ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
TERBIASA



Beberapa hari berganti menjadi minggu, kebiasaan Ara menemani Raka tidur terus berlanjut. Perasaan mereka juga sedikit demi sedikit mulai terjalin. Dari tidur bersebelahan, berpegangan tangan, sampai berpelukan. Awalnya Ara merasa risih dan terkejut saat dia terbangun dengan Raka memeluknya dari belakang, karena ketidak sadaran dalam tidur terkadang juga Ara yang terbangun dalam pelukan Raka. Karena sering terulang, mereka akhirnya terbiasa. Terutama Ara, yang mulai biasa berinteraksi secara fisik dengan Raka.


Kehidupan mereka nyaris sempurna, galeri Ara yang berjalan lancar, dan perusahaan yang dipimpin Raka juga tak ada kendala yang berarti. Hanya satu yang masih menjadi masalah Raka, yaitu Andra.


"Lusa jadi ke Malang?"


"Hemm. Aku akan disana untuk dua hari."


"Dengan Andra?"


"Tentu! Aku kesana karena memang akan membantunya dalam pameran lukisannya."


"Aku akan ikut denganmu."


"Untuk apa, Ka?" Ara merasa aneh dengan kelakuan Raka beberapa hari ini yang begitu protektif dengannya.


"Aku tidak akan bisa tidur tanpamu disampingku, aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu."


"Ayolah, Ka. Kamu bukan anak kecil lagi yang harus ditungguin mamanya untuk tidur, kalau tidak beli saja boneka beruang yang besar untuk kamu peluk. Atau panggil saja Bagas, lumayan bisa dipeluk juga." Ara tersenyum menggoda.


"Hust! Ngaco. Aku masih doyan perempuan tau." Raka merajuk saat ini.


"Cepat habiskan makananmu, aku harus kembali kekantor sebelum jam makan siang selesai."


"Pergilah dulu, aku akan memesan ojek online." pinta Ara.


"Tidak. Sebagai suami yang baik, aku akan mengantarkanmu dengan selamat." Raka menyombongkan dirinya.


Ara yang mendengarnya hanya tersenyum manis. Merasa akhir-akhir ini, Raka begitu memperhatikannya.


Setelah makan siang, Raka mengantarkan istrinya ke galeri dan kembali ke perusahaan.


'Ruang Direktur'


"Gas, coba kosongkan jadwalku untuk lusa dan satu minggu kedepan!" perintah Raka.


"Tapi, pak. Lusa jadwal kita untuk meeting dengan perwakilan dari Jepang. Nilai tendernya sangat tinggi pak. Jika ini gagal, posisi bapak bisa terancam lagi."


Raka memijat keningnya, dia bimbang dengan keputusan yang akan diambilnya. Disatu sisi perusahaan yang sudah lama dia pimpin, disatu sisi dia tak mau istri kesayangannya harus bersama dengan laki-laki lain.


Malam ini Ara pulang larut malam, karena ada beberapa pesanan dari pimpinan perusahaan penting yang memintanya secara khusus untuk merangkai bunga yang mereka pesan.


Sesampainya dirumah, dia melihat lampu sudah padam, setelah itu Ara memutuskan untuk naik ke kamar atas dan membersihkan diri. Walaupun Ara sudah tidur dikamar Raka, tapi semua perlengkapannya masih tersimpan rapi dikamar atasnya.


Setelah mandi, gadis itu langsung membaringkan badannya di kasur. Karena dia kelelahan hari ini, tak sengaja Ara langsung terlelap dan tertidur dikamar atasnya.


'Pagi hari'


"Ahh...kenapa nafasku begitu sesak?" Ara berusaha sekuat tenaga menyadarkan dirinya dari rasa kantuk yang berat karena merasa tidak nyaman dengan tidurnya.


"Raka! Apa yang kamu lakukan dikamarku?" Ara terkejut saat berhasil membuka matanya dan langsung terduduk diatas kasurnya.


"Apa yang membuatmu harus teriak, Ra? Aku hanya tidur." suaranya masih serak karena belum sepenuhnya terbangun.


"Kenapa kamu masuk kamarku tanpa ijin? Bangun Raka, keluarlah dari kamarku."


"Ini juga rumahku, Ra. Dan aku mengantuk karena menunggumu semalaman dikamarku. Kenapa tidak pergi ketempatku?" jawabnya masih dengan memejamkan matanya.


"Aku lelah sekali, dan kukira kamu sudah tidur. Cepat bangunlah, aku harus bersiap." seketika Raka langsung membuka matanya karena ucapan Ara.


"Ah, benar! Kamu akan pergi hari ini." Raka saat ini duduk dihadapan Ara, dan menggenggam tangan kecilnya.


"Ada apa?" Ara merasa aneh.


"Bolehkan aku mencium dan memelukmu?" tanya Raka hati-hati.


"Untuk apa? Kita bahkan bukan berada disuatu hubungan khusus untuk bisa melakukannya."


"Aku suamimu, Maharani. Dan aku akan merindukanmu selama dua hari kedepan." Raka menegaskan kata suami dikalimatnya.


"Apakah kamu lupa kalau ini adalah sebuah bisnis?" tegas Ara.


"Bisakah kita mengganti bisnis menjadi sesungguhnya?" mata Raka saat ini memancarkan keseriusannya.


Pipi Ara tanpa disadarinya bersemu merah, dan Raka mengetahuinya, bahwa gadis didepannya itu, sebenarnya juga mencintainya, tapi dia masih terhalang dengan masa lalunya.