
"Mama." sapa Ara saat masuk kedalam rumah.
"Hallo, sayang. Bagaimana kabarmu?" Mama memeluk sayang Ara.
"Aku baik-baik saja, Ma. Bagaimana dengan Mama?" tanya Ara, lalu Mama melepaskan pelukannya dan memutar pelan tubuhnya.
"Seperti yang kamu lihat, Mama sangat bugar. Ayo masuk, makanan sudah siap dimeja makan." mama menggandeng tangan Ara.
"Mama tak tanya kabar anak laki-laki mama?" Raka memprotes perhatian mamanya yang hanya tertuju pada Ara.
"Mama tahu kamu sehat, nyatanya kamu bisa sampai disini." jawab mama sekenanya.
"Nah, ayo dimakan. Ada gulai kambing dan sate kambing kesukaan Ara." mama mempersilahkan saat mereka sudah duduk didepan meja makan.
"Ara makan ya, Ma."
"Aku juga mau, sayang." ucap Raka.
"Kamu yakin, Mas? Ini daging kambing ya."
"Yakin. Aku sudah saat ingin memakannya saat kamu mengatakannya siang tadi."
Ara mengambilkan satu mangkuk penuh gulai kambing untuk Raka. Mama dan Ara saling bertukar pandang karena Raka menghabiskan semuanya dalam satu kali makan.
"Keadaanmu baik-baik saja, Nak?" tanya mama khawatir.
"Ada apa dengan kalian berdua. Aku hanya makan saja, tidak ada yang aneh."
"Tapi kamu makan daging kambing dengan porsi banyak, Mas. Bukannya kamu tidak menyukai segala jenis makanan dari daging kambing?" jelas Ara.
"Mulai sekarang aku akan menyukainya." Raka tersenyum kearah Mama dan istrinya yang memandanginya sedari tadi. Raka melanjutkan makannya dengan melahap beberapa tusuk sate kambing.
"Ini nyonya, pudingnya." bibi mengantarkan tiga gelas kecil puding susu dan coklat.
"Coba di makan, mama yang buat sore tadi."
Ara mengambil satu gelas puding susu dan coklat. Saat Ara menyuapkan satu sendok kemulutnya, tiba-tiba ia merasa mual. Ara cepat meletakkan puding itu dan meminum satu gelas air dengan cepat.
"Kenapa, Ra? Apa puding buatan mama begitu tidak enak?"
"Bukan...bukan, Ma. Entah kenapa Ara langsung mual saat memakannya. Maafkan Ara ya, Ma. Ara tak bermaksud."
"Coba Raka, cobalah. Apa memang puding mama tak seenak itu."
Saat Raka menyuapkan satu sendok besar kemulutnya, Raka langsung berlari ke wastafel dan mengeluarkan puding yang masih tertahan dimulutnya.
"Maaf, Ma. Tapi Raka rasa memang puding mama bermasalah."
Mama mencoba puding buatannya dan tak merasakan apa-apa. Hanya ada rasa manis dari coklat dan gurih dari susu murni yang tercampur didalamnya.
"Mama baik-baik saja memakannya. Kenapa kalian seperti ini?" mama terdiam sejenak. "Apa kalian nyidam?"
"Raka? Nyidam? Mama aneh-aneh saja." jawab Raka.
"Bisa saja kamu juga ikut nyidam, Ka. Nyatanya kamu menyukai gulai kambing, padahal makanan itu sebelumnya sama sekali tidak kamu sentuh. Dan saat Ara mual makan puding yang isinya coklat dan susu, kamu juga merasakannya."
"Betulkah itu, Ma?" Raka tersenyum lebar mengharap ucapan mamanya suatu kebenaran.
"Tanggal berapa kamu terakhir datang bulan, Ra?" tanya mama mencoba memastikan.
"Sebentar ya, Ma. Ara cek dulu di HP Ara." Ara membuka aplikasi diponselnya, selama ini dia selalu rutin mencatat jadwal haidnya di aplikasi tersebut.
