
"Boleh aku bertanya sesuatu?" pertanyaan Raka membuyarkan lamunan Ara yang sedari tadi memandang keluar.
"Ada apa?"
"Mmmmm....siapa tadi yang menelponmu?"
"Oh, itu Andra. Dia sahabatku dari kecil. Minggu depan dia akan datang ke Indonesia untuk berkunjung."
"Mengunjungimu?"
"Tentu. Setiap tahun dia melakukan itu."
"Disini dia akan tinggal dimana?" tanyanya lagi penasaran.
"Biasa dia tinggal di hotel Grand Mahkota, atau menginap dirumahku setelah melukisku semalaman."
"Apa!!!" Raka menggenggam erat kemudinya, menahan emosi yang tiba-tiba datang.
"Ada apa, Raka."
"Apa dia tidak punya saudara dikota ini?"
"Kedua orang tuanya berada di Bali. Sebenarnya ada apa, Raka?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya saja karena kamu sekarang tinggal dirumahku, berarti dia tidak akan menginap ditempatmu.
"Tentu saja!. Aku tidak mau mengganggumu dengan kedatangan orang asing."
"Apa dia tahu tentang kita? Maksudku tentang alasan kita bersama?"
"Tentu saja! Dia orang satu-satunya yang tetap bersamaku sejak kecil. Kamu tidak keberatan kan? Dia tidak akan menyebarkannya, aku pastikan dengan nyawaku."
Raka hanya terdiam setelah penjelasan Ara. Dia merasa kalah dalam berbagai hal karena tidak ada perjanjian tertulis yang mengatur keterikatan keduanya. Ara memang berada didalam rumahnya, tapi tidak dengan hatinya.
Dalam perjalanan sampai rumah, Raka terus saja diam tanpa membuka obrolan didalam mobil. Sedangkan Ara tidak menganggapnya sebuah hal yang aneh karena mereka memang belum seakrab itu untuk saling bercerita tentang semua hal yang mereka lalui.
Sesampainya dirumah, Raka langsung masuk kedalam kamarnya, sedangkan Ara duduk di ruang keluarga untuk menonton acara tengah malam. Dia merasa belum mengantuk malam ini, mungkin karena kopi yang bik Ningsih sajikan. Dengan ditemani minuman soda dan beberapa bungkus keripik, Ara masih menonton sampai jam 3 pagi. Dan tertidur disofa dengan televisi masih menyiarkan acaranya.
"Kenapa dia tidur diluar?" batin Raka saat dia keluar kamarnya untuk mengambil minum.
"Bagaimana kalau dia masuk angin?" Raka mematikan tv dan mengangkat tubuh Ara pelan, karena tak mau mengganggu tidurnya. Diangkatnya sampai kekamar tidurnya dilantai atas, dibaringkan dan ditutupinya dengan selimut.
Sejenak Raka memandangi wajah Ara yang tenang dalam tidurnya. Begitu cantik dengan segala kesederhanaannya. Tak perlu neko-neko dengan riasan disana sini. Setelah mematikan lampu utama kamar, Raka menutup pintu kamar dengan tenang.
'Beberapa hari kemudian'
"Pagi, Ara."
"Pagi, Raka."
"Hari ini aku akan kekantor, ada urusan juga dengan client, mungkin aku akan pulang telat."
"Tidak masalah, kerjakanlah semua pekerjaanmu, jangan khawatirkan aku. Aku akan kebandara siang ini."
"Andra?"
"Yup, betul. Aku pergi dulu untuk mampir kegaleri sebentar." tanpa memperhatikan ekspresi Raka yang berubah suntuk, Ara langsung mengambil kuncinya dan melajukan mobilnya ke galeri.
Sedangkan Raka merasakan awal hari yang buruk, membuatnya marah sepanjang hari dikantor. Semua pekerjaan bawahannya salah dimatanya, padahal mereka mengerjakan sesuai dengan biasanya.
'Kantor S&D Group'
"Apakah ada masalah pak?" tanya Bagas yang penasaran dengan bos nya yang selalu marah dalam satu hari ini.
"Tidak apa, aku hanya sedang merasa kurang enak badan."
"Apa yang perlu saya bantu pak?"
Raka terdiam sejenak untuk berfikir, "Apa kita ada acara di hotel Grand Mahkota sore ini?"
"Sore ini jadwal bapak sudah saya cancel semua sesuai permintaan bapak."
"Bagus. Ayo kita sekarang kesana."
Bagas yang bingung dengan perintah pimpinannya, hanya bisa mengikuti Raka dari belakang. Entah kenapa sejak menikah selalu ada yang menjadikan perasaan Raka tak menentu. Terkadang dia akan tersenyum sendiri diruangannya, terkadang juga ada hal seperti hari ini.
Setelah sampai di hotel Grand Mahkota, Raka masuk ke cafe yang berada di lobi hotel tersebut.
"Pak, kalau ingin makan, saya akan pesankan tempat di restaurant hotel ini."
"Tidak perlu, duduklah. Kita hanya akan beberapa menit berada disini. Pesankan saja aku kopi pahit, dan lainnya untukmu."
"Baik pak." Bagas memanggil pelayan dan memesan 2 cangkir kopi pahit. Sedangkan Raka tak henti memandangi orang yang berlalu lalang dilobi hotel.
Dan pemicu harinya yang buruk saat ini telah muncul dihadapannya.