
'Rumah'
"Pulang jam berapa semalam?" Raka bertanya saat gadis itu baru turun dari kamarnya.
"Jam 10 malam. Aku kira kamu sudah tidur, maka itu aku tidak membangunkanmu."
"Duduklah, dan makanlah." Raka menyodorkan sepiring steak dan teman sayurannya yang sudah dipotong-potongkan Raka.
"Steak untuk sarapan?" tanya Ara.
"Aku ingin memakannya."
"Ada perayaan sesuatu dengan makanan ini?"
"Tidak, aku hanya kurang enak badan. Aku ingin makan daging agar bisa kembalikan staminaku."
"Kamu sakit?"
"Aku hanya kurang tidur."
"Setelah makan malam, pergilah bersamaku kedokter. Tak baik kalau berkelanjutan." ajak Ara yang khawatir dengan kondisi Raka.
"Tidak perlu, aku hanya perlu untuk cukup tidur." jawab Raka lemas karena memang istirahatnya yang kurang dan jam kerjanya yang berlebihan menurunkan dengan cepat staminanya.
"Ada yang bisa kubantu?"
Raka terdiam sejenak, dan melanjutkan kalimatnya. "Tidurlah bersamaku." pinta Raka dengan penuh harap.
"Apa??? Kurasa kamu juga gila." bentak Ara.
"Kita sudah bersama hampir 2 bulan, bukankah aku tak pernah menyentuhmu sedikitpun?" jelas Raka.
"Tapi, tidur bersama, agak..."
"Kamu mengajukan bantuan, dan aku memerlukannya. Kita hanya akan tidur, aku janji."
"Apa kita perlu beli obat tidur saja?"
"Lupakan kalau kamu tak mau." Raka bangun dari tempat duduknya.
"Tunggu!!! Hanya tidur bukan?"
"Aku pastikan itu."
Ara tahu jelas dengan resikonya, tapi dia tidak bisa tidur jika menggunakannya. Sebelum turun, dia melilitkan selimut besar kebadannya, dan turun menuju kamar Raka dilantai bawah.
Tok...tok...tok...
"Masuklah!" teriak Raka dari dalam kamarnya.
Ara masuk kedalam kamar Raka yang sebelumnya belum pernah dilihatnya. Kamar itu begitu rapi, dengan dominasi warna biru gelap.
"Kenapa kamu melilit badanmu dengan selimut setebal itu? Kamu akan kepanasan, lepaskan itu. Selimutku ini lebih nyaman."
"Tidak...tidak. Lebih baik kita jangan berbagi selimut yang sama. Bagaimanapun juga kamu laki-laki bagiku."
Raka tersenyum bahagia, dia senang karena Ara melihatnya sebagai laki-laki selama ini. Bukan sekedar teman serumah. Entah kenapa hatinya merasa lega.
"Aku sudah janji denganmu di awal. Naiklah keatas ranjang." Raka menepuk kasur empuk disamping dia berbaring.
Ara naik ke atas ranjang dengan lilitan selimut tebalnya, agak kesusahan berbaring karena ganjalan selimut yang tebal.
"Lepaskan itu!" Raka menarik selimutnya dengan paksa dan membuangnya dilantai. "Kamu akan kepanasan dengan selimut setebal ini!" Ara langsung menangkupkan kedua tangannya melindungi dadanya.
"Ada apa?"
"Kamu jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku bukan sedang menggodamu, ini hanyalah kebiasaanku. Jika aku tidak melakukannya, aku tidak bisa tidur." jelas Ara dengan masih meletakkan kedua tangannya didepan dada.
"Apa? Tidur dengan lilitan selimut tebal?"
"Aku tidak menggunakan bra!" Ara langsung terdiam setelah mengatakannya dan menunggu bagaimana reaksi Raka.
"Hanya karena itu?" Raka memandang lurus ke arah dada Ara.
Ara mengangguk dengan melototkan matanya karena Raka memandangi apa yang saat itu dilindunginya.
"Tidurlah, aku sudah katakan kita hanya tidur. Aku sangat lelah."
Ara akhirnya naik lagi ke atas ranjang, dan berbaring disebelah Raka. Ara memunggungi pria itu, dan memejamkan matanya.
Tak terasa, gadis itu sudah tertidur pulas, dan pria disebelahnya, ternyata masih melebarkan matanya. Dia semakin tidak bisa tidur setelah tahu Ara tidak mengenakan bra nya.
"Bagaimana dia bisa tertidur pulas disampingku dengan keadaanya. Apa dia begitu percaya padaku?" Raka terus mengomel dalam hati. Hatinya tak tenang, dan otak mesumnya setelah sekian lama tiba-tiba terbangun dimalam itu.