ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
AKU BERJANJI



"Bisa-bisa aku menjuarai lomba berbohong jika benae perlombaan itu di adakan." keluh Ara.


"Kita melakukannya bukan untuk mencelakai orang lain, ini demi kebaikanmu sendiri. Lagi pula mereka juga tidak dirugikan apapun dengan kebohonganmu itu" jelas Raka


"Bahagia?" tanya Raka dengan tetap mengendalikan kemudinya.


"Tentu saja, aku sangat merindukan mereka."


"Kamu tidak seantusias ini saat bertemu lagi denganku?" Raka merajuk.


"Lagi? Kepribadianmu sungguh diluar ekspektasiku selama ini."


"Memangnya seperti apa yang kamu bayangkan dan yang kamu lihat?"


"Pandanganku dulu tentangmu, seseorang yang serius akan pekerjaan, biasanya memiliki watak disiplin, dan mandiri."


"Itu memang diriku."


"Tapi, ada satu hal yang membuatku takjub akhir-akhir ini."


"Apa itu, sayang?" Raka mengambil tangan kanan Ara dengan tangan kirinya dan mengecupnya.


"Rasa cemburumu yang begitu besar. Begitukan dulu dengan mantan modelmu itu?"


"Hhmmm...aku juga tidak pernah tahu kalau memiliki rasa satu ini, karena dulu aku tidak pernah sekalipun merasakannya saat bersama Siska."


"Masa mudamu?"


"Aku tak tahu bagaimana rasanya romansa percintaan anak muda, atau yang biasa mereka sebut cinta monyet. Masa mudaku dihabiskan dengan semua pelajaran tambahan tentang bisnis yang akan diberikan padaku di masa depan. Karena aku anak tunggal, mereka begitu ketat mendidikku."


"Lalu bagaimana denganmu, masa mudamu pasti . . ." Raka merutuki perkataannya sendiri saat dia tersadar akan kesalahannya.


Tiba-tiba wajah Ara berubah menjadi murung saat Raka tak sengaja menanyakan hal itu kepadanya, "Kamu pasti sudah tahu pasti bagaimana masa mudaku. Hari-hariku begitu berat, aku harus menerima semua hujatan dari orang-orang yang merasa dirinya suci. Bagaimana bisa aku merasakan namanya jatuh cinta, mereka saja merasa jijik saat berada didekatku." Ara meneteskan air matanya, hatinya begitu sakit teringat semua perlakuan yang dia rasakan di masa lalu.


Raka menepikan mobilnya dan berhenti, dia merasa bersalah karena telah mengorek luka hati Ara.


"Maafkan aku, sayang. Aku sungguh telah menyakitimu lagi. Maafkan aku." Raka memeluk Ara dengan perasaan bersalah dan khawatir dengan mental istrinya. "Ada yang bisa kubantu untuk meringankan bebanmu?" Raka masih menepuk pelan punggung Ara.


"Aku tidak apa-apa. Aku harus bisa menerimanya. Aku bersyukur bertemu denganmu dan memberikan hatiku hanya untukmu. Pertama dan terakhir untukmu." Ara mengusap air mata yang tersisa di pipinya, dan melepaskan pelukan Raka.


"Terimakasih karena telah memberikannya padaku, aku berjanji tidak akan membuat hati itu terluka." Raka mengecup kening Ara.


"Terimakasih. Bisakah kita pulang sekarang? Aku sudah merasa tenang."


Mereka melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan Raka terus saja menggenggam tangan kanan Ara. Dia berjanji dalam hatinya, tak akan melepaskan wanita yang duduk disebelahnya. Apapun yang terjadi nanti.


***


'Rumah'


"Raka! Bajuku semua hilang dari kamarku." teriak Ara dari dalam kamarnya.


"Turunlah, dan datanglah kekamarku."


Ara menuruni tangga dan masuk kekamar Raka.


"Semua bajumu tidak hilang, semua sudah tersusun rapi dikamar ini, kamar kita."


"Kapan kamu melakukannya?" tanya Ara kebingungan.


"Bibi dari rumah mama yang melakukannya. Aku memintanya untuk memindahkan semua barangmu kesini."


"Tapi aku menyukai kamarku, Ka."


"Tidak suka bersamaku?" lagi-lagi Raka merajuk dan duduk membelakangi Ara.


Ara yang melihat suaminya merajuk membuatnya gemas dan memeluknya dari belakang.


"Jangan merajuk lagi, ya? Aku minta maaf, aku suka bersamamu. Tapi aku juga perlu kamar itu."


"Kamar atas tetap jadi milikmu, tapi selalu disinilah bersamaku." pinta Raka.


"Ia, suamiku tercinta."


Raka tersenyum cerah dan membalikkan badannya, mengangkat badan Ara dan menjatuhkannya keatas tempat tidur.


"Lalu, bagaimana kalau kita mencoba apa yang kamu ucapkan siang tadi." Raka berada di atas tubuh Ara, menopangkan badannya dengan kedua tangannya.


"Bagaimana jika kamu kecewa dengan reaksiku?"


"Kita coba dulu, aku akan menghilangkan segala kecemasanmu. Dan rasa yang kamu rasakan malam itu, aku pastikan kamu akan melupakannya."


Raka perlahan mengecup kening Ara, turun kepipi, dan berakhir ke bibir indah Ara. Mereka mencumbu satu sama lain, Raka begitu lembut memperlakukan Ara.