
Sudah waktunya makan malam. Bibi mengetuk masing-masing kamar untuk mengumpulkan penghuninya keruang makan. Raka juga sudah kembali kekamarnya diam-diam saat rumah sedang sepi.
"Kita makan dulu, sebelum itu Andra pimpin doa."pinta pak Suryawan, papa Andra.
Andra mengucapkan kalimat-kalimat syukur atas segala nikmat yang telah didapatkan. Setelah mereka semua mengaminkan, tak lupa, Ara selalu mengambilkan nasi untuk papanya, itu kebiasaan dari lama saat Ara berada dirumah keluarga Suryawan. Baru setelahnya Ara mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Ehemmm...nak, papa mau lauknya yang ada didepanmu."
"Baik, pa. Ada lagi yang papa inginkan?"
"Papamu ini selalu seperti anak kecil jika kamu berada dirumah." kata mama Andra.
"Anak kecil apanya, orang papa kebetulan ingin lauk yang pas ada didepan Ara kok."
Setelah itu semuanya makan dengan suasana ceria, hanya Raka yang merasa canggung. Karena beberapa kali dia ikut menanggapi obrolan pak Suryawan, tapi berakhir di acuhkan oleh beliau.
"Om, besok saya akan mengajak Ara pulang ke Jakarta."
"Kenapa tak lebih lama lagi nak Raka ada disini?"
"Perusahaan Raka membutuhkannya, Ma." jawab Ara mewakili Raka.
"Kalau begitu biar dia saja yang pulang, kamu tinggalah disini." pinta pak Suryawan.
"Pa...Ara juga punya galeri yang sudah Ara tinggalkan beberapa bulan. Mereka juga pasti membutuhkan Ara."
"Kamu kira kami tidak membutuhkanmu, nak?"
"Betul, pa. Nanti kita bisa main ke Jakarta kalau kangen dengan Ara." ucap mama sambil mengusap punggung tangan suaminya.
"Papa sudah kenyang, papa masuk kekamar dulu."
Pak Suryawan meninggalkan meja makan dengan makanan yang masih tersisa dipiring. Beliau langsung melangkah masuk kedalam kamarnya yang berada di lantai satu. Anggota keluarga yang masih berada dimeja makan merasa canggung dengan suasananya.
"Tante, maaf, gara-gara Raka." Raka merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa nak Raka. Begitulah papanya Ara, karena dulu dia selalu berada di garda terdepan membela Ara dari segala tuduhan buruk dimasyarakat, akhirnya menimbulkan perlindungan yang begitu ketat kepada Ara, bahkan sampai sekarang. Maka dari itu, tolong dimaklumi ya."
"Bahkan papa pernah tak sadarkan diri saat tau Ara kembali lagi kerumah sakit waktu itu. Dan mau tidak mau, aku menceritakan yang sebenarnya kepada papa. Yah...pasti cerita disaat aku bertemu denganmu di cafe waktu itu. Jadi papa masih sangat marah kepadamu."
"Aku tahu, ini semua salahku. Maafkan aku, Ndra. Maafkan saya Tante. Dan terutama kamu istriku, maafkan aku." pandangan Raka melembut saat menatap istrinya.
"Semua orang pasti pernah melakukan kesalah, Raka. Tergantung kita bagaimana cara memperbaikinya." jawab mama berusaha selalu memahami dari segi positif.
"Terimakasih, tante."
"Panggil mama saja. Mama kan juga orang tuamu."
Raka tersenyum bahagia saat mendapati restu dari orang tua angkat Ara. Hanya satu restu yang tersisa, yaitu dari pak Suryawan, ayah angkat Ara.
Setelah makan selesai, mereka mengobrol sebentar diruang tengah sambil menonton televisi. Sekarang waktunya sinetron kesayangan mama, jadi lainnya hanya bisa mengikuti apa yang ditontonnya.
Makanan ringan yang disediakan bibik juga sudah ludes dilahap Andra dan Raka. Sekarang mereka sudah mulai cocok satu sama lain. Obrolan keduanya bisa mempersatukan kedua laki-laki tampan itu. Sedangkan pak Suryawan, masih didalam kamarnya, membuat perencanaan untuk kerjanya esok.