
Malam itu sukses membuat Raka bertambah lemah karena dia harus menahan segala hasrat yang timbul didalam dirinya.
Seperti pagi biasanya, Ara akan menyiapkan secangkir kopi atau segelas jus buah, dan sepiring sarapan untuk Raka.
"Kamu akan ijin hari ini?"tanya Ara sambil menyodorkan makanan kehadapan Raka.
"Ia, kondisiki tak baik semalam."
"Hmm, benarkah?" tanya Ara heran. "Bahkan aku tertidur pulas semalam. Ranjangmu memang nyaman sekali. Tak pernah aku tidur sepulas itu."
"Ini semua karena dirimu." ucap Raka pelan.
"Kamu bilang apa?"
"Tidak, aku hanya mengatakan, tidurlah terus dikamarku kalau itu memang nyaman. Dan aku juga masih perlu bantuanmu."
Karena Ara merasa Raka orang yang akan menepati janjinya, dia langsung mengiyakan ajakan Raka. "Baiklah."
"Baiklah???"
"Kamu tak senang aku masih mau membantumu?"
"Tentu saja senang, terimakasih."
"Hari ini aku akan pulang terlambat, tidurlah dulu aku akan menyusulmu."
"Apa kegiatanmu?" tanya Raka dengan masih mengunyah makanannya.
"Aku akan kegaleri sebentar, dan menemani Andra ketaman kota untuk melukis. Bisa seharian dia untuk melakukan hal itu."
"Andra??? Aku ikut." Raka langsung berdiri dari tempatnya bersiap melangkah mengganti pakaiannya.
"Tidak perlu!" Ara mencegahnya dengan menggenggam pergelangan tangannya dan menuntunnya untuk kembali duduk.
"Habiskan makananmu dan beristirahatlah. Kamu bisa tumbang dengan kondisimu." Ara menyelesaikan sarapannya dan bersiap untuk pergi.
"Tak bisakah kamu tetap disini?" rengek Raka.
Ara melepasksn genggaman tangan Raka. "Apakah sakit membuatmu menjadi bayi besar? Bukan seperti ini direktur utama S&D Group yang kukenal."
Ara tersenyum dan pergi meninggalkan Raka yang masih memandangnya dari meja makan. Ara mengeluarkan mobilnya dari garasi dengan pelan dan melajukan mobilnya dengan perlahan. Hari ini suasana hati Ara sedang baik. Entah karena ranjang Raka atau karena Raka???
***
'Taman kota'
"Kenapa kamu terus tersenyum sejak tadi?" tanya Andra penasaran.
"Entahlah, mungkin karena Raka yang memperlihatkan sifat barunya di hadapanku?"
"Raka? Suami palsumu itu?"
"Hust!!! Dia suami sah ku dimata negara. Dan jaga mulutmu kalau tidak ingin aku mendeportasimu dari Indonesia."
"Kamu tidak akan bisa mendeportasiku karena aku masih WNI, Ra!"
"Apa kamu mulai menyukainya?"
"Siapa? Raka?
"Iya, orang itu."
"Mungkin. Aku nyaman disampingnya, dan dia selalu baik terhadapku. Tapi jujur, Ndra, saat ini aku mulai takut."
"Kalau kamu takut, hentikan itu. Dan ikutlah bersamaku ke Amerika."
"Kita pernah membahasnya dulu. Aku tak mau merepotkanmu. Dan tidak mau mengganggumu saat berkencan dengan pacar bulemu."
"Dan aku juga terus meyakinkamu bahwa kamu sama sekali tidak merepotkanku."
"Sudahlah, Ndra. Kumohon." pinta Ara
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
"Mungkin aku akan menjalaninya dulu, sambil mengamati. Jujur saja, bayangan masa lalu terkadang terlintas dibenakku. Dan aku sampai gemetar mengingatnya."
"Lupakan, dan hanya ingatlah aku." Andra menenangkan Ara dengan memeluknya.
"Sudah, cepat selesaikan lukisanmu. Aku lapar." Ara memanyunkan mulutnya dan mengelus perutnya.
"Benarkah? Ayo kita isi perut dulu kalau begitu."
***
'Rumah'
"Ini sudah jam berapa? Kenapa belum pulang?" Raka terus memperhatikan jam yang berdetak sangat lamban, tak sabar ingin segera mengetahui kabar Ara.
Saat ini jarum jam sudah menunjuk pukul 22.00. Raka masih gelisah dikamarnya, dilihatnya terus layar hp nya. Takut Ara tiba-tiba menghubungi.
Brruuuummmm....terdengar tarikan gas berat masuk kedalam garasi rumah.
Raka girang mendengar mobil Ara sudah masuk kedalam garasi. Raka langsung naik keranjangnya dan berpura-pura memejamkan mata.
Ara langsung naik kekamarnya dan langsung membersihkan badan. Mengenakan pakaian tidurnya denga segala kebiasaannya. Dia turun dan masuk kedalam kamar Raka. Langsung berbaring disebelah Raka.
"Belum tidur?" tanya Ara yang melihat Raka masih terjaga.
"Aku menunggu obatku."
"Tidurlah, aku disini menemanimu." Ara menaikkan selimut Raka yang melorot.
Raka yang tidak sengaja memperhatikan dada Ara, berusaha mengalihkan pandangannya. "Bolehkah menggenggam tanganmu?"
"Hanya tangan?"
"Kamu ingin yang lain?" goda Raka. Ara langsung memukul lembut Raka, dan menyodorkan tangannya. Ara langsung tertidur pulas disebelah Raka karena kelelahan. Dan Raka juga langsung memejamkan matanya yang sudah tidak bisa menahan kantuk lagi.