
"Ada apa dengan pakaianmu, kenapa kamu rapi sekali?" tanya Ara heran.
"Tentu saja aku harus mengimbangi penampilan istriku yang cantik ini, aku tak mau dirimu dibilang tidak beruntung punya suami yang tak memperhatikan penampilannya."
"Ada-ada saja kamu, beginikah sebenarnya sifatmu selama ini?"
"Perlahan-lahan mari kita mengenal satu sama lain." Raka memeluk Ara.
"Bisakah kita berangkat sekarang, aku akan kesiangan kalau kita seperti ini terus."
"Bisakah kita mampir keperusahaan sebentar, ada yang harus ku urus, hanya satu jam." pinta Raka dengan manja.
"Oke. Aku turuti apa maumu."
"Terimakasih, istriku." Raka mengecup ringan bibir Ara.
"Ehem...kurasa kamu harus menghentikan kebiasaan barumu itu." Ara tersipu malu setelah mendapati kecupan dari suaminya.
"Tidak mau, dan tidak akan bisa. Aku ingin selalu berada disituasi ini." goda Raka.
"Dasar mesum, ayo berangkat."
"Kamu harus mulai terbiasa menerima sifat satu ini dari suamimu tercinta." ucap Raka kepada Ara saat mereka berjalan menuju kegarasi mobil.
"Baik nyonya Raka, kencangkan sabuk pengaman, kita akan berangkat sekarang." Raka mengencangkan sabuk pengaman yang dipakai Ara.
"Terimakasih." Ara mencium pipi Raka sekilas.
Raka tertegun mendapati istrinya yang juga mulai mau berinisiatif menciumnya terlebih dulu, "Aku suka itu, sering-seringlah melakukannya. Yang lebih pun aku bersedia."
Ara memukul lengan Raka dan memintanya untuk segera melajukan mobil mereka. Disepanjang jalan, kedua kekasih dimabuk asmara ini bercerita panjang lebar tentang masa muda dan beberapa masa lalu mereka.
***
'Perusahaan S&D Group'
Disepanjang jalan saat mereka memasuki lobi perusahaan, semua mata memandang kedua pasangan itu. Dalam hati mereka mengagumi keduanya, yang satu berparas cantik dan pimpinan yang beberapa waktu yang lalu mereka lihat kacau penampilannya, hari ini nampak menawan.
Ara yang berjalan anggun disebelah Raka, dengan setelan rok mininya berwarna putih, dan sepatu hak tinggi berwarna senada, dengan rambut pendeknya yang tergerai indah, mampu membuat kaum adam terpana melihatnya. Jarang sekali mereka melihat istri direktur ikut masuk kedalam kantor. Bahkan dari beberapa laki-laki tersebut, ada yang mendamba menginginkan kekasih dengan wajah dan postur tubuh ideal milik Ara.
Dan Raka, laki-laki rupawan dengan tinggi 180cm dan berat badan yang proporsional, cukup membuat banyak karyawan perempuan diperusahaan itu menaruh hati padanya. Dengan setelan jas berwarna navy, dan rambut yang tersisir rapi, alis tebal dan tatapan mata yang tajam, Raka mampu menyilaukan mata kaum hawa yang mendambanya sedari dulu. Mereka tidak bisa mengubur rasa kagumnya walaupun Raka saat ini sudah berstatus seorang suami.
"Pakailah ini?" Raka mengenakan jas nya kebadan Ara.
"Apa lagi, tuan?"
"Lihatlah karyawan perempuanmu, mereka juga melihatmu kagum saat ini." Ara menunjuk beberapa orang yang menjadi salah tingkah setelah ketahuan oleh Ara.
"Dan kamu tidak cemburu?"
"Aku bukan tipe perempuan pencemburu, Raka." ucap Ara dan membuat Raka sedikit kesal.
"Cepatlah ikut aku masuk keruanganku."
Raka menarik tangan Ara dan mempercepat langkahnya masuk kedalam ruangannya. Tak lupa dia memberi pesan kepada Bagas agar tak mengganggunya. Bagas meng-iyakannya walaupun ada suatu hal yang harus mereka bahas segera. Ara dan Raka segera masuk kedalam ruangan direktur.
"Ada apa, Ka..." sebelum selesai Ara menyelesaikan kalimatnya, Raka sudah ******* bibirnya dengan sedikit kasar. Dia merasakan kesal yang entah karena apa tiba-tiba muncul.
"Unggu, Aka." Ara berusaha berbicara disaat Raka terus menyerangnya.
"Apa kamu benar mencintaiku?" Raka melepaskan ciumannya karena tahu Ara sudah kewalahan mengatur nafasnya.
"Aku mencintaimu, dan kamu tahu itu."
"Apa tak masalah bila aku dilihat oleh perempuan lain?"
"Kalau hanya melihat, apa masalahnya? Kecuali mereka menyentuhmu, itu sudah berbeda arti."
"Tapi aku tidak mau kamu begitu, hanya dengan laki-laki lain melihatmu, aku sudah marah, aku cemburu!"
Ara memeluk suaminya berusaha menenangkannya dengan menepuk pelan punggungnya. Dituntunnya Raka untuk duduk dikursinya, dan Ara duduk dipangkuannya. Raka merasakan gejolak didalam tubuhnya yang selama ini selalu ia tahan.
"Tenanglah, Raka. Bukankah kamu berjanji akan percaya padaku? Hatiku hanya satu didalam raga ini, dan ini sudah jadi milikmu, yang pertama dan terakhir untukmu."
"Maafkan aku, sayang. Aku pasti menjadi pria menyebalkan dihadapanmu." Raka mulai menurunkan emosinya dan merasa tenang dengan ucapan Ara.
"Aku sungguh baru tahu itu, ternyata memang menyebalkan." Ara memukul ringan dada Raka.
"Jangan tinggalkan aku, jangan pernah. Kumohon!" pinta Raka tulus.
"Kamu tahu aku tidak akan melakukannya." Ara meyakinkan Raka untuk yang kesekian kalinya.
Mereka saling memandang sekejap, dalam hati keduanya, mereka saling mengagumi satu sama lain.
"Maafkan aku jika aku tak mampu menahannya." Raka langsung ******* habis lagi bibir ranum milik Ara, sekarang ciumannya lebih lembut dari pada saat rasa cemburu menguasainya. Ara membalasnya denga ciuman manisnya. Ciuman ringan berlahan menjadi ciuman yang lebih dalam, lebih menggairahkan. Tangan Raka berlahan mulai menuju kedada Ara, dan meremas salah satunya.
Ara tersentak kaget, dan berusaha untuk melepaskan diri. Tapi tak mampu, karena tenaga Raka berhasil menghalanginya untuk kabur dari dekapannya.
Ara merasakan ada yang menyentuhnya dibawah pahanya, dan sentuhan itu berasal dari milik Raka.