
"Wah...wah...wah...anak mama pagi-pagi begini sudah basah saja rambutnya." goda Mama saat tahu Ara turun dengan rambut belum kering sempurna.
"Ihh...mamaaaaa."
"Sini mama keringkan, biar ndak masuk angin nanti." Mama masuk kekamarnya untuk mengambil pengering rambut diikuti Ara dibelakangnya.
"Papa kemana, Ma?" tanya Ara yang sudah duduk didepan mamanya.
"Seperti biasa, Papamu sudah berangkat kekampus pagi tadi."
"Pagi sekali, sampai tak sempat sarapan dengan kita nanti."
"Biasanya juga tidak sepagi ini, tapi mungkin papa ada urusan yang mengharuskannya sepagi ini."
"Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya mama lagi.
"Keadaanku sudah membaik, Ma. Ara sudah tidak perlu minum obat lagi. Terimakasih atas dukungan mama selama ini." Ara sumringah menjawab pertanyaan dari mamanya.
"Tidak perlu berterimakasih, Nak. Mama yang lebih bahagia, karena ada kamu, kehidupan kami lengkap sudah. Memiliki satu anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Sungguh menyenangkan bisa memberikan semua yang kamu butuhkan."
Ara membalik badannya dan memeluk mamanya. Mama yang berdiri menghadap Ara saat ini membalas pelukan itu dan mengusap lembut kepala Ara, penuh kasih sayang layaknya orang tua kandung.
"Ara tak tahu akan jadi apa jika tidak ada Mama, Papa, dan Andra. Terimakasih."
Ara menitikkan air matanya, ada rasa haru disuasana itu. Dia dangat bersyukur mempunyai orang tua angkat yang memberikannya kasih sayang melebihi orang tua kandungnya.
"Sudah. . . Sudah, jangan menangis lagi. Rambutmu sudah kering. Cepat panggil suamimu, ayo kita sarapan pagi." ajak Mama.
***
"Kamu ingin kemana hari ini?" tanya Raka pada isterinya saat mereka sudah berada didalam mobil.
"Ingin kepantai, habis itu belanja, trus kepantai lagi waktu matahari terbenam."
"Padat sekali rencanamu."
"Entah sudah berapa lama aku tak belanja banyak, Mas."
"Belanjalah sepuasnya, ada aku bersamamu."
Ara tersenyum lebar mendapatkan penawaran dari Raka. Mereka mengelilingi beberapa wisata di Bali, dan berbelanja aneka macam hiasan, asesoris yang terbuat dari kayu, dan baju-baju khas Bali. Tak lupa Ara membelanjakan beberapa oleh-oleh untuk karyawannya di Galeri The Florist, oleh-olehnya beberapa minggu yang lalu tidak terlalu bagus karena Ara dan Raka terburu-buru membelinya saat di bandara. Ara juga memilihkan baju khas Bali untuk Bagas, asisten pribadi Raka. Terkhusus Ara membelikan beberapa gaun untuk mama tercinta dan juga mama Raka yang berada di Jakarta, dan juga kopi khas Bali kesukaan papanya.
"Terimakasih, Mas. Hidupku rasanya sangat sempurna setelah bertemu denganmu."
"Aku juga berterimakasih, sayang. Hidupku jauh lebih bahagia saat bersamamu. Ternyata terkadang suatu ketidak sengajaan bisa membawa kita mendapatkan kebahagiaan bersama."
Ara tersenyum saat mengingat bagaimana pertama kali mereka bertemu, "Aku masih ingat bagaimana wajahmu saat pertama kali bertemu denganku."
"Tentu saja, dan aku sebenarnya mengagumimu saat dirimu berjalan kembali kekamarmu, tapi saat itu kusayangkan temperamenmu."
"Maafkan aku, Mas." Ara menggenggam tangan Raka.
"Jangan pernah meminta maaf. Hal itulah yang membuatku bisa bersamamu."
Kemesraan mereka berlanjut diiringi sinar matahari terbenam. Mereka saling memuji satu sama lain. Dan pelayan juga sudah menyuguhkan makanan yang mereka pesan. Hidup memang lebih berarti ketika kita mensyukuri apapun yang kita dapatkan.
Jam delapan malam mereka sampai kerumah. Setelah lelah seharian menghabiskan waktu kebeberapa tempat wisata, Ara dan Raka masuk kekamar dan langsung membersihkan diri. Setelah mandi, kedua insan itu tertidur lelap sampai pagi menjelang.
Liburan Ara dan Raka telah berlangsung selama satu minggu. Waktunya mereka untuk kembali ke Jakarta.
"Araaaaa, apa saja ini nak barang yang kamu bawa?" mama mengomel saat tahu anak perempuannya membawa sampai 6 koper untuk membawa oleh-oleh yang akan dibawa ke Jakarta.
"Mau berapa juta ini untuk bagasinya, Ra?" tambah mama yang terus saja geleng-geleng kepala melihat bawaan Ara.
"Tak apa, Ma. Ara kan tak pernah bawa seperti ini, sekali-kali lah." jawab Ara ceria.
"Tapi, nak. . ."
"Sudah biarkan saja, Ma. Dia kan punya suami, biar suaminya yang memenuhi kebutuhan Ara. Termasuk membayar bagasi pesawatnya." sahut papa saat keluar dari kamarnya karena mendengar isterinya berteriak heboh.
"Tentu, Pa. Serahkan saja semuanya sama Raka." Raka menyombongkan dirinya.
"Ya sudah, suruh Pak Karjo naikkan barang-barang kalian. Nanti hati-hati dijalan ya sayang." Mama memeluk dan mencium pipi Ara.
"Ara dan Mas Raka pamit ya, Ma, Pa."
"Iya, hati-hati ya." Pak Suryawan membalas lambaian tangan Ara dan Raka.
Ara dan Raka terbang kembali ke Jakarta, dimana mereka akan kembali mengawali aktivitas mereka esok hari. Raka tetap dengan kepemimpinannya di perusahaannya, dan Ara mulai kembali ke galerinya.