ONE HEART OF MINE

ONE HEART OF MINE
PENCARIAN



'Rumah'


Nomor yang anda hubungi sedang diluar jangkauan.


Sudah beberapa minggu ini Raka selalu mendapat jawaban yang sama dari nomor Ara. Ponselnya tidak aktif, begitu juga Andra. Keberadaan mereka seperti lenyap ditelan bumi. Raka sudah melakukan pemeriksaan diberbagai tempat, dipastikan kalau mereka berdua masih didalam negeri, tapi dimana?


"Ara...kamu dimana. Aku begitu merindukanmu. Maafkan aku, maafkan aku yang bersalah ini." batin Raka terus menjerit. Minuman keras saat ini adalah temannya dalam keseharian, saat dia merasa putus asa dalam pencariannya, alkohol pelariannya.


Raka tak mengurus penampilannya, perusahaan hampir sebagian besar dihendel oleh Bagas. Bagas dengan rapat menutupi bagaimana kondisi pimpinannya saat ini. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa direktur utama S&D sedang dilanda permasalahn rumah tangga.


Kriing...kringg...


"Hmmm?"


"Pak, ada surat untuk bapak. Saya letakkan dimeja bapak."


"Siapa ini?" tanya Raka dengan setengah kesadarannya.


"Saya Bagas, pak."


"Ohh. Surat apa itu?"


"Itu...hmmmm...surat dari pengadilan pak. Permohonan cerai dari bu Ara." penjelasan Bagas langsung membuat Raka sadar sepenuhnya dari pengaruh alkohol.


"Apa? Bisakah...bisakah kamu lihat ada alamat didalamnya?"


"Alamatnya dari pengacara yang ditunjuk pak. Saya bisa membuatkan janji bertemu jika bapak ingin."


"Buatkan aku janji bertemu dengannya dalam dua jam kedepan, aku akan bersiap." Raka membenahi dirinya, dia tidak mau nampak buruk didepan pengacara yang ditunjuk Ara, dia tidak mau penampilannya mempengaruhi penilaian pengacara akan kasusnya.


Dengan cepat dia menuju kamar mandi, mencukur kumisnya yang mulai tumbuh tak beraturan, merapikan rambutnya yang acak-acakkan. Dan membasuh semua tubuhnya dengan sabun agar tidak tercium bau alkohol dari badannya.


Setelah mendapat kabar dari Bagas tentang tempat pertemuan, Raka langsung melajukan mobilnya ke gedung A ditengah kota Jakarta. Untung saja lalu lintas sedang lengang karena memang masih jam masuk kerja, Raka dengan cepat melalui jalan tanpa kendala.


'Kantor Pengacara'


"Silahkan duduk Pak Raka, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda." sambut pak Jamal yang disambut dengan jabat tangan Raka.


"Langsung saja ke intinya pak Jamal, dimana Ara sekarang?"


"Apa bapak mau perusahaan bapak ini berjalan dengan lancar?"


"Apa pak Raka sedang mengancam saya?"


"Tentu tidak pak, saya hanya bernegosiasi. Saya ingin isteri saya. Bukan surat cerai!" tegas Raka.


"Tapi, bu Ara sudah memberikan hak kuasa kepada saya, pak. Jadi semua urusan mulai saat ini melalui saya."


"Anda yakin client anda, Ara? Bukan.....Andra???"


"Yang menghubungi saya memang pak Andra, tapi secara teknis, client saya adalah bu Ara. Ini semua dibuktikan dengan surat kuasa yang diberikan kepada saya. Ditandatangani langsung oleh bu Ara."


"Apa ada tuntutan dalam permintaan Ara?"


"Tidak ada pak. Bu Ara hanya meminta secepatnya untuk bercerai."


"Bukankah pasti ada mediasi?"


"Betul pak, saat proses persidangan pasti ada mediasi. Tapi bu Ara tidak akan menghadiri sidang perceraian."


"Untuk yang terakhir kali, pak Jamal. Dimana Ara?" sekarang suara Raka mengintimidasi pengacara senior itu.


"Itu... Ah, bagaimana kalau bapak saya beri nomor pak Andra saja. Bapak bisa tanyakan pada dia."


Raka menerima nomor baru Andra dari pak Jamal. Setelah mendengar beberapa penjelasan alasan dari perceraian Ara, Raka hanya terdiam lemas. Tanpa ada tuntutan, tanpa ada pemisahan harta, dan sebagainya, bagaimanapun juga Raka bisa merasakan perhatian Ara yang masih dia berikan tanpa sadar. Dia tak mau membebani Raka walaupun dia telah menyakitinya.


Setelah keluar dari kantor pengacara, Raka bergegas untuk menghubungi nomor yang baru saja ia dapatkan. Tangannya gemetar karena dia akhirnya bisa mendapat secercah harapan karena bisa menemukan Andra.


Tuuuttt....tuuuutttt..... Nada sambung terus bergema karena belum di angkat oleh pemiliknya.


Tuuuttt...tuuuuutttt.... Klik


"Hallo?" kata dari seberang sana.


"Andra, tolong dengarkan aku."


"Raka???"