
"Raka, tolong hentikan. Kita dikantor saat ini?"
"Bolehkan bila ditempat lain yang lebih tertutup? Dikamar kita misalnya?"
"Aku tahu, aku tak akan bisa mengelak selamanya dengan keadaan ini. Kita bisa mencobanya nanti, kita lihat apakah aku sudah bisa untuk melakukannya." ucapan Ara membuat Raka tersenyum sangat lebar sehingga menampakkan barisan giginya yang rapi.
"Ayo, kita pulang sekarang." Raka menggandeng tangan Ara dengan semangat.
"Tunggu! Bukankah ada sesuatu yang harus kamu urus dengan Bagas?"
"Itu bisa lain kali." Raka mencoba menarik Ara lagi.
"Dan bukannya kamu berjanji akan mengantarkanku kegaleri, Tuan?"
Raka yang melupakan tujuan utamanya mengantarkan Ara hari ini. Dengan nafas beratnya, dia mengantarkan Ara menuju ke galeri bunga milik sang istri tercinta.
***
"Mbak Araaaaaa!!!" Dewi berteriak histeris sambil berlari menyambut kedatangan Ara. Dan karena teriakannya, sukses membuat karyawan lain dan para pelanggan menoleh kearah mereka berdua.
"Ssstttt, teriakanmu itu mengganggu ketenangan orang." goda Ara kepada orang kepercayaannya itu.
"Masih saja jahil ya mbak ni. Ayo masuk-masuk." Dewi menggandeng tangan Ara untuk masuk kegaleri, diikuti dengan Raka dibelakangnya.
"Mbak, muka mas Raka kenapa kelipet gitu?" tanya Dewi pelan, karena Raka memang sedang memasang tampang sebalnya.
Ara melihat sepintas wajah pria dibelakangnya dan tertawa setelahnya, "Mas Raka lagi ngambek, mintakan saja bik Ningsih membuat kopi pahit ya, pasti moodnya akan kembali."
"Beres, Mbak." Dewi melangkah kedapur untuk memesankan kopi untuk Raka. Sedangkan Raka dan Ara langsung menuju ruang kerja Ara.
"Duduklah disini, dan ada apa dengan wajahmu?" Ara mengarahkan Raka untuk duduk disofa ruang kerjanya dan duduk disebelahnya.
"Masih tanya kenapa?" Raka memanyunkan bibirnya dan itu membuat Ara tertawa melihat tingkah laku suaminya yang baru saja dia tahu.
"Maafkan aku, dan minumlah kopi ini dulu sambil menungguku mengobrol dengan lainnya." Ara menyodorkan secangkir kopi hitam pahit yang baru saja Dewi bawa masuk kedalam ruangan.
"Dimana yang lainnya, Wi?"
"Mereka masih didepan, Mbak. Persiapan menutup galeri lebih awal. Karena kami rindu dengan mbak."
"Tak apa, untuk hari ini tutup lebih awal saja. Oh ya, bilangkan ke Juna, untuk mengambil oleh-oleh dibagasi mobil"
"Mbak kemana aja selama ini, kenapa nggak kasih kabar, Mbak?" tanya Mala.
"Bukannya Raka sudah menjelaskannya kepada Dewi?"
"Iya, Mbak Dewi sudah menceritakannya kepada kami. Tapi aneh saja mbak tiba-tiba berlibur." tambah Asih.
"Pelan-pelan. Jangan mencecar mbak Ara dengan banyak pertanyaan." Bik Ningsih muncul dengan makanan ringan.
"Mbak, ini oleh-olehnya." Juna muncul dengan oleh-oleh yang Ara dan Raka dapatkan sebisanya di Bandara.
"Letakkan saja dibawah, nanti ambil masing-masing ya saat mau pulang." jawab Ara.
Semuanya sumringah mendapati oleh-oleh yang dibawakan Ara.
Dan siang itu, semuanya tertawa bersama mendapati cerita yang khusus dikarang oleh Ara dan Raka. Tak ada lagi penasaran dihati para karyawan Ara.
"Lalu, Mbak Ara kapan kembali ke galeri lagi, Mbak?"
"Untuk saat ini masih belum, Wi. Ara harus istirahat dulu. Untuk galeri, kamu bisa menghubungi Bagas seperti biasa."
"Mas Bagas sudah punya pacar belum, Mas Raka?" tanya Dewi
"Jangan dengan orang itu." sahut Ara.
"Ihhh, Mbak Ara." semua tertawa karena wajah manyun Dewi.
"Sudah sore, kami mau pamit dulu."
"Iya, Mbak. Cepat balik ke galeri ya. Mbak Dewi galak." tambah Sari.
"Ooohh, gitu ternyata." Dewi membelalakkan matanya.
"Wi? Jangan galak-galak sama adik-adikmu."
"Habisnya, kerjaannya godain cowok mulu si Asih dan Sari ni kalau jaga didepan."
Ara tersenyum dengan tingkah laku keryawannya. Hanya 10 orang, tapi meriahnya mengalahkan satu perusahaan Raka rasanya.