"Kenapa, sayang?" tanya Raka penasaran.
"Apa aku lupa ya, Mas. Aku rasa aku selalu mencatatnya."
"Aih, Ara. Cepat katakan, Nak. Kapan terakhir kali kamu datang bulan?" mama sudah tak sabar menunggu.
"Kalau di catatan aplikasi Ara, terakhir datang bulan, sudah dua bulan yang lalu. Apa Ara lupa mencatat bulan kemarin ya?"
"Aaaaaaa, Raka. Selamat nak, kamu akan jadi ayah. Dan mama akan jadi nenek." Mama berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Raka. Mereka berdua saling berpelukan karena rasa bahagia, sedangkan Ara masih merasa bingung dengan keadaanya saat itu.
Raka melepaskan pelukanya dari menghampiri Ara. Raka mengangkat tubuh Ara dan memutarnya perlahan.
"Terimakasih, sayang. Terimakasih." Raka begitu bahagia.
"Mas? Aku bingung."
"Oke, maaf karena aku dan mama heboh sendiri. Tapi besar kemungkinan kamu hamil, sayang."
"Betulkah, Mas?" Ara berteriak bahagia.
"Turunkan Ara, Ka. Jangan sampai dia terjatuh. Kandungannya masih muda. Besok periksalah kalian berdua kedokter."
"Tak bisakah sekarang, Ma. Raka sudah tak sabar."
"Ini sudah malam. Bagaimana kalau kita beli tes kehamilan dulu di apotek. Biar lebih jelas hasilnya."
"Boleh, Ma. Raka pergi dulu ya." Raka langsung berlari keluar, tapi ia kembali lagi karena lupa mengecup kening Ara.
"Hati-hati, Mas."
Setelah selesai makan, mama dan Ara menunggu diruang keluarga. Mama begitu bahagia, bahkan mama sudah mengabari besannya yang ada di Bali.
Saat Raka pulang membawa segebok alat tes kehamilan, Ara mengambil salah satu alat tersebut, dan mencobanya di kamar mandi. Saat Ara keluar, mama dan Raka sudah tak sabar menanti kabar dari Ara.
Ara pelan-pelan menunjukkan alat tes kehamilan itu kepada ibu dan anak yang sudah tak sabar menunggu. Dan tes itu menunjukkan dua garis merah yang berarti Ara memang sedang hamil. Raka memeluk istrinya kembali dan menciumnya. Dia sangat bahagia karena keluarga kecilnya akan lengkap dengan adanya anak ditengah kehidupan mereka.
***END***
Cerita tambahan:
"Bagaimana dok, kondisi istri saya?"
"Kondisi kandungan mbak Ara sangat sehat. Posisinya juga sudah bagus."
"Apa sudah terlihat jenis kelaminnya, dok?"
"Sabar, Mas." Ara menahan keinginan suaminya yang ingin bertanya lebih lagi.
"Tak apa, Mbak. Semuanya sangat lumrah apalagi ini anak pertama." jelas dokter yang memaklumi antusias Raka.
"Selamat ya, kalian akan menjadi orang tua dari bayi berjenis kelamin perempuan."
Raka bahagia mendengarnya. Ia mengecup kening Ara yang masih terbaring. Kehidupan mereka menjadi lebih sempurna karena adanya malaikat kecil yang akan segera hadir ditengah-tengah mereka.
Sampailah Ara melahirkan bayi perempuan dengan selamat. Ara bahagia karena Raka selalu berada disampingnya dan dia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Terimakasih telah membaca karya pertama saya. Mohon maaf apabila masih banyak terdapat kesalahan dalam penulisan. Sampai jumpa lagi dikarya novel berikutnya. π€
πΎπΎπΎ One Hearth Of Mine: After The Storm akan segera terbit. Ini versi chat story ya. Ceritanya lebih ringan. Mampir yes!! Terbit tanggal 15 November.