ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
TITIK TERANG



"Pak, ini jadwal bapak hari ini." Bagas menyerahkan scedule kepada pimpinannya.


"Hari ini tolong cancel semua jadwalku, Gas. Aku kurang enak badan."


"Bagaimana kalau bapak istirahat dan pulang, di ruangan kantor kurang nyaman untuk istirahat pak."


"Tidak apa. Pesankan saja makananku seperti biasanya."


"Baik pak." Bagas melangkah keluar menuju ruang kerjanya untuk membatalkan semua janji.


Kring...kring...


Baru saja Raka ingin melangkah masuk ke kamar kantor untuk istirahat, ada nada berdering dari hanphonenya. Nomor tak dikenal muncul di layarnya.


"Hallo."


"Apa kabar, Raka. Ini Andra?"


"Andra? Bagaimana, Ndra, apa aku sudah bisa menemui Ara? Kumohon." Raka mendesak.


"Tenang dulu, Ka. Besok datanglah ke RSJ kota SS, Bali."


"RSJ??? Kenapa aku harus ke sana? Apa Ara ada disana?" Raka merasa bingung.


"Besok datanglah, dan kamu akan melihatnya sendiri. Aku tutup." panggilan berakhir.


Demam Raka yang mulai naik menambahkan rasa pusing dikepalanya, ditambah lagi dengan kabar kemungkinan Ara berada di RSJ.


Keesokan harinya Raka langsung terbang di penerbangan pertama menuju pulau Bali. Sesampainya disana dia langsung disambut orang suruhan Andra untuk menjemputnya. Perlu waktu 5 jam untuk sampai kesebuah kota kecil di kota Bali. Alamnya yang masih asri dengan kentalnya budaya masih berlaku disana.


"Silahkan, pak. Pak Andra menunggu bapak di lobi. Langsung saja masuk."


Raka berjalan perlahan sambil memperhatikan keadaan sekitar. Suasananya tenang, dengan banyak pohon disekitarnya. Banyak pasien yang hanya sekedar duduk di taman ditemani oleh perawatnya. Ada juga keluarga pasien yang menunggui keluarganya yang sedang mengalami gangguan kejiwaan.


"Kenapa harus disini?" Raka mulai tak sabar untuk menjawab kebingungannya dari kemarin.


"Ikutlah bersamaku ke taman belakang. Ada yang harus kamu lihat." Andra berjalan menyusuri lorong rumah sakit di ikuti Raka dibelakangnya. Sesampainya di taman belakang, mereka berhenti. Dan Andra menunjuk sosok perempuan yang duduk terdiam di bawah pohon rindang di taman belakang.


"Lihatlah dia. Dan tetaplah berada disini?"


"Ara??? "Tak terasa air mata Raka menetes di ujung matanya. Dia tak mengira imbas yang dia hasilkan atas perbuatannya akan sebesar ini.


"Kenapa dia bisa begini, Ndra?"


"Setelah aku membawanya dari kamarmu pagi itu, dia selalu menyalahkan dirinya dan mengatakan bahwa dia adalah perempuan kotor. Dia kesulitan untuk tidur, dia terus mengulang kata tentang kenangan masu lalunya itu, terkadang tiba-tiba emosinya tidak terkontrol, dia juga merasa cemas yang tak jelas alasannya. Dan saat itulah, aku langsung membawanya ke dokter spesialis kejiwaan." jelas Andra.


"Dan apa kata dokter, Ndra?"


"Kata dokter, gejalanya mengarah ke Post-traumatic Stress Disorder atau PTSD dimana penderitanya mendapatkan tekanan akibat dari peristiwa mengejutkan atau menakutkan. Ini sama dengan gejala yang dialaminya di masa lalu. Sedangkan hal yang sangat ditakutkan Ara, aku sudah menceritakan semuanya padamu. Dan saat itu Ara memang sedang mencintaimu, itu menambah kecemasannya yang berlebihan karena takut akan ditinggalkan."


"Saran dokter, dia harus dirawat untuk penanganan yang lebih intensif. Karena hal ini akan bertambah parah apabila tidak ditangani dengan serius. Maka dari itu aku putuskan untuk membawanya kesini, karena dokter disini pernah menanganinya beberapa tahun lalu." lanjut Andra.


"Bolehkah aku menemuinya sekarang?"


"Kurasa memang sudah waktunya. Dalam tiga bulan ini, aku terus mengikuti perkembangannya. Dan selalu mencoba membicarakan dirimu didepannya. Awalnya dia hanya menangis sekeras-kerasnya, dan terkadang dia akan marah tanpa alasan, tapi sudah beberapa minggu ini dia bisa tersenyum lembut saat aku menyebut namamu. Secara perlahan dia juga sudah mulai bisa berinteraksi denganku secara normal. Dengan menanyakan hal-hal yang ringan padaku."


"Terimakasih, Ndra. Aku benar-benar berterimakasih padamu." ucapnya sungguh-sungguh.


"Aku tak ingin dia menderita, Ka. Jadi aku pastikan dia akan bahagia dengan jalan apapun. Pergilah menemuinya."


Setelah mengucapkan terimakasih lagi, Raka berjalan kearah gadis yang dicintainya. Sekarang penampilannya berbeda, rambutnya terpotong pendek, walau tanpa riasan, wajahnya tetap memancarkan cantik alaminya.


"Ara?"