
"Apalagi yang ingin kamu katakan?"
"Bisakah kita bertemu? Aku mohon, Ndra. Aku ingin meluruskan semuanya." mohon Raka.
"Cukup, Ka. Selesai sudah. Lepaskan Ara. Dia menderita bersamamu."
Klik. Tuut...tuut...telepon ditutup sepihak dari seberang sana. Raka tak hilang akal, dia melakukan pelacakan asal nomor yang Andra pakai.
"Bagaimanapun caranya, aku harus menemukanmu, Ra. Aku tak akan melepaskanmu."
Sebelum Raka melakukan upaya itu, setiap hari Raka mencoba menghubungi Andra terlebih dahulu. Tapi karena tidak ada respon dari pemilik nomor, akhirnya Raka dengan kekuasaannya mencari asal nomor yang dipakai oleh lelaki 28 tahun itu.
Klik..klik...notifikasi sms ke ponsel Andra.
Aku tahu keberadaanmu, aku ingin menemui istriku.
Setelah mendapatkan pesan singkat dari Raka, Andra langsung menghubungi Raka. Dia takut Raka akan menyakiti lagi orang yang dikasihinya.
"Halo?"
"Brengsek!!! Apa kurang cukup kamu menyakiti Ara, hah???" Andra cukup emosi setelah membaca pesan singkat dari Raka.
"Akhirnya kamu meresponku. Dia istriku, Ndra. Jadi kamu jangan ikut campur."
"Temui aku di cafe A, di Denpasar, besok siang. Biar kamu tahu betapa menderitanya Ara bersamamu."
Setelah itu, Andra langsung menutup telponnya. Raka langsung bersiap dan memesan tiket hari itu juga ke pulau Dewata. "Pantas saja mereka susah dicari, ternyata mereka berada di pedesaan Bali." Raka menganalisa kenapa kaki tangannya tidak bisa menemukan keberadaan Ara dan Andra.
Hanya dengan berbekal baju yang dipakainya dan segenap isi dompetnya, Raka langsung menuju ke bandara sore itu juga. Dia sudah mengetahui keberadaan Ara, tapi ingin bertemu dengan Andra terlebih dulu.
***
'Denpasar, Bali'
"Maaf, sudah menunggu." sapa Raka.
"Tidak perlu basa basi. Sebenarnya apa yang kamu inginkan lagi? Bukannya semua sudah dengan pengacara?" tatapan Andra begitu tajam.
"Aku ingin istriku, Ndra. Aku tak ingin bercerai."
"Apa itu sepenuhnya keinginannya? Atau sebaliknya?" tambah Raka.
"Apa maksudmu?" Andra nampak bingung.
"Jangan berlagak bingung, Ndra. Aku tahu jelas kalau dirimu ada hati untuk Ara."
"Aku ingin menjelaskannya langsung kepada Ara tentang salah faham ini."
"Mungkin alasanmu melakukan hal keji awalnya adalah salah faham. Tapi perbuatanmu itu nyata kesalahan fatal."
"Ayolah, Ndra. Kami hanya berhubungan badan layaknya suami istri!"
Andra menahan amarahnya, dia menggenggam erat tangannya karena sangat ingin menghantam orang didepannya. "Hanya??? Kamu bilang hanya???"
"Yah, perkataanku memang menyakitinya. Tapi dia gadis yang kuat dan mandiri. Aku yakin hal itu tidak berpengaruh padanya?"
"Kamu tahu jelas bagaimana kondisi terakhirnya sebelum aku membawanya pergi bukan?"
Raka terdiam karena dia menyadari secara tidak langsung kondisi Ara malam itu.
"Bagaimana kondisinya saat ini, Ndra?" Raka mulai cemas.
"Sebelum aku menjawab itu, kamu tahu dari mana tentang orang tuanya dan masa lalunya?"
"Aku bisa mendapatkan semua informasi yang aku inginkan dengan mudah. Informasi ini kudapat dari bawahanku saat aku bersengketa dengannya dulu."
"Bukankah kamu baca semua isi informasi itu? Atau informasimu kurang lengkap, Tuan Raka yang terhormat?" Andra mulai memanas.
"Tentu saja, aku ..." Raka terdiam dan mengingat kembali bahwa dia hanya membaca sepintas info yang Bagas berikan padanya.
"Hah?? Sepertinya kamu tidak membacanya dengan lengkap. Betul bukan kataku?"
Raka terdiam sambil meminum kopinya yang sudah mulai dingin. Dia tidak bisa membalas Andra karena dia memang tidak membacanya dengan lengkap.
"Aku melakukan ini karena aku cemburu, Ndra. Dia tidak bisa dihububungi. Dan keesokan harinya, aku mendapatkan foto dimana didalam foto itu, dia sedang berpelukan dan masuk kedalam kamar yang sama."
"Apa kamu sudah bertanya dengan Ara kenapa dia tidak bisa dihubungi?" Andra terus berusaha mencari kesalahan Raka.
"Tidak."
"Karena aku kelelahan saat persiapan pameran, aku pingsan. Dan dengan cemasnya, Ara berusaha mencari bantuan dan langsung membawaku ke rumah sakit. Kamu tahu apa yang terjadi setelahnya?" Andra terdiam sebentar memberi waktu Raka mencerna penjelasannya, "Ara kehilangan tas nya karena dia panik saat itu, dan dia membopongku masuk ke kamar hotel karena memang kami disana tidak kenal siapa-siapa. Dan aku diminta pulang dari rumah sakit karena hanya perlu beristirahat saja."
"Ara tak menghubungiku, Ndra. Jadi. . ."
"Karena dia belum hafal nomormu, Ka. Bukankah kalian baru saling menyatakan perasaan sebelum kami terbang ke Malang? Dan saat itu juga, baru dia menyadari semua hal tentang dirimu karena Ara berusaha agar bisa menerimamu." sahut Andra cepat.
"Dengarkan ini, Tuan Raka. Aku mengenalnya sejak kecil, jadi aku mengetahui segalanya tentang Ara. Kumohon dengarkan baik-baik apa yang akan kuceritakan, agar kamu tahu seberapa besar kesalahanmu itu."
Raka memperhatikan Andra yang mulai bercerita tentang masa lalu Ara yang begitu kelam. Matanya terbelalak, duduknya menegak saat mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Andra.