
"Bagas, cepat pesankan tiket pesawat sekarang juga!"
Bagas langsung memesankan tiket ke Malang. Saat Hendra keluar dari ruangan Raka dengan tertawa terbahak-bahak, terlihat Raka sudah diliputi emosi yang besar. Tanpa bertanya, Bagas sudah mengetahui sumber masalahnya dari foto bertebaran di ruangan pimpinannya itu. Disana terpampang beberapa foto Ara dan Andra yang berjalan sambil berangkulan, dan memasuki kamar yang sama.
Tanpa persiapa apapun, Raka langsung terbang ke Malang tanpa ditemani Bagas. Dia merasa harus menyelesaikan masalah pribadinya.
***
'Hotel T Kota Malang'
Raka yang sudah tahu nomor kama Ara, sengaja menunggu gadis itu dilobi, karena tau kamarnya saat ini sedang kosong.
Saat sosok yang dicarinya muncul, dia langsung menghampirinya, dan membuat Ara terkejut.
"Raka? Apa yang membuatmu kesini?"
"Kenapa? Tak suka akan keberadaanku saat ini?" sindir Raka.
"Bukan, bukannya begitu. Nampaknya ada yang harus kita luruskan."
"Tentu saja, aku menanti penjelasanmu sayang." Ara tidak menyukai kalimat Raka yang sinis terhadapanya.
"Tunggu, aku akan mengantar Andra kekamarnya sebentar, tunggulan dikamarku."
"Untuk apa kamu mengantarnya? Apa untuk memberikannya ciuman penyemangat?" Raka terus saja memprovokasi.
"Jaga bicaramu, Tuan. Kami berdua tidak seperti yang kamu pikirkan." tegas Andra dengan suara lantangnya.
"Apa hakmu untuk membuatku menjaga ucapanku, hah? Sedangkan kalian disini sedang berada dengan seseorang yang sudah menikah."
"Dia hanyalah istri bisnismu, Raka." Andra mulai terpancing.
"Ohh, apakah karena itu kalian menjalin hubungan dibelakangku?" emosi Raka bertambah karena terus beradu argumen dengan Andra.
"Cukup kalian berdua, Andra sebaiknya kamu langsung pergi kekamarmu." pinta Ara.
"Raka, pelan, kumohon. Kamu menyakitiku." rengek Ara yang sedari tadi ditarik paksa oleh Raka. Bahkan banyak mata yang memperhatikan, sama sekali tidak membuat Raka melonggarkan pegangannya.
"Aku sudah tak sabar untuk memelukmu, aku sungguh merindukanmu." entah kenapa kalimat Raka masih terdengar sinis ditelinga Ara. Ia tahu, suaminya pasti marah karena hanphonenya hilang, dan dia belum hafal dengan nomor Raka.
"Masuklah!!!" Raka membuka pintu dan melempar Ara kedalam kamar.
"Apa yang membuatmu begitu marah kepadaku?"
"Kau tanya apa, hah???"
"Tak bisakah kamu bertanya kepadaku, Raka?"
"Tak perlu, karena aku sudah mengetahui semuanya."
"Apa!!!"
"Aku akan memberitahumu sekarang." Raka langsung berlari mendekati Ara dan memeluknya, lalu mencium bibir Ara kasar.
"Raka!!! Apa yang kamu lakukan?" Ara sekuat tenaga melepaskan pelukan dan ciuman Raka.
Raka terus membabi buta, setelah selesai dengan ciuman bibirnya, dia turun untuk mencium leher Ara. Ara terkejut, dan terus meronta.
"Teruslah meronta sayang, aku semakin menyukainya."
"Raka, kumohon. Kita bisa membicarakannya." Ara mulai menangis ketakutan.
Raka tak menghiraukan tangisan Ara, dan meneruskan ciuman dileher Ara. Raka mendorong tubuh gadis itu ketembok, memojokkannya. Dan melepas pakaian yang dipakai Ara dengan kasar. Tangannya sekarang menguasai dada Ara yang hanya berlapis bra. Dan tangan satunya mulai merajai bagian bawah Ara.
"Raka, kumohon. Kau membuatku takut." Ara terus menangis memohon, tapi Raka semakin menggebu-gebu.
Ditengah nafasnya yang terengah-engah, Raka menghentikan kegiatannya dan menuju ke sisi tembok lainnya, memukul tembok itu sekerasnya.