
Sekembalinya Ara dan Raka ke Jakarta, mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing. Raka dengan pekerjaannya yang menumpuk karena satu minggu penuh ia tinggalkan. Banyak laporan yang perlu dipelajari dan ditandatangani sudah menumpuk dimejanya. Sedangkan Ara, berkutat dengan merangkai bunga, pekerjaan yang paling menyenangkan baginya. Dia mulai turut serta dalam pengerjaan beberapa pesanan berbagai perusahaan di Jakarta. Terkadang Ara sendiri yang mengantarkan rangkaian bunganya apabila memang diperlukan.
Sesibuk apapun, Raka tak pernah lupa untuk berkomunikasi dengan isterinya.
'Rumah'
Kring...kring...
"Iya, Mas?" sapa Ara dengan ponselnya.
"Hari ini aku harus lembur lagi, sayang. Maaf, aku tak bisa menemanimu lebih awal hari ini."
"Tak apa, Mas. Ara tau kalau Mas sangat sibuk. Apakah masih banyak?"
"Tinggal sedikit lagi, sudah beberapa minggu aku berusaha menyelesaikannya. Harusnya hari ini yang terakhir. Aku sudah rindu memelukmu."
"Tak apa Mas, selesaikan secara perlahan. Jangan sampai tumbang." ucap Ara dengan nada khawatir.
"Iya, sayang. Mas lanjut dulu ya. Mimpi indah."
Karena Ara sudah mendapat kabar bahwa Raka akan terlambat untuk pulang hari ini, dia memutuskan untuk tidur lebih awal. Karena pekerjaannya hari ini juga cukup menyita tenaganya.
Ditengah malam Ara merasakan ada sesuatu yang menyentuh kulitnya. Sentuhan itu membuat sensasi geli dibadannya. Saat Ara berusaha membuka matanya, Raka sudah berada di atasnya menciumi lehernya.
"Mas?"
"Hemmm." jawab Raka singkat karena tak mau menghentikan gerakannya.
"Apa yang mas lakukan?"
"Aku merindukanmu, sayang."
Setelah itu Raka melanjutkan kesenangannya menguasai sepenuhnya tubuh Ara. Walaupun tubuh Raka sangat lelah karena pekerjaannya, tidak pernah menghilangkan minatnya terhadap tubuh Ara. Saat puncak kenikmatan telah didapat, keduanya tertidur lelap. Raka memeluk tubuh Ara dari belakang.
***
Kring...kring...
"Hallo." sapa orang diseberang sana.
"Mama?" tanya Ara.
"Bagaimana kamu tahu kalau ini mama?" tanya mama Raka penasaran.
"Tau, Ma. Suara mama begitu manis saat didengar." Ara mencoba merayu mamanya.
"Aih...aih...pandainya menantu mama memuji. Datanglah untuk makan malam hari ini. Sudah lama kalian tidak berkunjung."
"Maaf, Ma. Kami begitu sibuk akhir-akhir ini. Nanti malam kami akan berkunjung."
"Mama mengerti, maka dari itu, karena ini hari Sabtu, berkunjunglah. Mama akan meminta bibi untuk memasak makanan kesukaanmu."
"Benar, Ma!" Ara kegirangan mendengar mertuanya begitu perhatian padanya.
"Tentu, sayang. Mama tunggu, ya."
Setelah panggilan itu selesai, Ara berteriak memanggil Raka dan memberitahunya bahwa ada undangan makan malam dirumah mamanya.
"Jangan lari-lari. Nanti kamu jatuh, Ra."
"Yeee, memangnya aku masih anak kecil."
"Ada hal apa yang membuatmu berlari sambil teriak, hem?"
"Nanti malam kita di suruh mama mengunjunginya sekalian makan malam."
"Lalu, apa yang membuatmu kegirangan?" tanya Raka heran dengan tingkah isterinya.
"Mama akan siapkan makanan kesukaanku, Mas. Gulai kambing."
Raka mengusap rambut Ara gemas,"Sesederhana itu hal yang membuatmu sangat bahagia?"
"Kan sudah lama tak makan itu, Mas. Aku sudah tak sabar pingin segera malam."
"Sabar, nanti kita sore bisa langsung ketempat mama."
Raka heran karena tiba-tiba wajah bahagia Ara menjadi sedih dan menundukkan wajahnya.
"Ada apa, sayang?"
"Ara takut, Mas. Takut kalau mama nanti tau tentang masa laluku." Ara mengutarakan kesedihannya.
"Tenanglah, sayang. Mama sudah tahu." Raka menenangkan Ara.
"Hah? Betul mas?"
"Apakah aku pernah berbohong didepanmu?"
"Tapi kenapa?"
"Kenapa mama tak mempermasalahkannya?" tanya Raka dan diikuti anggukan kepala Ara.
"Karena mama tahu kalau kamu tak seperti kedua orang tua kandungmu."
"Mama tak marah atau tanya sesuatu padamu, Mas?"
Raka menggelengkan kepalanya, "Informan mama lebih cepat dari pada milikku. Jadi sejak awal mama memgetahuinya."
"Kukira akan seperti di drama yang pernah ku tonton, orang tua dari keluarga berstatus sosial tinggi tidak akan mau menerima seseorang dengan status yang jauh berbeda, apalagi dengan masa laluku."
Raka menghadapkan Ara kearahnya, "Dengarkan aku baik-baik." Ara memperhatikan Raka dengan serius. "Mama itu bukan seseorang yang kaku, yang gila akan kedudukan. Mama dan Papa saat mereka menikah, mereka tak memiliki apapun. Papa yang merintis usaha kecil-kecilan hingga besar seperti saat ini. Jadi mama tak pernah bermasalah dengan siapa pendampingku. Yang utama baginya adalah pendampingku merupakan wanita yang baik."
"Saat bisnis papa mulai merangkak naik, disanalah beberapa saudara yang tak tau diri meminta untuk diikut sertakan. Tanpa usaha keras, mereka turut menikmati hasil. Maka dari itu, Mama dan aku, berusaha berdiri diposisi tertinggi agar tak menyia-nyiakan usaha papa selama ini." tambah Raka.
"Perusahaan ini berdiri dengan keringat papa didalamnya. Maka dari itu, aku akan selalu melindungi S&D Group."
"Ternyata Mama dan suamiku merupakan orang yang begitu hebat. Aku sangat bersyukur dipersatukan denganmu, Mas." Ara memeluk suaminya.
"Tentu saja aku harus menjadi orang yang hebat untuk melindungimu, sayang."
----- Berlanjut ke Next Episode 'Akhir Bahagia'