
Emosi Andra tak terbendung lagi setelah mendengar kalimat Raka, dia meletakkan kepala Ara pelan-pelan, dan brak...brak... Tinju Andra langsung melayang bebas kewajah Raka beberapa kali.
"Laki-laki brengsek. Apa yang kau perbuat?" emosi Andra begitu meluap-luap.
Raka yang jatuh tersungkur dengan luka di beberapa tempat diwajahnya, "Ibu seorang ******* dan ayah yang menjual ibunya, bukankah itu begitu menakjubkan?" ejek Raka lagi dan langsung dihadiahi bogem mentah sampai Raka babak belur.
"Andra, cukup!" Ara menguatkan suaranya. "Cukup, Ndra. Tolong bawa aku pergi." pinta Ara. Andra menghampirinya dan langsung menggendongnya setelah memakaikan jas nya untuk menutupi bagian atas yang tidak tertutup selimut.
"Aku pastikan, kau tidak akan bisa menemui Ara lagi, ********." ancam Andra dan dia langsung berlalu dari kamar dengan menggendong Ara yang terkulai lemas dipelukannya.
Raka tersulut emosi melihat adegan itu. Sebenarnya Raka tak tega melakukan semua penyiksaan malam itu, tapi emosi nya menutupi segala akal sehatnya, karena hasutan yang kuat dari sepupunya.
Saat Raka akan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan lukanya, Raka melihat sesuatu berwarna merah di atas seprai kasur yang berwarna putih.
"Apa ini?" Raka menyentuhnya dan terkejut setelahnya.
"Benarkah...ini...ini..." Raka langsung terduduk lemas di ujung ranjang, dia langsung menyadari kesalahan fatal yang telah dia perbuat.
Dia mengingat ingat kejadian semalam saat dia memaksakan kehendaknya pada Ara, memang terasa sempit, tapi dia kira karena Ara mencoba menolaknya.
Ternyata noda merah itu adalah darah keperawanan yang keluar dari tubuh Ara. Raka menyalahkan dirinya, menyalahkan emosinya. Dia telah menyakiti orang yang begitu dicintainya. Raka bukan hanya menyakitinya secara fisik, tapi juga psikisnya.
Raka meratapi kebodohan yang telah ia perbuat. Dia termakan hasutan sepupunya yang memang sedari dulu berusaha menjatuhkannya. Raka langsung bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Andra dan Ara. Tapi sudah tak terlihat sosok mereka.
"Harusnya aku bertanya apa yang terjadi dengannya, bukan langsung menghakiminya." sesal Raka yang menyadari semuanya sudah terlambat.
***
"Gas, carikan keberadaan Ara saat ini!"
"Bukankah bapak beberapa hari yang lalu dengan bu Ara?"
"Ada kesalah fahaman diantara kami, aku tidak bisa menghubunginya beberapa hari ini. Dia juga tidak kembali kerumah."
"Baik pak."
"Tunggu!" cegah Raka saat Bagas melangkah keluar ruangan. "Carilah informasi keberadaan Andra, kemungkinan besar dia bersamanya."
"Baik pak, saya akan laporkan segera."
'Beberapa menit kemudian'
"Pak, keberadaan bu Ara saat ini saya belum bisa mendapatkannya, dan tentang Andra, pameran yang akan digelarnya di Malang sudah di batalkan, dan saya juga belum bisa mengetahui keberadaannya."
Brakk...Raka menghantam meja dengan genggaman tangannya. Dia merasa frustasi tidak bisa menemukan keberadaan wanita yang dicintainya, bahkan dengan seluruh kekuasaannya.
"Ini semua karena Hendra keparat!!! Dia menghasutku dengan sedemikian rupa." emosi Raka begitu memuncak saat mengingat setiap kata hasutan yang ditujukan untuknya.
"Gas, cepat akuisisi semua saham Hendra di perusahaan ini dan ditempat lain. Aku tidak akan membuat hidupnya nyaman didunia ini. Dan jangan sampai dia menginjakkan kakinya lagi ditempat ini!"
Bagas yang jelas dengan perintah pimpinannya langsung mengangguk pasti dan melakukan semua yang diperintahkan. Raka bahkan membuat Hendra tidak bisa membeli saham diperusahaan lain diseluruh negeri.
Kehidupan Hendra kalang kabut dengan tindakan ekstrim yang di ambil Raka, bahkan keluarga besar tidak bisa bertindak apabila Raka sudah mengambil keputusan.