ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
BERBALAS



'Bandara'


"Ara!!!" terdengar suara teriakan dari seberang.


Ara melambaikan tanganya saat menemukan arah suara itu, dan mendatanginya.


"Kamu sudah siap?" Andra begitu bersemangat.


"Sudah, tapi tunggu dulu, suamiku masih dibelakang."


"Suami???" tanya Andra dengan nada tidak senang.


"Oh, Raka maksudku. Dia mengantarku."


Lima menit kemudian Raka sudah bergabung dengan mereka.


"Hati-hati dijalan, dan kabari aku kalau sudah sampai Malang." Raka mengusap rambut Ara, dan tanpa kedua orang itu sadari, Andra sedang memperhatikan mereka berdua.


"Tenang saja, Ka. Aku akan menjaganya, percayakan saja padaku." jelas Andra yang tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka kepadanya.


"Aku bukan laki-laki bodoh yang mempercayakan istrinya kepada orang yang diam-diam memujanya." jawab Raka dengan pandangan mata sinisnya.


"Apa maksudmu?" Andra tak terima.


"Sudah-sudah. Andra, apa kita jadi pergi? Ayo kita berangkat." Ara menggandeng tangan Andra untuk menjauh dari pertengkaran didepannya. Dan Raka tak suka melihatnya.


Saat mereka akan masuk ke dalam ruangan, Ara masih melihat Raka berdiri ditempatnya dan memperhatikannya.


"Ndra, masuklah dulu. Ada yang harus aku sampaikan pada Raka sebentar."


"Aku akan menunggumu didalam." setelah Ara memastikan Andra berjalan masuk keruang Check In, Ara berlari kecil mengahampiri Raka.


Raka tampak bingung karena tiba-tiba Ara berlari menghampirinya. Sesampainya dihadapan Raka, Ara menjinjitkan kakinya dan mendekatkan wajahnya ketelinga Raka. Wajah Raka langsung memerah dan ia bersiap untuk memeluk Ara, tapi gadis itu sudah tergesa-gesa lari masuk kedalam.


Saat Ara berlari mendekatinya, dan mendekatkan wajahnya, ara mengucapkan satu kalimat. "Aku mencintaimu" dan di akhiri dengan kecupan singkat di pipi Raka. Itulah yang membuatnya tak henti tersenyum, bahkan saat Rapat suasana hatinya sangat baik, saat ada beberapa laporan yang salah, dia sama sekali tidak memarahi karyawannya, dia bahkan memberikan mereka petunjuk mengerjakannya. Beberapa karyawan membicarakan keanehan sikap Raka. Raka memang ramah kepada semua karyawannya, tapi kalau sudah berhubungan dengan pekerjaan, Raka adalah orang yang disiplin yang tak segan-segan marah ataupun membuang laporan ketika dirasa laporan tersebut sama sekali tidak berguna.


Besok setelah rapat terakhir, dia berencana untuk menyusul Ara ke Malang. Sudah tak sabar bertemu dengan istri yang dicintai dan mencintainya sekarang. Perasaannya dipenuhi rasa bahagia. Perasan yang tak pernah dirasakannya saat bersama Fransiska Angel, mantan kekasihnya dulu.


***


'Rumah'


Raka membolak balikkan badannya di atas ranjang. Matanya tak bisa terpejam, gelisah melandanya. Setelah Ara mengabarinya saat dirinya sampai dengan selamat dan memberikan alamat hotel tempatnya menginap, setelah itu tidak terdengar kabar lagi. Dan ponsel Ara sama sekali tidak bisa dihubungi, itu yang membuat Raka hampir mati dilanda kekhawatiran.


Kalau saja masih ada penerbangan malam ini, Raka pasti sudah pergi menuju kota Malang. Bahkan dengan koneksinya sekalipun, Raka bisa mendapatkan pesawat pribadi tapi tidak mendapat ijin terbang. Karena memang kota itu kabarnya sedang ada hujan badai. Sehingga semua penerbangang yang dari maupun menuju kota Malang dibatalkan.


Susah payah Raka melewati malam itu dengan segala kegelisahannya. Semua kekuatannya dikerahkan untuk mencari keberadaan istri tercintanya itu.


***


'Ruang Direktur'


"Kudengar ada yang mencari keberadaan istrinya sejak semalan?" Hendra, sepupu Raka masuk kedalam ruangan dengan tiba-tiba.


"Apa yang membawamu kesini?" Raka masih memijit pangkal diantara kedua matanya, kepalanya teramat pusing untuk memulai pertengkaran dengan orang yang sudah lama mengincar posisinya.


"Tenang, brother. Aku disini untuk memberikanmu kabar." Hendra mengeluarkan satu amplop besar yang berisi beberapa foto, dan melemparkannya ke meja Raka.


Raka tanpa banyak bicara langsung mengambil amplop itu dan membukanya. Wajahnya dengan segera diliputi amarah setelah melihat beberapa foto yang didalamnya terdapat sosok yang dia cari.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Tentu saja dari orang-orang kepercayaanku. Hebat bukan, dia ternyata istri yang seperti itu. Hahahahahaha. Wanita murahan ternyata." Hendra terus saja memprovokasi Raka.


"Diam, tutup mulutmu. Jangan pernah menyinggung apapun tentang istriku dihadapanku. Cepat keluar dari ruanganku." Raka tak rela istrinya dicap dengan sebutan buruk, tapi foto dihadapannya membuatnya tak bisa berdikir secara rasional.