ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
KEMBALI



"Ma, Ara pamit ya."


"Iya sayang, sering-seringlah mengunjungi kami disini, lihatlah papamu, dia sangat merindukanmu."


"Iya, ma. Maafkan Ara. Emmmm....Papa?"


"Ada apa cari papa, bukannya kamu tidak sayang lagi dengan papa?" jawab pak Suryawan sembari keluar dari kamarnya.


"Ara tetap sayang dengan papa." Ara memeluk pak Suryawan.


"Dan kamu, awas saja kalau membuat anak perempuanku menangis lagi." pak Suryawan menunjuk Raka dengan muka galaknya.


"Terimakasih, Pa. Sudah mau memaafkan Raka." ucap Ara.


"Berterimakasihlah dengan mamamu, semalaman mamamu mengomel tiada hentinya."


Ara dan mamanya saling bertatapan dan mereka tertawa bersamaan. Raka juga mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua angkat Ara yang sudah mau menerimanya dalam keluarga besar.


Setelah itu, Raka dan Ara langsung diantar oleh Andra ke bandara karena jadwal penerbangan mereka sebentar lagi.


"Terimakasih, Ndra." Ara memeluk Andra dengan erat. "Terimakasih atas semua bantuanmu dan untuk pernikahan kami."


"Aku melakukannya sebagai kakak laki-lakimu. Bahagiamu merupakan doaku untukmu." Andra mencium kening Ara dan membuat Ara terkejut, tapi mereka sama-sama tertawa. Sedangkan orang dibelakang mereka memandang kedua orang itu dengan sengit, ingin sekali Raka menarik Ara menjauh, tapi dia merasa bahwa hutang budinya lebih besar kepada Andra. Tangannya mengepal sampai urat-urat ditangannya nampak jelas.


"Kita sudahi saja ini. Lihatlah laki-laki dibelakangmu, tatapan matanya bersiap menerjangku." Andra melepaskan pelukan mereka.


"Baguslah kalau kamu sadar. Ayo, kita masuk, sebentar lagi pesawat kita akan terbang. Dan sekali lagi terimakasih atas semuanya." Raka menjabat tangan Andra dengan tulus.


"Sama-sama. Dan jagalah dia apapun yang terjadi."


"Tentu."


Ara dan Raka berjalan menjauh dari Andra, tak lupa Ara melambaikan tangannya dengan antusias dan Andra segera membalasnya.


Andra menatap punggung perempuan yang dikasihinya sejak lama, dan dari semalam dia sudah mengikhlaskannya. Mencintai bukan harus memiliki. Mendekatkannya kepada kebahagiaan itu lebih menenangkan bagi hati Andra.


'Dalam pesawat'


"Kenapa kamu tegang?" tanya Raka khawatir.


"Tidak apa-apa. Mungkin hanya karena akan kembali ke Jakarta dari kesekian minggu aku meninggalkannya."


"Apa yang perlu kamu cemaskan?"


"Tenang saja, semua sudah kubereskan. Aku mengatakan kepada mereka kalau kamu sedang berlibur ke Bali. Bilang saja kalau kita ada pertengkaran kecil dan kamu mencoba untuk menggertakku."


"Begitukah? Tapi Dewi..."


"Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Raka mencoba menengkan Ara dengan mencium punggung tangannya.


Mereka tiba di Jakarta pukul 12.45. Dengan menggunakan mobil jemputan dari perusahaan Raka mereka langsung melaju menuju kediaman mereka. Setibanya dirumah, Raka memasukkan dua koper milik mereka kedalam rumah.


"Emm...Raka. Maaf, bisakah aku berada dikamarku dulu?" pinta Ara.


"Tak inginkah kamu bersamaku malam ini?"


"Emmm...aku masih takut. Maaf, aku . . ."


"Aku tidak akan melakukan apa-apa tanpa seijinmu. Aku janji. Jadi kumohon tetaplah bersamaku."


Ara akhirnya meng-iyakan keinginan suaminya, dia tahu benar bahwa suaminya itu begitu merindukannya, tapi terkadang ingatan malam menakutkan itu terlintas dibenaknya. Itu yang terkadang membuatnya membutuhkan obat yang harus segera diminumnya. Sebelum panik kembali menyerangnya.


Dengan senyum lebar Raka membawa Ara masuk kedalam kamarnya. Dia bahagia akhirnya bisa kembali kerumahnya bersama dengan wanita yang dicintainya.


"Aku akan mandi dulu, kamu beristirahatlah."


"Aku lapar, aku akan memasak sesuatu yang mudah." kata Ara.


"Jangan!!!" teriak Raka melarang.


"Hhmmm...aku sungguh lupa menyuruh orang membersihkan isi kulkas kita. Kemungkinan semua sudah busuk." tambah Raka.


"Bagaimana bisa? Apa kamu tidak pernah membukanya."


Dengan mata sendu Raka memandang wajah Ara, "Selama dirimu tak ada, aku tak pernah sekalipun pulang kerumah ini. Ini sangat menyakitkan, ketidak beradaanmu dirumah ini mengingatkanku atas kesalahan yang telah kuperbuat padamu."


Raka menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ada penyesalan yang mendalam masih menyelimuti hatinya.


"Lihat aku." Ara menangkup wajah Raka dengan kedua tangannya dan menghadapkan untuk melihatnya.


"Aku disini bersamamu saat ini, dan aku mencintaimu, suamiku."


Raka merasa terharu atas kekuatan perempuan yang ada dihadapannya sekarang. Dia bisa memaafkan kesalahan Raka yang begitu besar. Dengan perlahan Raka mendekati wajah Ara, dia khawatir Ara akan mengalami kepanikannya. Tapi tanda diduga, bibir Aralah yang sampai dulu kepada bibir Raka. Dengan terkejut, Raka menerima ciuman dari Ara, dan dengan senyuman dia membalasnya dengan lembut ciuman yang diberikan oleh istrinya.