hanphone dan emailnya, berharap Andra akan segera menghubunginya. Dia mencoba percaya dengan perkataan Andra yang akan membantunya. Karena hanya dialah yang bisa membantunya saat ini.