ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
LEBIH DALAM



Dengan lembut Raka ******* bibir indah Ara, dia mencurahkan segala kerinduan yang ditahannya beberapa bulan ini. Ara menurunkan tangannya kepundak Raka, dan Raka semakin mengeratkan tangannya kepunggung Ara. Mereka saling bertautan melepaskan segala kerinduan yang menyiksa.


"Tunggu, Raka." Ara melepaskan ciuman mereka dengan kesusahan mengatur nafasnya.


"Maafkan aku, aku begitu merindukannmu." Raka juga sedikit kesusahan untuk mengatur nafasnya.


"Aku akan mandi sekarang, kalau tidak, mungkin aku bisa gila karena tak mampu menahan keinginanku untuk menyerangmu." Raka menjauh dari Ara.


Ara tertegun dengan kalimat yang baru saja Raka ucapkan. Bagaimana bisa laki-lakinya itu sekarang bisa begitu mencintainya.


"Mandilah, aku akan memesan makanan online saja." Ara tersenyum manis dan pergi keluar kamar.


Raka langsung menyiram seluruh badannya setelah dia masuk kedalam kamar mandi, dia mendinginkan otak kotornya, dia menekan hasrat yang sudah ditahannya sejak mereka sampai kerumah.


"Sadarlah, Raka. Kamu sudah berjanji padanya. Dan kamu yang dibawah, kendalikan dirimu!" dengan geram Raka menunjuk bagian keperkasaannya yang sudah menunjukkan niatnya terlebih dahulu sebelum pemiliknya.


***


"Mau langsung tidur?"


"Iya, aku sungguh lelah dan perutku juga kekenyangan."


"Bagaimana tidak, makanan dua porsi semua masuk kedalam perut kecilmu itu."


Ara tersenyum tanpa dosa, karena melahap dua porsi gulai kambing yang dipesannya tadi. Sedangkan Raka hanya makan sedikit saja karena dia tidak terlalu menyukai bau masakan dari daging kambing.


"Boleh memelukmu?"


"Hanya itu? Tentu saja boleh." setuju Ara.


"Mau yang lain?"


Raka tersenyum lebar mendapati jawaban yang Ara berikan. Saat ini istrinya lebih ceria. Dan dia bisa bersamanya selayaknya suami istri yang sah karena cinta, bukan karena bisnis.


Ara dan Raka langsung terlelap malam itu, mereka berdua tertidur pulas dengan perasaan bahagia dimasing-masing hati mereka. Raka tak pernah melepaskan pelukannya walaupun tertidur pulas.


***


"Mau kemana?" Raka terbangun dari tidurnya dengan mata berat.


"Apa aku membangunkanmu?" Ara sudah bersiap untuk pergi.


"Mau kemana dengan pakaian seperti itu? Cepat ganti bajumu." Raka melangkah meninggalkan tempat tidurnya dan menuju ke Ara bersiap melepas baju yang dikenakannya.


"Tunggu, apa yang kamu lakukan?" Ara menghentikan tangan Raka yang sudah mulai melepas kancing bajunya.


"Jangan pergi keluar dengan baju seperti ini lagi mulai sekarang, aku tak mau milikku dilihat oleh laki-laki lain!"


"Apa yang salah dengan pakaianku, Raka? Aku sudang sering memakainya." Ara berputar memperlihatkan pakaiannya yang menurutnya biasa-biasa saja.


"Sebenarnya dari dulu aku ingin melarangmu memakainya, tubuhmu terlalu seksi menggunakan rok pendek ini, dan bagian atasmu, aku . . ." Raka kesulitan menggambarkan apa yang ada di otaknya.


"Dulu aku tak punya hak untuk melarangmu, tapi sekarang aku adalah suamimu. Suami sebenar-benarnya suami." Raka masih ngotot dengan pendapatnya.


"Apa itu suami sebenar-benarnya suami." Ara mencibir perkataan Raka dengan senyum jahilnya.


"Ayolah, kumohon. Jangan pakai baju seperti ini, paling tidak gunakan baju biasa saja, aku lebih suka."


"Aku bekerja, Raka. Dan kamu pasti tahu jelas, penampilan itu yang utama."


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan bersiap." Raka mengecup kening istrinya dan berlari menuju kamar mandi. Sedangkan Ara hanya terdiam melihat tingkah laku suaminya yang baru ia ketahui, bahwa Raka memiliki rasa cemburu yang besar hanya dikarenakan pakaian yang ia kenakan.