ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
WAKTU



"Sudah menunggu lama?" tanya Ara sambil berjalan kebawah.


"Tidak masalah. Aku juga sedang menonton berita."


"Ayo kita berangkat."


Raka mengehentikan langkah Ara, "Tunggu, dengan baju seperti ini? Celana pendek, dan kaos biasa? Tanpa riasan?"


"Ada yang salah, Tuan? Aku tidak harus memakai baju pengantin untuk pergi belanja kan?"


"Tapi...biasanya para gadis akan heboh dengan penampilannya saat akan pergi keluar rumah." Raka menilai penampilan Ara dari atas rambut yang digerainya, sampai kebawah sandal jepitnya.


"Itu perempuan lain, Tuan. Bukan Maharani. Ayo cepat, keburu malam. Nanti sekalian kita beli makan malam diluar, boleh?"


"Tentu saja, Nyonya!" Raka mengekor dibelakang Ara, dan masih takjub dengan kesederhanaan gadis yang berjalan didepannya. Walau tanpa riasan, wajahnya masih sangat cantik.


Dalam perjalanan, ada obrolan ringan di antara mereka. Mereka berusaha memecah rasa canggung diantara keduanya.


"Apa kau jadi cuti?"


"Tidak jadi, tapi aku tak perlu datang kekantor. Aku bisa melakukannya dari rumah."


"Oh, betul juga."


"Lalu, bagaimana dengan galerimu?"


"Galeriku masih berjalan dengan baik berkat Dewi. Dia orang kepercayaanku. Dan aku akan kembali setelah rapat direksi."


"Kenapa?"


"Yang pertama, aku harus mempersiapkan segala kemungkinan pertanyaan yang akan dilemparkan kepadaku tuk dijadikan senjata mereka untuk menjatuhkanmu. Kemarin saja aku sampai kehabisan nafas saat menjawab beberapa pertanyaan dari sepupu dan keluarga lainnya. Untung ada mama."


"Apa dia baik denganmu?"


"Dan kedua..."


"Kedua, aku harus cuti dari galeri supaya terkesan berbulan madu. Kalau tidak, mau berbulan bulan mereka akan menanyakan alasan kenapa aku tidak melakukannya. Mereka sangat penasaran dengan urusan orang lain. Terutama masalah itu berkaitan denganku. Kamu tahu sendiri kan."


Tiba-tiba Raka tertawa terbahak-bahak dan membuat Ara semakin kesal. "Aku masih ingat saat karyawanmu semua terkejut saat kita akan menikah. Dan mereka mengira mawar yang kau antarkan padaku malam itu merupakan mawar yang kupakai untuk melamarmu. Dan siapa namanya?"


"Yuyun." jawab Ara dengan memanyunkan mulutnya.


"Betul dia, sampai membuat kehebohan di sosial media karena berita kita berdua." Raka masih melanjutkan tawanya.


"Mau bagaimana lagi, mereka mengenalku dengan pribadi yang takut akan komitmen pernikahan."


Raka langsung menghentikan tawanya, "Kenapa kamu tak mau menikah seumur hidupmu."


"Terlalu sesak untuk mengingatnya, aku tak mau membicarakan hal ini." Ara langsung melempar pandanganya keluar cendela. Raut mukanya berubah menjadi sendu. Raka terdiam, tak mau menambah kesedihan di wajah Ara.


Pada umumnya semua gadis memimpikan kehidupan percintaan dan pernikahan yang manis dan memikat, tapi itu semua tak berlaku untuk Ara. Dia tak mau merasakan apa yang namanya cinta. Karena sesuatu dimasa lalu, merusak segala gambaran indah tentang percintaan dan pernikahan. Selama ini dia hanya sendirian tanpa orang tua dan keluarga didekanya, karena itulah. Galeri dan karyawannya merupakan salah satu yang terpenting untuknya.


***


Raka memarkirkan mobilnya di depan swalayan terbesar di kota. Tempatnya bersih dan lengkap.


Saat turun dari mobil, Ara mengambil secarik kertas dari tas kecilnya.


"Apa itu?"


"Catatan belanja. Aku tak mau ada yang terlupa setelah kita pulang kerumah."


Raka hanya memuji dalam hati kepandaian gadis yang saat ini berstatus menjadi istrinya. Ara berjalan di iringi Raka yang membawa keranjang belanjaan. Dengan setia dia berada dibelakang Ara dan mengikuti arahannya untuk mengambil sesuatu atau mengangkat barang yang berat.