
"Beraninya kamu menginjakkan kaki dirumah ini!" papa berang.
"Pa!" teriak Ara.
"Sabar pa, Andra bisa jelaskan. Sekarang kita masuk dulu."
Papa Andra masuk dengan nafas yang berat karena menahan emosinya. Dia merasa marah kepada Raka karena telah menyakiti anak perempuannya.
Diruang tamu, mereka duduk dalam diam. Ara yang mengetahui situasi canggung itu, langsung menghampiri papanya.
"Pa, Ara baik-baik saja, papa jangan cemas ya?"
"Cepat urus perceraianmu, buat apa kamu masih mau bersama orang tak tau diri ini!"
"Maaf, Om. Saya tahu saya salah. Tapi saya ingin memperbaiki kesalahan saya. Saya sangat mencintai Ara."
"Mencintai? Apa begini namanya mencintai? Sudah kalian menikah tak memberitahu kami selaku orang tuanya. Menurutmu bagaimana perasaan kami selaku orang tuanya?"
"Pa...itu Ara yang salah. Ara sudah pernah menjelaskannya lewat telepon tempo hari. Keadaan saat itu sungguh tidak memungkinkan, pa."
"Sudah...sudah, mereka pasti lelah, apalagi katanya kesehatan nak Raka sedang kurang sehat. Lebih baik kalian istirahat dulu di atas. Nanti kalau makan malam sudah siap, biar dipanggil oleh bibi."
"Jangan taruh mereka dalam satu kamar, papa tidak mengakui hubungan ini!"
"Pa..." rengek Ara.
Mama Ara mengisyaratkan untuk menuruti perkataan papanya yang sedang emosi. Raka di antar oleh bibi kekamar tamu dilantai bawah, Ara dan Andra naik kelantai atas menempati kamar mereka masing-masing. Walaupun Ara bukan anak kandung keluarga Suryawan, tapi mereka sangat menyayangi Ara layaknya anak kandung. Mereka merawatnya disaat mentalnya saat itu terpuruk, melindunginya dari omongan jahat masyarakat, dan juga menyekolahkannya sampai ke jenjang S1. Itu juga merupakan salah satu alasan Andra tak bisa menyampaikan perasaannya sampai akhirnya Ara menikah.
Ara membaringkan badannya dikasur lamanya, nuansa kamarnya sama sekali tidak berubah, masih sama persis sebelum ia tinggalkan. Mama Siska selalu meminta bibi untuk membersihkan kamar anak perempuannya.
Saat bangun dari tidurnya, dia merogoh tas kecil yang dia letakkan diatas nakas, dia mengambil beberapa obat yang diperolehnya dari rumah sakit. Dia harus rutin meminumnya agar emosinya bisa terkontrol. Dia ingin sembuh, karena ingin bersama dengan orang yang dicintainya.
Tok...tok...tok...
"Masuk."
Pintu terbuka dan Raka berada dibaliknya.
"Tubuhku kurang enak badan, sayang. Bolehkan aku disini sebentar."
"Kesinilah." Ara menepuk ruang kosong kasur disebelahnya.
Raka langsung membaringkan badannya disebelah Ara, dan langsung memeluknya. Ara sedang duduk bersandar, jadi Raka menopangkan kepalanya dipaha Ara. Sebenarnya demam Raka sudah reda setelah meminum obat terakhir kali, itu hanya alasan untuk bisa bersama dengan Ara.
"Aku sangat merindukanmu." ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.
"Bersabarlah, papa orang baik. Maklumi saja beliau sebagai orang tua."
"Tapi bukankah terlalu kejam membuat kita berpisah kamar?"
"Bukankah kamu sudah terbiasa tidur tanpa diriku?"
"Aku tak biasa, dan tak kan pernah bisa hidup tanpamu. Yang terpenting saat ini aku bisa bersamamu. Terimakasih telah memaafkanku." ucap Raka sembari mengecup tangan Ara.
"Ini semua juga berkat perjuangan Andra, dia sangat menderita beberapa bulan ini, karena selalu meladeni emosiku yang tak karuan."
"Yah...aku memang harus membalas budi padanya."
"Dia tak memerlukan itu."
"Dari mana kamu yakin?" tanya Raka.
"Karena aku selalu bersamanya. Jadi aku tahu semua tentangnya."
"Kamu saja tidak tau bahwa dia mencintaimu." kata Raka dengan suara rendahnya.
"Apa?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tidur beberapa menit saja."
"Tidurlah, aku disini."
Dengan belaian lembut Ara di kepalnya, membuat Raka mengantuk dan tertidur pulas. Seberapa besar masalahnya, nyatanya Andra bisa turut menyembuhkan mental Ara secara perlahan. Ara sangat menyayanginya layaknya saudara kandung. Tentu saja Ara menyadari sedari lama bahwa pria tampan itu menyimpan hati untuknya sejak lama, tapi Ara selalu berpura-pura tak menyadarinya saat bersama Andra. Dan hatinya saat ini tertambat pada pria yang sekarang ini terlelap dikamarnya.