
'Jamuan Rapat Direksi'
Setelah rapat direksi, 80% masih memilih Raka untuk menjadi direktur utama di perusahaan S&D Group. Dilanjutkan makan siang seluruh direksi.
Ara duduk disebelah Raka. Hari ini gadis itu berperan penting dalam posisi Raka. Semuanya makan dalam satu meja bundar yang besar, tawa canda bagi pendukung merayakan posisi Raka yang masih berada disinggahsananya.
"Kamu sejak kapan pacaran dengan Raka?" tanya Tante Mega.
"Kami sudah 2 tahun lebih bersama, tapi memang tidak pernah di umbar saja, Tante."
"Bukankah saya dengar, galerimu pernah diboikot dengan Raka?" cecar sepupu Hendra tiba-tiba. Dia yang menjadi lawan Raka selama rapat direksi.
"Itu semua karena kami sedang bertengkar, dan aku ingin berpisah. Karena itulah dia melakukan hal se-ekstrim itu." Ara menjawabnya dengan tenang, sambil tersenyum manis kearah Raka. Disambut kecupan hangat Raka yang mendarat kekening Ara. Terkejut, tapi gadis itu masih bisa mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Lalu, dimana orang tuamu? Kenapa mereka tidak datang kepernikahan kalian? Apa kalian tidak disetujui atau ada masalah?" Hendra masih saja mencari celah.
"Sudah...sudah, kita makan saja dengan obrolan ringan. Orangtua Ara sedang sibuk dengan pekerjaannya diluar negeri, mereka kemarin sudah bertukar kabar dengan kami." Mama menghentikan kekhawatiran Ara dengan menambahinya dengan kebohongan.
Setelah itu acara jamuan berjalan dengan lancar, Ara bisa berbaur dengan mudah ditengah keluarga Surya Dewanto. Dia juga berpura-pura bertukar pikiran dengan para istri sepupu yang lainnya.
***
'Rumah'
"Ini sungguh melelahkan." Ara melempar tubuhnya kesofa diruang keluarga.
"Pasti sungguh sulit untukmu, terimakasih." Raka ikut duduk disofa seberang Ara.
"Itu juga pasti sulit untukmu, dunia bisnis itu gila. Sudah seperti berburuan hewan liar, siapa yang terkuat, dialah yang menang."
"Begitulah bisnis." Raka tersenyum ketika Ara membelalakan matanya atas terkejutannya dunia bisnis. "Aku mau masuk dulu, mau mandi, kamu tidak istirahat?"
"Oh, aku mau mandi sebentar. Dan aku harus ke galeri sebentar."
"Biar kuantar, ini sudah malam."
"Tak perlu, aku hanya sebentar. Mau bertemu Dewi. Dia sudah sangat merindukanku."
"Sungguh menyenangkan jika ada yang merindukan." Raka mengoceh sambil berjalan memasuki kamarnya.
Ara naik kekamarnya. Setelah membersihkan badannya, dia segera menarik beberapa baju santai dari dalam lemarinya. Dengan setelan jeans panjang dan kemeja warna putih, tampak anggun menempel dibadan Ara.
Saat Ara turun kebawah, ternyata Raka sudah siap menunggunya di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Ayo, aku sudah siap."
"Kamu memang tidak bisa dicegah, Tuan Raka."
Mereka akhirnya pergi bersama dengan mobil sport milik Raka. Ditengah jalan, Ara berhenti sebentar untuk membeli kue brownis kesukaannya.
"Kau masih lapar? Tak takut gemuk makan dimalam hari?"
"Aku ingin makan makanan manis, dan tidak ada masalah dengan gemuk."
"Wahhh...pemikiranmu memang berbeda, Nona."
Raka melajukan kendaraannya, karena dijam seperti ini lalu lintas memang lumayan padat. Dan dari apartemen ke galeri Ara membutuhkan waktu setidaknya 1,5 jam perjalanan.
"Bisakah nanti mampir ke apartemenku sebentar? Ada yang harus ku ambil." pinta Ara dengan masih mengunyah brownisnya.
"Tentu, Nona. Dan tidakkah terfikir untuk menawariku benda yang kamu makan itu?" sindir Raka.
"Tentu." Ara tertawa geli mendengar kalimat Raka, diiringi dengan suapan besar brownis yang sukses meluncur kemulut Raka.
Klik...klik...klik...
"Ada telpon."
"Aku tak bisa mengangkatnya dengan kondisi tanganku saat ini, bisakah minta tolong?"
"Sure, akan aku perbesar suaranya." Raka menekan tombol angkat di handphone Ara yang diletakkannya di dashboard.
"Hallo." suara laki-laki diseberang sana.
"Andra???"
"Hai sweety. I'll come back to you. soon."