ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
REKAN



"Apa? Ada apa? Cepat katakan!!!" Ara sangat penasaran karena Raka tak melanjutkan kalimatnya dan hanya tersenyum tipis.


"Raka!!!"


"Iya, iya sabar. Aku jelaskan." Ara menghentikan kegiatan makannya, karena penasaran dengan kalimat Raka selanjutnya.


"Karena masih ada perjamuan makan malam dengan client, sekretaris dan asisten pribadiku kusuruh untuk kembali kekamarku terlebih dahulu, karena masih ada hal yang akan kami bicarakan."


"Asisten pribadimu, si Bagas? Yang selama ini menjemputku saat persiapan pernikahan?"


"Betul, itu dia. Dan saat aku masuk kedalam kamar, penampilan mereka memang agak kacau. Saat aku tanya, mereka sedang memainkan permainan dengan hukuman bagi yang kalah. Karena aku sangat lelah dan otakku tak mampu lagi untuk berfikir, jadi kuanggap mereka memang benar bermain."


"Lalu?"


"Saat mereka sedang merapikan pakaian, saat itulah ada yang menggedor pintu kamarku, dan karena mereka masih sibuk dengan penampilan mereka, aku yang membukanya. Dan kau tahu jelas apa yang terjadi. Aku hanya tak menyangka ternyata hubungan mereka berdua ternyata seperti ini."


Ara langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam keatas meja. Dia malu, betapa terlihat bodohnya dia saat itu.


"Ada apa?" Raka merasa aneh dengan perilaku perempuan cantik didepannya.


"Pantas saja kamu bingung saat itu. Maafkan aku. Aku sangat bersalah padamu. Lalu bagaimana dengan Fransiska? Kamu masih bersamanya? Sebenarnya aku tidak masalah dengan hubungan kalian, dan semoga hubungan kalian tidak berpengaruh apa-apa karena ulahku. Tapi..."


Ara diam sejenak, menimbang perlukah kalimatnya selanjutnya. Raka masih menunggu.


"Tapi...bisakah jangan terang-terangan didepan publik, karena kamu sekarang seorang pria beristri. Aku tidak mau di cap menjadi istri yang sudah ditinggalkan suaminya dipernikahan yang baru seumur jagung."


"Bagaimana kamu tahu kalau dia fransiska?"


"Dia seorang model terkenal, cantik, siapa yang tidak mengenalnya."


"Oh, iya. Betul juga. Dan aku sudah berpisah dengannya."


"Sudah tidak apa-apa. Lagipula belakangan ini aku baru tahu alasannya memutuskanku sebenarnya bukanlah karena ucapanmu saat itu. Tapi karena dia sudah mengambil kontrak ekslusif di New York selama 1 tahun. Itulah alasan sebenarnya." Raka berusaha menjelaskan agar Ara tidak sepenuhnya merasa bersalah.


Setelah pembicaraan yang panjang, mereka melanjutkan sarapan dalam diam. Pikiran Ara masih berkecamuk, dan Raka berfikir bahwa ada bagusnya dia menikahi gadis seperti Ara. Periang dan sebenarnya baik orangnya. Kalau saat ini dia menikah dengan Fransiska, pasti sekarang langsung ditinggalkannya karena pekerjaan modelnya yang padat.


"Aku selesai makan. Aku mau mandi dan tidur setelah ini. Dan sore nanti aku akan berbelanja."


"Biar kutemani sore nanti. Istirahatlah." kata Raka.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Aku sudah terbiasa."


"Maka itu, mulai hari ini biasakanlah berdampingan bersamaku. Karena kita sekarang adalah rekan, bukan saingan. Aku juga mempunyai kewajiban untuk memberikanmu segala keperluan yang kamu butuhkan dirumah ini."


"Ok. Jam 4 nanti aku akan turun. Terimakasih."


Ada rasa canggung dari suasana yang baru saja mereka rasakan. Seolah-olah mereka benar-benar pengantin baru. Setelah mencuci piring, Ara langsung naik kelantai dua. Sedangkan Raka masuk kedalam kamarnya dilantai bawah.


'Kamar Raka'


"Ternyata ada bagusnya juga menikah, walau ini hanya bisnis semata. Ara merupakan gadis yang menyenangkan."


Setelah sibuk dengan segala pikiran yang ada di otaknya, tak terasa Raka juga terlelap. Karena perutnya sudah terisi penuh dengan nasi goreng dan jus dari Ara. Dan makanan itu terasa lezat di mulut Raka. Itu seleranya. Sudah lama ia tak pernah makan dirumah. Apalagi rumah orang tuanya.


Cerita tambahan:


"Gila...gila...gila, Ara!!!" Ara terus saja menyumpahi dirinya sendiri atas kebodohannya.


"Bagaimana bisa kamu menghancurkan rencana pernikahan seseorang dan akhirnya terjebak didalamnya. Ini adalah karma!" Ara menggumam sendiri didalam kamarnya.